TEROPONG INDONESIA-, SMAN 1 Kota Bandung yang terletak dipusat Kota Bandung, Jl. Ir. H. Juanda No.93, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, berupaya ikut serta mensukseskan program Bandung bersih dari sampah. Pihak sekolah komitmen mengurangi sampah dan mengelolanya secara mandiri.
Tuti Kurniawati, S.Pd., M.Pd Kepala SMA Negeri 1 Kota Bandung menjelaskan sejak terjadinya Bandung darurat sampah, sehingga tumpukan sampah menumpuk diberbagai titik. “Pihak sekolah berinsiatif mengelola sampah secara mandiri. Hingga saat ini dinilai berhasil, kelola sampah mencapai lebih dari 73%. Program tersebut juga bagian dari arahan kantor Cabang Dinas Pendidikan wilayah VII Kota Bandung & Cimahi Dinas Pendidikan Jawa Barat”, jelasnya saat wawancara khusus bersama media cetak dan online Koran SINAR PAGI di ruang kerjanya (3/19/2024)
Menurutnya, awalnya pihak sekolah hanya mengumpulkan sampah saja, lalu ditarik oleh Dinas Kebersihan. Namun saat ini pihak guru, siswa dan semua pihak yang ada di sekolah diarahkan untuk sama-sama mengelola sampah.
“Bayangkan saja di lingkungan sekolah ini ada sekitar 1145 siswa, ditambah guru dan personil lainnya bisa mencapai 1500 orang. Berdasarkan data rata-rata sampah organik mencapai 50 Kg, anorganik 35 Kg dan residu 35 Kg. Totalnya mencapai 120 Kg yang berhasil dikelola mencapai 85 Kg setiap minggunya”,ucapnya.
Tuti Kurniawati, S.Pd., M.Pd mengarahkan untuk mensukseskan komitmen mengelola sampah secara berkelanjutan, pihak sekolah mengevaluasi secara berkala hinga mensosialisasikan programnya pada saat upacara.

Ketua Tim Pengeloaan Sampah SMAN 1 Kota Bandung, Drs. H. Sukadi M.I.L mengungkapkan untuk pengelolan sampah pihak sekolah menyiapkan tempat khusus pembuangan sampah botol plastik. Lalu ditampung dikatagorikan sebagai sampah yang memiliki nilai jual.
“Sedangkan sampah dari daun-daunan disediakan rumah daun. Di tempat itu, nantinya tumpukan sampah akan menyusut secara alami ketika terkena panas atau hujan. Kalau untuk pengomposan dengan sistem ditampung pada polibag yang besar dengan komposisi lapisan 10 cm tanah & 10 cm campurannya dengan kelembaban 40-60%. Hasilnya dapat dimanfaatkan oleh pihak sekolah atau guru untuk mendukung kesuburan tanah di lingkungannya atau dikemas dan dijual,”jelasnya guru PKN yang menjabat ketua RW di wilayahnya & aktif menjadi khotib jum’at di berbagai masjid di h Kota Bandung
Menurutnya untuk memaksimalkan pengelolan sampah kedepan, masih perlu perbaikan sarana misalnya pewarnaan tong penampung sampah yang sesuai standar. Warna hijau untuk sampah organik, kuning untuk anorganik dan merah sampah B3 ( Bahan Beracun Berbahaya), sehingga akan lebih memudahkan mengelolanya.

Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah SMA Tingkat Jawa Barat Periode 2021-2025, Agus Saiful Muhrom S.Pd sempat menyatakan bahwa program pengelolaan sampah di sekolah-sekolah sudah maksimal. Namun yang harus lebih maksimal lagi ialah kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga masing-masing dan limbah dari pabrik-pabrik. Seperti halnya yang perlu didukung oleh semua pihak program citarum harum dengan target sungai-sungai menjadi kembali bersih. Tidak lagi dijadikan oleh masyarakat sebagai tempat pembuangan limbah cair dan sampah rumah tangga. Sehingga mencemari lingkungan atau menyumbat aliran sungai yang menyebabkan banjir bandang.





