Religi  

Sentuhan Ibu dalam Menyiapkan Generasi Tangguh

Penulis: Yasmaidar, SE (Ketua DWP Kemenag Aceh Besar / Kemenag.go.id)

Secara nasional, Hari Ibu diperingati setiap 22 Desember. Namun, hari ibu sedunia atau sering dikenal dengan Mother’s Day diperingati setiap tahun pada pekan kedua bulan Mei. Meskipun sebenarnya kedua peringatan tersebut sama-sama sebagai penghargaan untuk para ibu di berbagai belahan dunia.

Peringatan ini mengajak kita agar terus mengingat peran dan perjuangan seorang ibu. Peringatan ini juga momentum bagi seorang anak untuk mengungkapkan cinta melalui bait-bait doa, mengenang, mengakui dan menghargai jasa para ibu.

Peringatan Hari Ibu menunjukkan betapa pentingnya menghargai dan menjunjung tinggi perjuangan wanita, terutama ibu yang selalu berkorban demi anak-anaknya. Perjuangan dan pengorbanan seorang ibu bermula saat sang anak masih dalam kandungan, dilahirkan, merangkak, belajar jalan sampai berlari.

Aplagi kondisi hari ini, tugas seorang ibu menjadi lebih berat, tidak hanya melaksanakan pekerjaan domestik tapi juga ikut beraktivitas atau bekerja di luar untuk membantu keluarga.

Ibu dalam Islam

Jauh hari sebelum adanya peringatan Hari Ibu, Islam telah lebih dulu mengajarkan untuk menghormati seorang ibu. Dalam sebuah hadits yang diriwayat Anas bin Malik RA, Rasulullah SAW meletakkan pondasi teologis untuk kemuliaan ibu jauh sebelum dunia menetapkan perlunya memperingati Hari Ibu; “Surga itu di bawah telapak kaki ibu.”

Seorang ibu rela berkorban untuk sang buah hati yang ia lahirkan dan rawat sejak kecil. Curahan kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya tentu tak bisa diukur dengan materi.

Ibu rela mengorbankan dirinya untuk sang anak. Ia rela bekerja keras untuk memenuhi setiap kebutuhan anaknya. Dalam kondisi tertentu, seorang ibu bahkan rela berbagi makanan untuk anaknya, meskipun ia dalam kondisi lapar.

Ibu adalah orang pertama yang merasa khawatir di saat sang anak kekurangan materi, makanan atau ketika sang anak jatuh sakit. Seorang ibu akan berusaha merawat sang anak dengan sepenuh hatinya di saat sang anak susah.

Baca Juga :  Terima Cendekiawan Perempuan Mesir Nahla El-Saidy, Wapres Dukung Pembentukan Majlis Ulama Perempuan Global

Ketika menjadi seorang ibu tentu yang paling ditakutkannya adalah meninggalkan anak dalam keadaan lemah, baik secara fisik, aqidah, ilmu maupun ekonomi. Sebabnya, ia berusaha menjadi seorang guru yang baik untuk anak-anaknya, memberikan asupan gizi yang cukup, serta turut menanamkan pondasi ilmu agama dan ilmu pengetahuan untuk anak-anaknya agar kelak ketika ia telah tiada sang anak mampu menghadapi segala problematika hidup.

Seperti Firman Allah Swt dalam surah An-Nisa ayat 9: “Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)-nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.”

Dalam tafsir, istilah “dzurriyyatan dhi’aafa” digunakan untuk menggambarkan generasi yang lemah baik secara fisik, mental, sosial, ekonomi, pendidikan atau spiritual. Kondisi lemah yang menyebabkan mereka tidak dapat melaksanakan tanggung jawab sebagai manusia yang paling penting yaitu beribadah kepada Allah dan menjadi khalifah.

Dalam ayat ini, Allah dengan tegas berpesan kepada generasi yang tua, yaitu: kita para orang tua, agar tidak membiarkan generasi penerus kita sebagai generasi yang tidak berdaya dan tidak melakukan apa yang harus mereka lakukan. Kita diingatkan dengan penuh kehati-hatian agar tidak meninggalkan generasi yang lemah. Artinya, kita diperintahkan untuk mencetak generasi yang tangguh.

Madrasah Pertama Anak​​​​​​​

Ibu merupakan tokoh pertama yang terekam dalam memori seorang anak dan menjadi guru pertama di madrasah kehidupannya. Sehingga, peran ibu sangat strategis dan menjadi garda terdepan dalam membentuk generasi yang tangguh. Dalam pelukannya, generasi hebat tercipta. Tangan lembutnya membentuk karakter dan budi anak, mengajarkan mereka akan nilai dan arah hidup.

Baca Juga :  Belajar Toleransi Ala Rasulullah SAW

Menurut Nurhayati dalam penelitiannya, “Urgensi dan Peran Ibu Sebagai Madrasah Al-Ula dalam Pendidikan Anak”, Madrasah al-ula secara etimologis berarti sekolah pertama dan secara terminologis berarti ibu memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan pendidikan anak-anaknya hingga mereka berhasil.

Menurut Penyair Hafidz Ibrahim, “al-ummu madrasah al-ula, idza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyiban al-a’raq”, ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya, dan jika Anda mempersiapkannya dengan baik, Anda juga akan mempersiapkan generasi yang baik.

Maka, tepatlah ibu diberi nama Madrasah al-Ula, sekolah pertama bagi anak-anaknya karena generasi yang kuat berasal dari tangan seorang ibu.

Tantangan Digital​​​​​​​

Di era perkembangan digital, seorang ibu terus saja menjalankan perannya sebagai orang tua yang senantiasa menjaga dan merawat anak-anaknya. Tugasnya menjadi lebih berat karena harus memantau setiap gerak-gerik anaknya di dunia nyata dan dunia maya.

Anak yang sudah mulai akrab dengan media sosial mengakibatkan intensitas komunikasi dengan orang tua menjadi berkurang, bahkan akan terasa semakin jauh. Tentu diperlukan kontrol dari seorang ibu agar anak tidak kecanduan media sosial bahkan hingga melupakan tugasnya sebagai seorang anak dan juga sebagai seorang siswa.

Di era ini, seorang ibu harus sadar akan kemajuan teknologi. Ia harus mampu memberikan contoh yang baik sehingga generasi milenial akan lebih bijak dalam memanfaatkan media sosial. Jangan sampai komunikasi antar anggota keluarga lebih intens melalui media sosial ketimbang komunikasi secara langsung di dunia nyata.

Orang tua harus mampu menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya. Pendidikan anak tidak akan berhasil dan nasihat tidak akan membekas jika orang tua tidak menunjukkan contoh yang baik dan tulus, terutama ibu. Orang tua tidak dapat mengharapkan anak-anaknya memiliki kemuliaan, keutamaan, dan akhlak terpuji jika mereka tidak memberi contoh yang baik kepada anak-anaknya.

Baca Juga :  3000 Mustahik Produktif Terima Bantuan Rp. 3 Juta Dari Baznas Provinsi Jawa Tengah

Meskipun ayat yang telah disebutkan sebelumnya berisikan peringatan. Namun juga menyebutkan solusi agar kita semua berhati-hati dan fokus pada pembentukan generasi tangguh. Adapun solusinya, pertama, Falyattaqullah (perintah kepada orang tua agar bertakwa). Ini merupakan pondasi yang harus dibangun oleh seorang ibu, yaitu iman dan taqwa.

Kedua, wa quulu qaulan sadiida (perintah kepada orang tua agar berkomunikasi dengan benar). Hendaknya setiap orang tua selalu bertutur kata yang benar, baik, jelas, tegas, fasih, mudah dimengerti anak dan lemah lembut di depan anak-anaknya.

Cara berinteraksi dengan anak-anak adalah salah satu cara mendidik yang harus diperhatikan yaitu Qaulan Sadiida, ia merupakan cara komunikasi yang harus digunakan setiap orang tua.

Ada tiga aspek yang perlu diperhatikan seorang ibu dalam mendidik anak menjadi generasi tangguh. Pertama, menanamkan nilai-nilai agama atau kerohanian dalam diri anak. Kedua, mensosialisasikan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Ketiga, membangun dan mengembangkan kepribadian anak.

Kita semua adalah hasil didikan seorang ibu. Ia dengan penuh sabar menjaga kita sejak dalam kandungan hingga kita menjadi sosok seperti saat ini.

Sungguh perjuangan ibu tak dapat dibalas dengan banyaknya materi yang kita miliki. Maka, berbuat baiklah kepadanya, pintalah yang terbaik untuknya agar ia selalu mendapatkan curahan rahmat Allah.

Ibu telah menuntun kita sebagai individu yang sempurna yang harus berani melanjutkan kehidupan. Doa yang tulus untuk ibu dapat membantu meringankan beban di dunia dan akhirat. Alfatihah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *