Religi  

Gagal Ibadah Haji?… Niatnya Orang Mukmin Itu Lebih Baik Pahalanya Dari Pada Amalannya

Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash RA, Rasul SAW bersabda :
الْعَبْدَ إِذَا كَانَ عَلَى طَرِيقَةٍ حَسَنَةٍ مِنَ الْعِبَادَةِ ثُمَّ مَرِضَ قِيلَ لِلْمَلَكِ الْمُوَكَّلِ بِهِ اكْتُبْ لَهُ مِثْلَ عَمَلِهِ إِذَا كَانَ طَلِيقاً حَتَّى أُطْلِقَهُ أَوْ أَكْفِتَهُ إِلَىَّ
Seorang hamba jika ia berada pada jalan yang baik dalam ibadah kemudian ia sakit maka dikatakan pada malaikat yang bertugas mencatat amalan “Tulislah padanya semisal yang ia amalkan rutin jika ia tidak terikat sampai Aku melepasnya atau sampai Aku mencabut nyawanya. [HR Ahmad]

Ada jamaah haji berangkat dan sesampainya di asrama surabaya ia jatuh sakit lalu dirawat di RS Haji. Karena tidak kunjung membaik akhirnya terpaksa ia tidak diberangkatkan.

Kondisi demikian tentu tidaklah berdosa bagi orang tersebut yang tidak jadi melaksanakan haji tahun ini. Haji memang hukumnya wajib namun kewajiban itu dikhususkan untuk yang memiliki “isthita’ah” (kemampuan). Allah SWT berfirman :
وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا
Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah” [QS Ali Imran : 97]

Mengenai ukuran “istitha’ah” (kemampuan), Ibnu Abbas RA berkata :
أَنْ يَكُونَ قَادِرًا عَىَ: الزَّادِ وَالرَّاحِلَةِ وَأَنْ يَصِحَّ بَدَنُ الْعَبْدِ وَأَنْ يَكُوْنَ الطَّرِيْقُ آمِنًا
Adanya seseorang memiliki bekal dan sarana transportasi, sehat fisiknya serta aman di perjalanan. [I’anatut Thalibin]

Maka dengan demikian, gagalnya keberangkatan haji pada tahun ini bukanlah suatu dosa karena tidak adanya “istitha’ah” dari sisi tersedianya transportasi dan keamanan sehingga calon jamaah tidak perlu sedih. Bukankah dari sisi pahala tetaplah akan didapatkan mengingat para calon jamaah telah berniat melaksanakan ibadah haji namun gagal karena udzur sebagaimana dipahami dari hadits utama di atas dan sebagaimana juga sabda Nabi SAW :
نِيَّةُ الْمُؤْمِنِ خَيْرٌ مِنْ عَمَلِهِ
Niatnya orang mukmin itu lebih baik (pahalanya) dari pada amalannya. [HR Thabrani]

Baca Juga :  Cara Mandi Nabi Dari Janabat

Ibnu Katsir menceritakan bahwa suatu kali Abdullah bin Mubarak bersama rombongannya pergi menempuh perjalanan untuk menunaikan ibadah haji. Di tengah perjalanan, burung yang menemani perjalananya mati dan ia pun memerintahkan untuk membuangnya ke tempat sampah. Tak lama kemudian terlihat seorang gadis keluar dari sebuah rumah yang dekat tempat sampah itu, lalu ia mengambil bangkai burung tersebut dan membungkusnya lalu gadis itu buru-buru kembali menuju rumahnya. Melihat hal itu, Abdullah bin Mubarak mendatangi rumah gadis tersebut untuk menanyakan apa yang diperbuatnya. Gadis tersebut berkata :
أَنَا وَأَخِي هُنَا لَيْسَ لَنَا شَيْئٌ إِلَّا هَذَا الْاِزَارَ وَلَيْسَ لَنَا قُوْتٌ إِلَّا مَا يُلْقَى عَىَأ هَذِهِ الْمَزْبَلَةِ وَقَدْ حَلَّتْ لَنَا الْمَيْتَةُ مُنْذُ أَيَّامٍ وَكَانَ أَبُوْنَا لَهُ مَالٌ فَظُلِمَ وَأُخِذَ مَالُهُ وَقُتِلَ
Di sini, Aku dan saudaraku tidak memiliki sesuatu selain baju ini dan kami tidaklah memiliki makanan selain apa yang di buang di tempat sampah ini. Dan sejak beberapa hari, bangkai itu menjadi halal bagi kami (karena kondisi darurat). Dahulu Ayah kami kaya namun ia didzalimi, hartanya dirampas dan iapun dibunuh.

Maka Abdullah bin Mubarak bertanya kepada pembantunya : Berapakah uang yang kau bawa? Pembantunya menjawab : 1000 Dinar. Abdullah bin Mubarak berkata :
عُدَّ مِنْهَا عِشْرِيْنَ دِيْنَارًا تَكْفِيْنَا إِلَى مَرْوَ وَاَعْطِهَا الْبَاقِيَ فَهَذَا أَفْضَلُ مِنْ حَجِّنَا فِي هَذَا الْعَامِ

Ambillah 20 Dinar sekiranya cukup untuk biaya kita kembali ke kota Maru, Khurasan (sekarang bagian dari Turkmenistan) dan sisanya (980 Dinar) berikanlah kepada gadis ini. Ini lebih utama dari haji kita tahun ini.
Kemudian iapun kembali ke kampung halamannya (tidak jadi berangkat haji). [Al-Bidayah Wan Nihayah]

Gagalnya berangkat haji padahal hati terus merindukan baitullah bukanlah suatu kejelekan bahkan Imam Ghazali menukil perkataan ulama :
تَكُونُ فِي بَلَدٍ وَقَلْبُكَ مُشْتَاقٌ إِلَى مَكَّةَ مُتَعَلِّقٌ بِهَذَا الْبَيْتِ خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ تَكُوْنَ فِيْهِ وَأَنْتَ مُتَبَرِّمٌ بِالْمَقَامِ وَقَلْبُكَ فِي بَلَدٍ آخَرَ
Engkau berada di negara (mu) sementara hatimu merindukan Mekkah dan tertambat dengan Baitullah itu adalah lebih baik bagimu daripada Engkau berada di Mekkah dengan perasan bosan tinggal di sana dan hatimu tertambat dengan negara lain. [Ihya Ulumuddin]

Baca Juga :  Mode Cantik Versi Islami

Dan sebagian salaf berkata :
كَمْ مِنْ رَجُلٍ بِخُرَاسَانَ وَهُوَ أَقْرَبُ إِلَى هَذَا الْبَيْتِ مِمَّنْ يَطُوْفُ بِهِ
Betapa banyak orang yang berada di khurasan (maksudnya di negaranya) sementara ia lebih dekat dengan baitullah ini daripada orang-orang yang thawaf di seputar ka’bah. [Ihya Ulumuddin]

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati kita untuk senantiasa merindukan baitullah apapun kondisinya sehingga meskipun kita berada di negara asal kita secara fisik namun secara spiritual kita seakan-akan berada di sisi baitullah.

Penulis: Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

Pondok Pesantren Wisata
AN-NUR 2 Malang Jatim
Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata
Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *