Puluhan Tahun Berdiri Sekolah Berbasis Asrama Di Jabar Diberhentikan, Di Jateng Dikembangkan

TEROPONG INDONESIA-, Sekolah berbasis asrama dengan sistem pembinaan yang mengutamakan kedisiplinan berlandasan nilai-nila agama, budaya dan pelajaran tambahan agribisnis, kewirausahaan, akuntansi, komputer, bahasa Inggris dan Arab telah berlangsung puluhan tahun di Asrama Bina Siswa Plus Cisarua yang siswanya disekolahkan di SMAN 1 Cisarua.

Lina S.Pd, M.T Plt Kepala SMAN 1 Cisarua Bandung Barat menyampaikan saat ini para siswa tersebut hanya tersisa satu angkatan kelas 12. Karena dua tahun ke belakang tidak ada penerimaan siswa baru untuk kelas asrama tersebut. Padahal biasanya disediakan dua kelas atau 70 siswa. Mereka dari perwakilan kabupaten / kota di Jawa Barat.

Menurutnya para siswa itu sangat memberikan banyak kontribusi prestasi kepada SMAN 1 Cisarua. Secara fasilitas asrama sangat lengkap beserta cek kesehatan dan pengajar tambahan khusus pembelajaran di asramanya. Jadi sangat disayangkan jika programnya tidak dilanjutkan, apalagi oleh provinsi lain program itu menjadi percontohan?… Ungkapnya kepada media cetak dan online Koran SINAR PAGI di ruang kerjanya, setelah membuka acara SmartTren Ramadhan 1445 Hijriah.

Berbeda dengan pemerintah provinsi Jateng justru berupaya memperluas sekolah negeri berbasis asrama. Informasi yang dihimpun koransinarpagijuara.com. Pemerintah provinsi Jawa Tengah terus menambah sekolah khusus siswa miskin, dalam upaya menekan kemiskinan. Khusus SMK Negeri di Jateng, ada 15 sekolah semi boarding yang tahun 2022 mulai dijalankan. Sekolah semi boarding bertujuan memberikan akses layanan pendidikan bagi siswa miskin berprestasi, namun bertempat tinggal jauh dari sekolahan. Siswa tersebut akan bersekolah semi boarding atau dijadikan satu dengan siswa reguler.

Sukirno, guru yang sempat menjadi wakil kepala sekolah bidang sarana dan saat ini menjadi tim program sekolah pusat keunggulan Kemendikbud RI menyampaikan pada tahun 2022, SMKN 1 Kalibagor Banyumas sudah mulai menerapkan program unggulan pemerintah provinsi yang diberi nama sekolah semi boarding. Kouta siswanya ada 15 untuk putra dan 15 putri. Mereka sekarang sudah menempati asramanya.

Menurutnya kriteria siswa penerima program itu. Mereka yang termasuk siswa dari keluarga kurang mampu, jauh dari lingkungan sekolah dan memiliki kemampuan untuk mengikuti agenda pembelajaran yang akan dilaksanakan.

Sukirno juga mengungkapkan pelajar program tersebut akan menetap di sekolah dan mengikuti kegiatan dari pagi sampai malam di lingkungan sekolah. Khusus diwaktu malam ada program ibadah rutin di masjid yang dipandu oleh guru yang ditugaskan ikut serta menjadi pelaksananya.

Pihak sekolah berharap mereka dapat lulus dengan kualitas yang terbaik. Sehingga kedepannya akan membantu perekonomian keluarganya dengan langsung bekerja atau berwirausaha.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *