TEROPONG INDONESIA – Gelanggang Pekan Olahraga Provinsi (PORPROV) XV Jawa Barat 2026 tidak sekadar menjadi panggung pertarungan fisik semata yang riuh oleh benturan tenaga dan teriakan suporter.
Di balik gegap gempita sorak penonton, atmosfer kompetisi yang menguras adrenalin, serta kilau lampu arena, ruang ini sejatinya bertransformasi menjadi laboratorium paling jujur.
Ia menguji ketekunan, konsistensi pembinaan jangka panjang yang kerap tak terlihat, serta disiplin tingkat tinggi yang ditempa bertahun-tahun di ruang-ruang latihan yang jauh dari sorotan kamera.
Di tengah peta persaingan antar-daerah yang kian kompetitif, dinamis, dan keras, Perguruan Seni Bela Diri Pencak Silat Ciung Wanara kembali menegaskan supremasinya sebagai salah satu kawah candradimuka lumbung pencetak atlet bela diri berstandar unggulan.
Alih-alih sekadar mengandalkan kekuatan otot dan stamina mentah, kontingen Ciung Wanara sukses mencuri perhatian publik lewat dominasi total di kategori seni, sebuah arena pertarungan yang dikenal kejam bagi pesilat yang kurang preparasi.
Kategori ini tidak memberi ruang bagi kesalahan sekecil apa pun, ia menuntut tingkat presisi milimeter, estetika gerak yang selaras dengan filosofi leluhur, serta ketahanan mental baja untuk tetap tenang di bawah pengawasan ketat juri.
Keberhasilan menaklukkan kategori ini tentu bukan buah dari kebetulan instan atau kerja semalam. Ia adalah akumulasi dari cucuran peluh latihan berjam-jam, kejelian strategi pelatih membaca peta kekuatan lawan, serta penjagaan ekosistem pembinaan yang berkesinambungan dan konsisten dari tingkat pusat hingga ranting-ranting daerah terpencil.
Namun, di balik gemerlap medali yang dikalungkan di podium kehormatan, terselip sebuah kritik dan evaluasi mendalam mengenai masa depan serta peta kekuatan pencak silat tradisional di era modern yang kian pragmatis.
Sekretaris Umum Ciung Wanara Pusat, Tomi Novirmansyah menilai bahwa dinamika pembinaan atlet saat ini memerlukan sudut pandang yang jauh lebih kritis agar seluruh pemangku kepentingan tidak terjebak pada euforia kemenangan sesaat.
Menurutnya, medali emas yang disabet oleh Risya Gunawan di kategori Tunggal Putri, serta penampilan memukau penuh chemistry dari pasangan kembar Dava Aradea Gunawan dan Deva Aradea Gunawan di kategori Ganda Putra, merupakan manifestasi dari kerja kolektif berlapis yang kerap luput dari sorotan utama media massa.
“Keberhasilan ini adalah bukti nyata bahwa pembinaan yang terstruktur, sistematis, dan berkarakter mampu melahirkan atlet-atlet mandiri yang tangguh di atas gelanggang,” ujar Tomi Novirmansyah, Sekretaris Umum Ciung Wanara Pusat, dalam keterangannya, Minggu (8/11/2026).
Kendati demikian, Tomi dengan tegas mengingatkan bahwa pencapaian gemilang di Porprov XV Jabar 2026 ini bukanlah garis finish atau titik akhir dari sebuah perjalanan panjang. Sebaliknya, capaian ini harus dilihat sebagai titik anjak strategis untuk menatap tantangan yang jauh lebih berat, kompleks, dan kompetitif di masa depan.
“Namun, kita tidak boleh berpuas diri karena tantangan terbesar ke depan adalah bagaimana menjaga konsistensi ini agar pencak silat seni tidak hanya hidup di kejuaraan formal, tetapi juga mengakar sebagai identitas budaya yang melahirkan prestasi berkelanjutan,” tegas Tomi.
Sorotan tajam dan konstruktif juga diarahkan pada capaian medali perunggu yang diraih dengan penuh juang oleh Riska Hermawan serta duet solid Tiara dan Aisyah di kategori Ganda Putri.
Bagi Ciung Wanara, pencapaian di berbagai lapis kategori ini menyuarakan pesan penting tentang pemerataan kualitas teknik yang merata, sekaligus memastikan tidak terjadinya jurang pemisah yang terlalu jauh antara atlet senior berpengalaman dan pelapis kedua.
Di bawah naungan filosofi agung “Budaya Jadi Prestasi, Prestasi Jadi Budaya”, perguruan ini secara konsisten terus berupaya meredefinisi makna sejati dari sebuah kemenangan di atas gelanggang.
“Kemenangan tidak boleh sekadar berorientasi pada perolehan kepingan medali semata, melainkan pada pembentukan karakter, sportivitas, dan integritas mental pesilat muda di tengah gempuran modernisasi budaya global,” imbuhnya.
Menyongsong era olahraga modern yang kian menuntut profesionalisme tinggi, penerapan sains keolahragaan (sport science), serta tata kelola organisasi yang transparan dan akuntabel, Ciung Wanara berkomitmen penuh untuk terus melakukan pembenahan manajerial yang radikal.
Tantangan ke depan tentu tidak semakin mudah, di mana daerah-daerah lain di Jawa Barat juga terbukti kian masif menggenjot program pembinaan dan fasilitas mereka. Oleh karena itu, penguatan mental tanding, inovasi metode latihan berbasis sains, serta riset teknik menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar lagi.
“Tentunya juga memastikan regenerasi atlet berjalan tanpa hambatan demi kejayaan pencak silat Jawa Barat dan Indonesia di kancah yang lebih luas,” pungkas Tomi.





