Dari Desa Untuk Kemandirian Ekonomi, Tenjoayu Kembangkan Budidaya Melon Premium

Teropong Indonesia, KAB. SUKABUMI – Inovasi dan kreativitas dalam mengembangkan potensi lokal menjadi salah satu kunci mendorong kemandirian ekonomi desa. Hal tersebut ditunjukkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Tenjoayu Sukses Mandiri, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, melalui pengembangan budidaya melon premium berbasis greenhouse.

Usaha pertanian modern tersebut mendapat apresiasi dari Wakil Bupati Sukabumi, H. Andreas, saat menghadiri kegiatan panen melon di Tenjoayu Sukses Mandiri Farm, Kampung Tenjoayu.

Menurut Andreas, keberhasilan BUMDes Tenjoayu Sukses Mandiri dalam mengembangkan budidaya melon merupakan bukti bahwa potensi desa dapat dioptimalkan melalui inovasi, pengelolaan profesional, serta perencanaan bisnis yang matang.

Ia menilai keterbatasan lahan bukan menjadi penghalang untuk mengembangkan usaha produktif. Justru, kondisi tersebut harus dijawab dengan kreativitas dan kolaborasi agar potensi ekonomi desa terus tumbuh.

“Ini bisa menjadi ikon. Ke depan, bukan tidak mungkin Cicurug dikenal dengan melon. Potensinya juga bisa dikembangkan untuk mendukung agrowisata dan menggerakkan ekonomi lokal,” ujar Andreas.

Wabup juga mendorong pengembangan budidaya melon melalui kerja sama antardesa, khususnya dengan wilayah yang memiliki ketersediaan lahan lebih luas.

Melalui kolaborasi tersebut, Desa Tenjoayu diharapkan dapat berbagi pengetahuan, tenaga ahli, serta teknologi budidaya kepada desa lain. Dengan demikian, keberhasilan yang telah dirintis tidak hanya memberikan manfaat bagi satu desa, tetapi juga membuka peluang pertumbuhan ekonomi kawasan.

Andreas berharap budidaya melon premium ini dapat menjadi percontohan bagi desa-desa lain di Kecamatan Cicurug sekaligus berkembang menjadi industri pertanian yang memperkuat identitas potensi daerah Kabupaten Sukabumi.

Dua Greenhouse, Potensi Pendapatan Puluhan Juta Rupiah

Direktur BUMDes Tenjoayu Sukses Mandiri, Asep Angga Purnama, menjelaskan bahwa saat ini pihaknya mengembangkan dua unit greenhouse dengan kapasitas sekitar 600 tanaman pada masing-masing unit.

Dua varietas melon yang dibudidayakan adalah Lavender asal Vietnam dan Dalmation. Keduanya dikembangkan sebagai komoditas melon premium dengan sistem budidaya yang lebih terkontrol.

Dari hasil evaluasi usaha, budidaya melon tersebut menunjukkan prospek yang menjanjikan. Pada panen perdana, BUMDes berhasil memperoleh pendapatan sekitar Rp30 juta.

Sementara pada panen kedua, pendapatan ditargetkan meningkat hingga Rp45 juta. Target tersebut didukung pembenahan manajemen pengelolaan serta perbaikan penanganan kendala hama yang sebelumnya dihadapi.

Menariknya, hasil panen melon premium tersebut mendapat respons positif dari masyarakat. Saat ini, pemasaran masih dilakukan secara terbatas di lingkungan sekitar dan seluruh hasil panen dapat terjual hanya dalam waktu dua hari.

“Kami menargetkan pengembangan produksi hingga memenuhi standar minimal ekspor sekitar 20 ton. Dari dua greenhouse, produksi saat ini baru mencapai sekitar dua ton,” papar Asep.

Target tersebut menjadi bagian dari rencana jangka panjang BUMDes untuk meningkatkan kapasitas produksi, memperluas jangkauan pemasaran, serta membuka peluang pasar yang lebih besar.

Membangun Kemandirian dari Potensi Desa

Pengembangan budidaya melon premium menjadi langkah strategis Desa Tenjoayu dalam mengoptimalkan sektor pertanian sebagai salah satu penggerak ekonomi masyarakat.

Melalui pengelolaan BUMDes yang produktif, desa tidak hanya dituntut mampu mengembangkan usaha, tetapi juga menciptakan nilai tambah dari potensi lokal, membuka peluang ekonomi, dan memperkuat ketahanan pangan.

Ke depan, pengembangan usaha ini diharapkan dapat terintegrasi dengan sektor agrowisata sehingga memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.

Desa Tenjoayu sendiri memiliki luas wilayah sekitar 180,793 hektare dengan jumlah penduduk mencapai 8.168 jiwa.

Secara historis, Desa Tenjoayu merupakan hasil pemekaran dari Desa Benda pada Juni 1982 berdasarkan Surat Keputusan Bupati. Pada masa awal pembentukannya, kantor desa sementara berkedudukan di gedung SDN Tenjoayu.

Berdasarkan catatan sejarah desa, E. Subandi merupakan kepala desa pertama yang menjabat sebagai Penjabat Sementara (PJS) Kepala Desa Tenjoayu pada periode 1982–1986.

Kini, setelah lebih dari empat dekade berkembang, Desa Tenjoayu terus berupaya menggali potensi wilayah melalui inovasi ekonomi berbasis masyarakat.

Kehadiran BUMDes Tenjoayu Sukses Mandiri dengan budidaya melon premium menjadi salah satu langkah nyata dalam membangun desa yang produktif, mandiri, dan berdaya saing.

Semangat tersebut sejalan dengan visi Kabupaten Sukabumi, yakni Maju, Unggul, Berbudaya, dan Berkah (Mubarakah). Dengan mengoptimalkan potensi lokal, memperkuat kolaborasi, serta mengembangkan usaha produktif, desa diharapkan menjadi salah satu pilar penting pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sukabumi. (Adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *