Dari Lahan Kritis Menjadi Hutan Hidup Jejak 7E EIGER Nature di Kaki Gunung Gede Pangrango

Keunikan lain hadir melalui jembatan gantung Patalimarga sepanjang 543 meter yang membelah hamparan hijau memberikan pengalaman berjalan di atas kanopi hutan tropis.

TEROPONG INDONESIA – Dulu kawasan ini dikenal sebagai lahan kritis yang terancam penyerobotan dan alih fungsi. Kini lebih dari 8,4 juta semak telah tumbuh kembali dan 6.467 anakan pohon terselamatkan.

Sebanyak 145 spesies fauna kembali teridentifikasi di kawasan yang terletak di Zona Pemanfaatan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan lahan PTPN ini.

Inilah wajah baru EIGER Nature sebuah ekowisata yang tidak hanya menawarkan petualangan tetapi juga membuktikan alam dan ekonomi bisa berjalan beriringan.

EIGER Nature lahir dari keyakinan bahwa petualangan sejati bukan sekadar mencapai tempat baru melainkan menemukan makna dalam setiap langkah.

Berdiri di atas total kawasan seluas 326,89 hektare pengembangannya berjalan sangat tertahan. Koefisien Dasar Bangunan di lahan PTPN saat ini baru sekitar 2,2 persen dan hanya akan mencapai sekitar 9 persen pada tahun 2030 dari batas maksimal 40 persen.

Sementara di kawasan Taman Nasional pembangunan bahkan tidak menyentuh 0,5 persen dari batas yang diizinkan.

Angka ini menunjukkan betapa pelestarian menjadi prioritas utama di tengah pengembangan yang dilakukan secara bertahap dan berjenjang.

Prinsip keberlanjutan menjadi fondasi utama yang melahirkan konsep unik 7E yaitu Ekologi Etnologi Ekonomi Edukasi Estetika Etika dan Entertainment.

Konsep ini memandu setiap langkah pengelolaan agar alam tetap terjaga masyarakat lokal mendapat manfaat nyata dan generasi mendatang tetap mewarisi lingkungan yang sehat. Hasilnya kini terlihat jelas di lapangan.

Sebanyak lebih dari 500 tenaga kerja terserap dan 455 kepala keluarga mendapatkan akses air bersih. Alam pulih dan kehidupan warga sekitar ikut membaik.

Direktur EIGER Nature, Immanuel Wirajaya mengungkapkan, kepercayaan mengelola kawasan ini disertai tanggung jawab besar atas pemulihan lahan yang sebelumnya rusak.

“Kita penjajakan sejak tahun 2017 selama dua hingga tiga tahun melakukan survei sosialisasi dan penanaman pohon baru kemudian memulai pembangunan pada Oktober 2021,” kata Immanuel di lokasi, Senin (19/10/2026)

Immanuel menjelaskan, lahan yang tadinya kritis dan terbengkalai kita pulihkan kembali dengan menanam lebih dari 120.000 pohon tegakan lokal dan endemik serta lebih dari 8 juta semak.

“Di lahan PTPN kami lakukan restorasi sementara di kawasan Taman Nasional kami pegang teguh prinsip konservasi murni tanpa mengubah ekosistem yang ada,” ujarnya.

Ketua Forum Penyelamat Lingkungan Hidup (FPLH) Jawa Barat, Tio Setiowekti turut menyoroti perubahan signifikan yang terjadi di kawasan tersebut dalam beberapa tahun terakhir.

“Sejak pertama kali datang ke sini pada 2019 kondisinya sangat berbeda. Dulu ini lahan terbuka rawan penyerobotan dan bangunan liar,” kta Tio.

Sekarang, sebut Tio, hutan kembali hidup masyarakat sekitar terlibat aktif dan ekonomi berjalan tanpa merusak alam.

Menurutnya, EIGER Nature menjadi bukti nyata bahwa sebuah kawasan bisa dipulihkan sekaligus memberi manfaat ekonomi bagi warga sekitar tanpa harus mengorbankan kelestarian lingkungan.

“Ini patut menjadi contoh bagi pengelola ekowisata lainnya” ungkapnya.

Keunikan lain hadir melalui jembatan gantung Patalimarga sepanjang 543 meter yang membelah hamparan hijau memberikan pengalaman berjalan di atas kanopi hutan tropis.

Lebih dari sekadar destinasi wisata EIGER Nature hadir sebagai ruang pembelajaran dan apresiasi di mana setiap pengunjung diajak untuk tidak sekadar menikmati alam tetapi juga ikut merawatnya. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *