Menjawab Tantangan Ketahanan Pangan Dengan Kearifan Lokal

Oleh: Norma Andina Gumanti, Syahrul Firdaus A. Lesmana*

 

TEROPONG INDONESIA – Ancaman perubahan iklim semakin nyata. Salah satunya tandanya adalah ketidakpastian perubahan cuaca serta perubahan musim.

Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Barat telah melakukan press release terkait musim kemarau di Jawa Barat yang diprediksi lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologis dalam 30 tahun terakhir. Artinya, curah hujan akan lebih rendah dibandingkan rata-rata normalnya.

Selain lebih kering, musim kemarau tahun ini juga diprediksi berlangsung lebih panjang pada sebagian besar wilayah di antaranya Sukabumi, Karawang, Indramayu, dan Kota Tasikmalaya.  Adapun terkait puncak musim kemarau diprediksi akan berlangsung pada Agustus 2026.

Pada press release tersebut, BMKG menyampaikan beberapa rekomendasi menghadapi musim kemarau yang lebih kering dan panjang ini, salah satunya adalah pada sektor pertanian.

Rekomendasinya meliputi penyesuaian kalender tanam, penanaman varietas yang tahan kering serta optimalisasi irigasi. Bagi Jawa Barat yang memiliki jumlah penduduk dan tingkat kerentanan bencana yang tinggi, kondisi kemarau tersebut dapat mengganggu proses produksi dan distribusi pangan yang apabila dibiarkan dapat berubah menjadi krisis pangan.

Ketahanan pangan tidak cukup dipahami sebatas kemampuan memproduksi, tetapi juga sebagai kemampuan menyimpan dan menjaga pangan agar tetap tersedia saat kondisi krisis.

Leuit: Ketahanan Pangan Berbasis Kearifan Lokal

Di tengah ancaman krisis pangan tersebut, Desa Adat Ciptagelar di Sukabumi memiliki sistem ketahanan pangan yang mampu bertahan lintas generasi, bahkan diklaim hingga puluhan atau ratusan tahun.

Kunci dari sistem tersebut terletak pada teknologi penyimpanan pangan berupa leuit yaitu lumbung padi tradisional yang digunakan untuk menyimpan gabah hasil panen.

Penyimpanan dilakukan tanpa listrik, tanpa bahan kimia, dan tanpa orientasi pasar. Sistem penyimpanan gabah di leuit didesain agar membuat gabah yang pertama masuk, akan menjadi yang pertama keluar pula.

Selain itu struktur bangunan leuit juga didesain untuk memaksimalkan potensi sinar matahari sebagai sumber energi sehingga menjaga kekeringan dan kelembapan gabah di dalamnya melalui sistem sirkulasi udara alami.

Prinsipnya energi panas matahari yang terserap ke dalam leuit membuat gabah di dalamnya tetap kering dan kelembaban dari tanah di bawahnya tertahan oleh struktur tatapakan yang terletak pada bagian bawah tiang.

Udara dingin kemudian dialirkan melalui struktur bawah leuit sehingga tidak menimbulkan kelembaban di bagian dalam. Keseimbangan di antara keduanya menghasilkan kestabilan suhu yang memperpanjang umur penyimpanan gabah.

Teknologi penyimpanan Ciptagelar merupakan bagian dari sistem sosial yang mengatur cara pengelolaan bahan pangan. Aturan adat membatasi distribusi, melarang penjualan padi, dan memastikan cadangan pangan tetap tersedia untuk komunitas, terutama saat terjadi krisis.

Dengan cara ini, leuit berfungsi sebagai penyangga pangan sekaligus mekanisme mitigasi bencana akibat perubahan iklim. Sementara itu dalam sistem pangan modern, beras diproses dengan cepat untuk segera dikonsumsi dan dipasarkan.

Di sisi lain, beras adalah bahan pangan yang rapuh dan bila tanpa sekam pelindung, akan mudah rusak oleh kelembaban, jamur, dan serangga. Di wilayah tropis seperti Jawa Barat, beras membutuhkan teknologi tambahan seperti pengering, pendingin, pestisida gudang, dan energi listrik yang stabil.

Ketergantungan terhadap listrik menjadi salah satu aspek kerentanan karena apabila listrik padam akibat bencana maka distribusi beras akan terganggu dan kualitas beras akan mudah rusak.

Kearifan lokal di Ciptagelar menerapkan sistem penyimpanan padi dalam bentuk gabah, lengkap dengan lapisan sekamnya. Sekam ini bukan limbah, melainkan teknologi alami yang melindungi isi padi dari kerusakan.

Gabah-gabah tersebut disimpan di leuit, lumbung padi tradisional yang berdiri seperti rumah panggung. Tanpa listrik, tanpa pendingin, tanpa bahan kimia. Desainnya dibuat untuk memberi ruang bagi udara mengalir alami sehingga kelembaban tetap stabil.

Gabah jauh lebih tahan terhadap perubahan lingkungan dan dapat disimpan dalam waktu sangat lama. Di sinilah prinsip teknologi pangan bekerja yakni dengan memahami sifat bahan, bukan memaksanya tunduk pada mesin.

Leuit bukan sekadar bangunan tua, melainkan teknologi penyimpanan yang efisien dan rendah karbon. Dalam bahasa hari ini, leuit adalah contoh nyata teknologi berkelanjutan. Hal menarik lainnya adalah gabah di Ciptagelar tidak digiling sekaligus.

Gabah hanya akan diolah menjadi beras ketika benar-benar dibutuhkan. Artinya, pangan diproses mengikuti ritme konsumsi, bukan logika penumpukan stok. Cara ini mengurangi pemborosan, menjaga mutu gizi, dan memperpanjang umur simpan. Kearifan lokal ini mengajarkan kesabaran dan kesadaran bahwa tidak semua hal harus tersedia sekarang juga.

Pembelajaran Bagi Desa Lainnya di Jawa Barat

Di tengah krisis pangan dan ketidakpastian iklim, Ciptagelar hadir memberi pelajaran penting bahwa solusi atas ketahanan pangan bukan selalu teknologi modern, melainkan soal cara berpikir tentang waktu.

Dengan menyimpan gabah, masyarakat Ciptagelar sejatinya sedang menyimpan masa depan yang menunjukkan keberlanjutan yang sesungguhnya.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah prinsip teknologi penyimpanan seperti di Ciptagelar dapat diterapkan di desa-desa lain melalui adaptasi nilai dan prinsip dasarnya yaitu penyimpanan jangka panjang, pengelolaan kolektif, serta kemandirian dari sistem energi dan distribusi yang rapuh.

Bagi Jawa Barat, pendekatan ini menjadi angin segar dalam menjawab ancaman krisis pangan yakni dengan memperkuat desa sebagai fondasi ketahanan pangan yang tangguh, berkelanjutan, dan berakar pada kapasitas lokal.

*Tentang penulis: Norma adalah seorang ASN di BPBD Kota Cirebon, Syahrul adalah seorang alumni prodi Agroteknologi di Unversitas Islam Nusantara. Keduanya sedang menempuh pendidikan magister Teknokultur di Institut Teknologi Bandung.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *