Hemat Energi: Keputusan Kecil dari Rumah

TEROPONG INDONESIA – Swasembada energi muncul dalam konteks besar, kedaulatan nasional, transisi energi, hingga penguatan infrastruktur pembangkit. Pusat perhatiannya lebih kepada angka produksi dan Cadangan energi nasional.

Namun, ada satu ruang yang sering luput dari perbincangan tersebut yaitu Rumah. Lebih tepatnya, rumah merupakan ruang domestik yang setiap hari menjadi titik temu antara kebutuhan energi dan kehidupan sehari-hari, yang dalam banyak konteks dikelola oleh perempuan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, LPG merupakan bahan bakar untuk memasak yang paling banyak digunakan rumah tangga Indonesia pada awal 2025.

Di sinilah swasembada energi menemukan wajahnya yang paling konkret. Bukan dalam bentuk statistik, melainkan dalam keputusan-keputusan kecil seeprti menanak nasi dengan rice cooker, menyimpan bahan makanan di kulkas, menyalakan pompa air, atau memilih antara kompor listrik dan gas.

Pilihan-pilihan ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya mencerminkan relasi yang kompleks antara pendidikan keluarga, teknologi, budaya, dan kebijakan.

Saat ini, rumah tangga modern hampir tidak mungkin sepenuhnya lepas dari energi listrik. Penelitian Jumilatun (2025) menunjukkan bahwa konsumsi energi rumah tangga di Indonesia terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk, perubahan gaya hidup, dan peningkatan kepemilikan peralatan listrik. Bahkan pada rumah tangga dengan konsumsi minimal, kebutuhan dasar tetap ada.

Rice cooker bukan lagi barang mewah, kulkas yang menjaga ketahanan pangan harian, pompa air yang memastikan akses terhadap air bersih. Alat pokok yang dimiliki setiap rumah bahkan menjadi standar kebutuhan energi di rumah.

Dalam konteks ini, ajakan untuk mengurangi penggunaan listrik seperti iklan layanan masyarakat “Hemat Energi Hemat Biaya” menjadi slogan popular untuk mengajak masyarakat bijak terhadap penggunaan energi sehari-hari.

Peran Penting Perempuan

Perempuan memiliki peran penting terhadap penghematan energi di tengah keluarga. Mereka bukan hanya pengguna, tetapi juga ikut menjadi pengatur ritme konsumsi energi mulai dari kapan memasak, menyimpan bahan makanan, hingga mengelola peralatan rumah tangga.

Penggunaan alat listrik tetap diperlukan, tetapi dengan kesadaran akan konsumsi. Memasak dalam satu waktu untuk beberapa kali makan, memanfaatkan fitur hemat energi, atau memilih peralatan dengan daya rendah adalah langkah-langkah kecil yang lebih mungkin dilakukan.

Demikian pula dengan jaringan PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) yang telah lama hadir hingga tingkat desa. Dengan struktur yang sudah mapan, organisasi ini memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak swasembada energi di ruang domestik.

Mulai dari pengenalan alat hemat energi, pengaturan konsumsi listrik, hingga pemanfaatan sumber energi alternatif skala kecil. Solusi terhadap persoalan energi yang di mulai dari rumah tangga tidak dapat disederhanakan menjadi pengurangan penggunaan alat elektronik. Pendekatan yang lebih realistis adalah efisiensi, bukan eliminasi.

Peran perempuan menjadi kunci. Bukan dalam arti simbolik, melainkan sebagai aktor nyata yang setiap hari mendidik seluruh anggota keluarga dalam mengelola energi dalam skala paling dasar.

Pengalaman mereka seharusnya menjadi sumber pengetahuan bagi perumusan kebijakan. Apa yang dianggap “hemat” di tingkat nasional, belum tentu relevan di ruang domestik. Sebaliknya, praktik sederhana di dapur bisa menjadi inspirasi bagi strategi energi yang lebih berkelanjutan.

Mulai dari rumah, ajakan dan gerakan perlu digalakkan, tulisan ini merekomendasikan gerakan yang fokus pada keluarga dengan cakupan kecil harapannya dapat berdampak besar. Misalnya program “keluarga hemat energi”.

Program ini dapat menjadi alternatif yang memanfaatkan kearifan lokal, lingkungan sekitar, membuat masyarakat lebih kreatif dan kritis terhadap pemanfaatan sumberdaya di sekitar rumah.

Pemerintah dapat bekerjasama dengan akademisi, peneliti dan praktisi untuk menyelenggarakan program ini dengan mencontoh praktik baik di Bandung dan Jakarta dalam mengelola sumberdaya lingkungan.

Kerjasama yang saat ini sudah terjalin misalnya Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Teknologi Bandung (LPPM ITB) pada tahun 2023 melalui Program Pengabdian Masyarakat Skema Bottom-up memasang teknologi tepat guna berupa unit reaktor biogas untuk mengolah kohe menjadi biogas, yaitu sumber energi bersih yang dapat menggantikan gas LPG di Desa Jayagiri, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Selain itu, gerakan patungan atau urunan untuk pengadaan panel surya (Pembangkit Listrik Tenaga Surya / PLTS Atap) di tingkat RT telah diinisiasi oleh lembaga swadaya masyarakat seperti IESR (Institute for Essential Services Reform) melalui program Kampung Surya dimulai pada tahun 2021.

Proyek percontohan ini berhasil diterapkan di Kampung Jagorawi, RT 001 RW 03, Kebon Pala, Jakarta Timur. Selanjutnya, dengan program ini dapat mendidik seluruh anggota keluarga dalam mengendalikan konsumsi keluarga terhadap energi.

Energi tidak lagi dilihat sebagai isu terpisah, melainkan sebagai bagian dari ekosistem kehidupan sehari-hari. Pada akhirnya, swasembada energi tidak hanya dibangun di pembangkit listrik atau dalam dokumen kebijakan. ***

 

Penulis: 

Nama : Dr. Bunga Aprillia S.AP., M. Si

Afiliasi: Mahasiswa Magister Teknokultur ITB

Email: bunga.april@gmail.com

 

Nama: Dyah Ciptaning Lokiteswara Setya Wardhani, S.E., M.M

Afiliasi: Mahasiswa Magister Teknokultur ITB

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *