Teropong Indonesia, KOTA BANDUNG – Lautan manusia memadati ruas jalan Kota Bandung saat Puncak Kirab Budaya Tatar Sunda Mahkota Ki Ajeg Sunda digelar pada Sabtu (16/5/2026) malam hingga Minggu (17/5/2026) dini hari.
Ribuan warga bertahan hingga larut malam untuk menyaksikan arak-arakan budaya yang menjadi bagian utama rangkaian Munggaran Milangkala Tatar Sunda.
Kirab budaya dimulai dari kawasan Kiara Artha Park menuju Gedung Sate dengan pengawalan ketat dan atmosfer penuh semangat kebudayaan. Sepanjang rute perjalanan, masyarakat tampak antusias menyaksikan rombongan kirab yang membawa simbol-simbol budaya Sunda dan warisan leluhur.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, memimpin langsung kirab dengan menunggangi kuda menuju Gedung Sate. Kehadirannya menjadi pusat perhatian masyarakat yang memenuhi sisi jalan hingga acara selesai sekitar pukul 02.30 WIB.
Setibanya di Gedung Sate, masyarakat disuguhkan pertunjukan budaya dari 27 kabupaten dan kota di Jawa Barat serta 11 delegasi budaya dari luar daerah. Beragam kesenian tradisional, tarian, hingga pertunjukan musik daerah tampil silih berganti dalam suasana yang sarat nuansa kebudayaan Sunda.
Dalam sambutannya, Dedi Mulyadi menegaskan bahwa Kirab Mahkota Ki Ajeg Sunda bukan sekadar seremoni budaya tahunan, melainkan gerakan nyata untuk membangkitkan kembali identitas dan kebanggaan masyarakat terhadap warisan leluhur Sunda.
Menurutnya, kegiatan tersebut sejalan dengan semangat pembangunan Jawa Barat melalui konsep “Lembur Diurus, Kota Ditata”, yakni pembangunan daerah yang tetap berpijak pada nilai budaya dan kearifan lokal.
“Budaya tidak boleh hanya menjadi tontonan. Budaya harus menjadi ruh pembangunan dan identitas masyarakat Jawa Barat,” tegas Dedi.
Ia juga menyoroti perjalanan Mahkota Binokasih yang selama ini melintasi berbagai daerah di Jawa Barat. Menurutnya, setiap perjalanan kirab harus meninggalkan jejak pembangunan budaya yang nyata, termasuk penataan kawasan pelataran budaya di daerah yang dilalui.
Dedi mengungkapkan, jalur kirab dari Kiara Artha Park hingga Gedung Sate akan menjadi bagian dari rencana besar penataan kawasan Pelataran Pakuan Padjadjaran pada tahun 2027. Kawasan tersebut dirancang menjadi ruang budaya yang merepresentasikan sejarah dan kebesaran Tatar Sunda.
Melalui kegiatan ini, Pemerintah Provinsi Jawa Barat ingin memperkuat nilai “Tatali Paranti Karuhun Sunda” sebagai warisan luhur yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda.
Kirab budaya tersebut tidak hanya menjadi ajang pelestarian seni tradisional, tetapi juga simbol kebangkitan budaya Sunda di tengah perkembangan zaman modern.
Antusiasme masyarakat yang memadati jalur kirab hingga dini hari menjadi bukti bahwa budaya tetap memiliki tempat kuat di hati warga Jawa Barat. (Gani Abdul Rahman)





