Teropong Indonesia, KOTA SUKABUMI – Pondok Pesantren Zikir Al-Fath menggelar pelepasan dan doa bersama bagi peserta yang akan bekerja ke luar negeri, Jumat (17/4/2026). Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Wali Kota Sukabumi, Bobby Maulana.
Pimpinan Pondok Pesantren Zikir Al-Fath, KH Fajar Laksana, menyampaikan bahwa dalam satu tahun terakhir pihaknya telah memberangkatkan sekitar 500 orang tenaga kerja ke berbagai negara. Namun, jumlah tersebut masih jauh dari kebutuhan yang ada.
“Dalam satu tahun ini kita sudah memberangkatkan 500 orang. Padahal job order yang tersedia mencapai 3.500. Artinya, kita masih kekurangan sumber daya manusia untuk memenuhi peluang kerja di luar negeri yang sangat besar,” ujarnya.
Ia menjelaskan, peluang kerja tersebut tersebar di berbagai negara seperti Jepang, Turki, Mesir, Kuwait, Dubai, serta kawasan Timur Tengah seperti Mekkah dan Madinah.
Selain itu, peluang juga terbuka di negara-negara Eropa seperti Albania, Slovakia, Serbia, hingga Selandia Baru.
Menurutnya, kebutuhan tenaga kerja di Timur Tengah, khususnya di Mekkah dan Madinah, tetap tinggi, terutama untuk pelayanan jamaah di Masjidil Haram, terlebih menjelang musim haji.
“Kebutuhan tenaga kerja di sana sangat besar karena melayani jamaah dari seluruh dunia. Ini peluang yang harus dimanfaatkan,” jelasnya.
Dari sisi penghasilan, KH Fajar menyebutkan bahwa gaji yang ditawarkan cukup kompetitif dibandingkan di dalam negeri.
Untuk kawasan Timur Tengah seperti Kuwait dan Dubai berkisar Rp15 juta per bulan, Mekkah dan Madinah sekitar Rp6 juta ditambah tip yang cukup besar, Jepang bisa mencapai Rp20 juta, sementara negara Eropa dan Selandia Baru bisa mencapai Rp20 juta hingga Rp50 juta per bulan.
Ia menegaskan bahwa persoalan utama saat ini bukanlah kurangnya lowongan pekerjaan, melainkan keterbatasan tenaga kerja yang siap dan memenuhi kualifikasi.
“Masalahnya bukan job order, tapi SDM. Di Indonesia banyak pekerjaan, tapi mayoritas di sektor informal yang belum menjamin kesejahteraan. Sementara peluang kerja formal dengan gaji tinggi justru banyak di luar negeri,” katanya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Ponpes Zikir Al-Fath membuka program pelatihan gratis bagi calon pekerja migran. Program ini mengusung konsep santri sambil bekerja, di mana peserta wajib mengikuti pendidikan di pesantren sebelum diberangkatkan.
“Kita siapkan semuanya gratis, mulai dari makan, tempat tinggal, hingga pelatihan. Setelah siap, baru kita berangkatkan. Pembiayaan keberangkatan dibantu melalui kerja sama dengan perbankan, dengan jaminan aset pesantren,” ungkapnya.
KH Fajar juga menambahkan, setelah bekerja di luar negeri, para peserta didorong untuk menunaikan zakat, infak, dan sedekah sebagai bentuk kontribusi sosial dan keberlanjutan program.
Selain itu, peserta juga akan melalui masa magang di negara tujuan, seperti di Turki selama tujuh bulan dan di Mesir selama satu tahun, guna menguji kesiapan mental dan etos kerja.
“Yang terpenting adalah kemauan. Selama mau dididik, memiliki akhlak baik, dan siap mengikuti aturan pesantren, peluang kerja ini terbuka lebar,” pungkasnya. (fal)





