Teropong Indonesia, KOTA BANDUNG — Di tengah keterbatasan jumlah penutur bahasa Belanda di Indonesia, minat generasi muda terhadap bahasa ini justru menunjukkan tren yang menggembirakan.
Hal tersebut tercermin dalam penyelenggaraan lomba Pidato bahasa Belanda (Nederlandse Spaak Wedstrijd) yang digelar Penerbit Erlangga dalam Voice Fest 2026 yang di gelar di De Majestic Braga Kota Bandung, 7-8 Februari 2026, yang berhasil menarik mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia.
Meski secara resmi Program Studi Bahasa Belanda hanya tersedia di Universitas Indonesia (UI), Ajang kompetisi ini menjadi bukti bahwa bahasa Belanda masih memiliki daya tarik tersendiri di kalangan akademisi muda.
Indira Ismail mengungkapkan bahwa proses penilaian berlangsung cukup menantang karena kualitas peserta yang relatif merata dan kompetitif. “ Penjurian justru sulit karena hampir semua peserta memiliki penguasaan bahasa Belanda yang baik,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, bahasa Belanda merupakan bahasa asing yang cukup spesifik dan tidak sepopuler bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya. Tantangan terbesar justru dihadapi para peserta, terutama mereka yang tidak memiliki keterkaitan langsung dengan bahasa maupun budaya Belanda dalam kehidupan sehari-hari , “bagi peserta yang tidak bersentuhan langsung dengan bahasa dan budaya Belanda, ini tentu menjadi tantangan besar. Namun mereka mampu membuktikan kemampuan yang luar biasa,” ujar Indira.
Dalam proses penilaian, dewan juri menerapkan sejumlah kriteria, mulai dari penguasaan kosakata, ketepatan tata bahasa, kelancaran dan keefektifan berbicara, hingga kedalaman serta relevansi materi yang disampaikan. Persaingan pun berlangsung ketat karena kemampuan peserta dinilai sama-sama unggul.
Minat mahasiswa terhadap bahasa Belanda juga tercermin dari tingginya jumlah pendaftar Program Studi Bahasa Belanda Fakultas Ilmu Budaya UI. Pada tahun 2025, jumlah pendaftar hampir mencapai seribu orang, sementara kuota penerimaan hanya 78 mahasiswa meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya , ini menunjukkan minat yang luar biasa,” kata Indira.
Indira menegaskan Alasan ketertarikan mahasiswa pun beragam. Sebagian terdorong oleh latar belakang keluarga, seperti orang tua atau kakek-nenek yang pernah menggunakan bahasa Belanda. ” Ada pula yang tertarik mempelajari bahasa asing secara mendalam, serta mereka yang ingin memahami kembali sejarah hubungan Indonesia dan Belanda melalui bahasanya, ” Ucapnya.
Pada kesempatan yang sama, ia juga menyampaikan apresiasi kepada Penerbit Erlangga yang telah menyelenggarakan Voice Fest dengan sub acara Medellin – Stuttsburgh – Westside.
Menurutnya, kegiatan semacam ini tergolong langka dan memiliki kontribusi besar dalam menghimpun mahasiswa yang memiliki kemampuan bahasa Belanda dari berbagai daerah, “Saya sangat berterima kasih kepada Penerbit Erlangga. Ini luar biasa, karena mampu menghadirkan wadah bagi mahasiswa yang berbahasa Belanda. Selamat dan sukses selalu,” tutur Indira.
Ia berharap, kegiatan serupa dapat terus berlanjut di tahun-tahun mendatang dan melibatkan lebih banyak pihak, sehingga dapat semakin memperkuat eksistensi bahasa Belanda di kalangan generasi muda Indonesia.
Di sisi lain Angela Merici Retna Mahasiswa Universitas Indonesia Depok Yang berhasil meraih juara 1 dalam lomba Bahasa Belanda pada acara Voice Fest, menjadi sebuah pencapaian yang awalnya terasa di luar dugaan.
Pada tahap awal mengikuti lomba ini, ia sempat merasa tidak percaya diri dan ragu dengan kemampuan yang ia miliki. ” Puji Tuhan, dukungan dari sesama teman peserta, orang tua, serta beberapa orang yang sangat berarti bagi saya menjadi kekuatan besar yang membuat saya bangkit kembali dan berani melanjutkan apa yang sudah saya mulai, ” ujar Angela.
Menurutnya Ketertarikannya pada Bahasa Belanda sebenarnya sudah muncul sebelum ia memasuki dunia perkuliahan. ” Sekitar satu tahun sebelum kuliah, saya mulai mempelajarinya secara mandiri, yang awalnya hanya berangkat dari rasa iseng dan penasaran. Tidak pernah terpikir sebelumnya bahwa ketertarikan tersebut akhirnya membawa saya mengikuti lomba hingga meraih juara, ” Ungkapnya.
Ia menuturkan Melalui lomba ini, ia merasakan sendiri bagaimana ajang kompetisi dapat meningkatkan minat dan semangat mahasiswa, khususnya mereka yang sedang mempelajari bahasa asing. ” Voice Fest tidak hanya menjadi wadah untuk menunjukkan kemampuan, tetapi juga ruang belajar, bertumbuh, dan saling menyemangati antar peserta” Ucap Angela.
Ia Menegaskan harapannya pengalaman ini bisa menjadi motivasi bagi mahasiswa lainnya untuk tidak takut mencoba dan berani mengambil kesempatan. ” Mengikuti lomba atau berbagai acara serupa bukan hanya soal menang atau kalah, tetapi tentang proses yang membuat kita semakin percaya diri dan semakin fasih dalam berbahasa asing, ” Pungkasnya. (Gani Abdul Rahman)





