Teropong Indonesia KOTA SUKABUMI – Langkah Pemerintah Kota (Pemkot) Sukabumi dalam menangani persoalan sosial kini mulai mendapat perhatian di tingkat nasional. Program inovatif bertajuk “Ayeuna Waktuna Berbagi Berkah: 12 PAS (12 Pemerlu Atensi Sosial)” menjadi sorotan karena pendekatannya yang dinilai humanis dan tepat sasaran.
Berbeda dengan pola bantuan sosial pada umumnya, program 12 PAS mengedepankan metode door-to-door. Wali Kota Sukabumi Ayep Zaki bersama Wakil Wali Kota Bobby Maulana turun langsung menyusuri gang-gang sempit di 31 kelurahan untuk memastikan bantuan tidak hanya tersalurkan secara fisik, tetapi juga benar-benar diterima oleh warga yang paling membutuhkan.
Dalam wawancara di Rumah Dinas Wali Kota, Ayep Zaki mengungkapkan bahwa program tersebut merupakan bentuk akselerasi kebijakan Kementerian Sosial dalam upaya pengentasan kemiskinan ekstrem.
Ia menyebutkan, berdasarkan data yang dimiliki, masih terdapat sekitar 8.900 warga Kota Sukabumi yang masuk dalam kategori kemiskinan ekstrem.
“Saya ingin melihat langsung kondisi di lapangan. Di Sukabumi masih ada gang-gang yang bahkan sulit dilalui sepeda motor, jalannya becek, dan rumahnya tidak layak huni. Kehadiran kami bukan sekadar memberikan bantuan, tetapi juga untuk memetakan program lanjutan seperti perbaikan rumah tidak layak huni (Rutilahu) dan infrastruktur lingkungan,” ujar Ayep Zaki.
Berdasarkan data Dinas Sosial Kota Sukabumi, sejak diluncurkan pada Agustus 2025 hingga Januari 2026, program 12 PAS telah menyentuh 155 penerima manfaat. Mereka berasal dari 12 kategori pemerlu atensi sosial, di antaranya penyandang disabilitas, lansia tunggal, hingga perempuan rentan sosial ekonomi.
Setiap kelurahan mengusulkan lima calon penerima yang telah melalui proses verifikasi ketat guna mencegah tumpang tindih data maupun salah sasaran.
“Hasil kunjungan lapangan membuktikan bahwa penerima yang didata memang benar-benar layak. Kondisi ekonominya sangat memprihatinkan dan mereka membutuhkan kehadiran negara secara nyata,” tambahnya.
Selain membangun sinergi lintas sektor dengan dinas terkait, camat, dan lurah, Wali Kota Sukabumi juga mengajak dunia usaha untuk berperan aktif.
Ia mengimbau para pengusaha di Kota Sukabumi agar menyisihkan minimal satu persen dari keuntungan mereka untuk disalurkan melalui Dinas Sosial.
Langkah tersebut dinilai sebagai solusi kolaboratif berbasis pentahelix, sehingga upaya pengentasan kemiskinan tidak semata bertumpu pada APBD, melainkan menjadi gerakan sosial bersama.
Program 12 PAS dirancang berjalan seiring dengan penanganan isu strategis lainnya, seperti penurunan angka stunting dan pengurangan pengangguran.
Dengan mulai diliriknya program ini oleh media nasional, Pemkot Sukabumi berharap pendekatan penanganan kemiskinan yang humanis ini dapat menjadi role model bagi daerah lain dalam menerjemahkan program pusat hingga ke tingkat akar rumput. (fal)





