Fadli Zon: Situs Bersejarah Sumedang Akan Direvitalisasi, Keraton Sumedang Larang Jadi Prioritas

Fadli Zon saat melaksanakan kunjungan kerja ke Kabupaten Sumedang,

Pewarta : Steven Gervan

Teropong Indonesia – Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menegaskan komitmen pemerintah pusat untuk melakukan aktivasi sekaligus revitalisasi sejumlah situs cagar budaya di Kabupaten Sumedang. Langkah ini dinilai penting untuk menghidupkan kembali nilai-nilai sejarah, sekaligus mendorong pemanfaatan kebudayaan sebagai kekuatan pembangunan daerah. Komitmen tersebut disampaikan Fadli Zon saat melaksanakan kunjungan kerja ke Kabupaten Sumedang, Sabtu (17/1/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Fadli Zon menyebutkan beberapa situs cagar budaya yang akan menjadi prioritas aktivasi dan revitalisasi, di antaranya Situs Gunung Kunci, Gunung Palasari, Makam Pahlawan Nasional Cut Nyak Dien, Makam Pangeran Sugih, serta sejumlah situs bersejarah lainnya yang memiliki potensi untuk ditetapkan sebagai cagar budaya nasional.

“Gunung Kunci dan Gunung Palasari memiliki keterkaitan sejarah dalam konteks Perang Dunia Kedua. Selain itu, Cut Nyak Dien merupakan pahlawan nasional. Ke depan, makam beliau akan kita jadikan cagar budaya nasional. Beberapa situs lain yang memiliki potensi serupa juga akan kita tetapkan sebagai cagar budaya nasional, sekaligus kita revitalisasi agar lebih hidup dan bermanfaat,” ujar Fadli Zon.

Selain situs-situs tersebut, Fadli Zon juga menyampaikan rencana revitalisasi Keraton Sumedang Larang yang berada di Kompleks Gedung Negara Sumedang.

Menurutnya, keraton ini menyimpan banyak peninggalan sejarah penting yang narasinya perlu dihidupkan kembali dan dikenalkan secara luas kepada masyarakat.

“Di Keraton Sumedang Larang terdapat banyak peninggalan sejarah yang sangat penting. Narasi sejarahnya harus kita hidupkan kembali dan perkenalkan, tidak hanya di Sumedang atau Jawa Barat, tetapi juga di seluruh Indonesia,” ungkapnya.

Fadli Zon pun mengaku terkesan dengan salah satu mahakarya Keraton Sumedang Larang, yakni Mahkota Binokasih, yang menjadi simbol penting perjalanan sejarah Tatar Sunda.

“Keraton Sumedang Larang memiliki sebuah masterpiece berupa mahkota emas dengan berat mencapai delapan kilogram. Ini menunjukkan bahwa di masa lalu kita memiliki peradaban dan kekayaan yang luar biasa. Mahkota ini memiliki sejarah panjang, mulai dari era Kerajaan Pajajaran hingga diserahkan kepada Sumedang Larang sebagai penerus kerajaan pusat di wilayah Jawa Barat dan sekitarnya,” tuturnya.

Lebih lanjut, Fadli menegaskan bahwa potensi kebudayaan di Kabupaten Sumedang tidak cukup hanya dilindungi, tetapi harus dikembangkan dan dimanfaatkan secara produktif melalui konsep ekonomi budaya dan industri budaya.

“Potensi budaya di Sumedang ini luar biasa. Sesuai amanat Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan, potensi ini tidak hanya dilindungi, tetapi harus dikembangkan dan dimanfaatkan menjadi ekonomi budaya atau industri budaya. Warisan budaya tak benda di Sumedang juga sangat banyak. Karena itu, kami akan bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Sumedang, Asosiasi Museum Indonesia, serta Balai Pelestarian Jawa Barat untuk berkolaborasi memajukan Sumedang,” jelasnya.

Sementara itu, Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir menyampaikan bahwa Pemerintah Daerah Kabupaten Sumedang telah menetapkan Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2020 tentang Sumedang Puseur Budaya Sunda sebagai landasan penguatan kebudayaan daerah.

“Kami terus berkomitmen merawat kebudayaan, karena merawat kebudayaan berarti merawat jati diri dan peradaban. Nilai-nilai kebudayaan inilah yang akan menentukan masa depan Sumedang,” ucapnya.

Bupati juga menegaskan bahwa pembangunan di Kabupaten Sumedang bertumpu pada tiga fondasi utama, yakni agama, budaya, dan teknologi.

“Agama menjadi penuntun, budaya membumi dan menjadi etos kerja masyarakat, sementara teknologi mengakselerasi pembangunan. Kami juga menggunakan pendekatan pentahelix dengan mengorkestrasi akademisi, pelaku bisnis, komunitas, pemerintah, dan media agar bersama-sama membangun Sumedang,” pungkasnya.

Pada kesempatan yang sama, Sri Radya Karaton Sumedang Larang, PYM H.R.I Lukman Soemadisoeria, menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih atas perhatian serta komitmen pemerintah pusat terhadap pelestarian Keraton Sumedang Larang dan situs-situs budaya di Sumedang.

“Kami menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada Bapak Menteri Kebudayaan Republik Indonesia atas perhatian, kepedulian, dan komitmennya terhadap pelestarian serta revitalisasi warisan budaya di Sumedang, khususnya Keraton Sumedang Larang. Ini menjadi harapan besar bagi kami agar nilai-nilai luhur warisan leluhur dapat terus hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang,” tutur PYM H.R.I Lukman Soemadisoeria.

Senada dengan hal tersebut, Radya Anom Karaton Sumedang Larang, Rd. Luky Djohari Soemawilaga, menegaskan bahwa revitalisasi budaya bukan hanya soal fisik bangunan, tetapi juga menghidupkan kembali ruh dan jati diri kebudayaan Sunda.

“Revitalisasi Keraton Sumedang Larang dan situs-situs bersejarah lainnya bukan semata membangun kembali secara fisik, tetapi juga menghidupkan nilai, makna, dan jati diri budaya Sunda. Kami berharap kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, dan Karaton Sumedang Larang ini dapat menjadi tonggak kebangkitan budaya Sumedang sebagai pusat peradaban Sunda,” ujar Rd. Luky Djohari Soemawilaga.

Dengan komitmen dan kolaborasi lintas pihak tersebut, Kabupaten Sumedang diharapkan mampu memperkuat posisinya sebagai pusat kebudayaan Sunda sekaligus mengembangkan potensi budaya sebagai penggerak pembangunan berkelanjutan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *