Teropong Indonesia, KOTA CIMAHI — Intensitas hujan yang tinggi dalam beberapa hari terakhir memaksa Pemerintah Kota Cimahi bergerak cepat menangani sejumlah bencana hidrometeorologi yang terjadi di wilayahnya. Sejumlah langkah tanggap darurat telah dilakukan, mulai dari evakuasi warga, distribusi bantuan, hingga peninjauan langsung ke titik-titik terdampak.
Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cimahi mencatat, hujan deras telah memicu berbagai kejadian seperti banjir, rumah ambruk, dan tanah longsor. Puluhan kepala keluarga terdampak, dengan estimasi kerugian mencapai puluhan juta rupiah.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Cimahi, Fithriandy Kurniawan, mengonfirmasi bahwa salah satu titik banjir terparah terjadi di Jalan Padasuka Indah, Kelurahan Padasuka. “Genangan air meluas hingga 1.200 meter persegi dan merendam 14 rumah dengan total 38 jiwa,” ujarnya, Minggu (21/9/2025).
Menurutnya, sistem drainase yang tidak mampu menampung debit air akibat curah hujan ekstrem menjadi penyebab utama. Banjir juga terjadi di Jl. H. Usman Dhomiri, namun proses evakuasi dan penanganan di lokasi tersebut sempat terhambat karena akses jalan yang sempit dan tidak dapat dilalui kendaraan besar.
Sementara itu, musibah lain terjadi di Gang Alpakah, Kelurahan Citeureup, Kecamatan Cimahi Utara. Satu unit rumah mengalami kerusakan berat setelah atap yang sudah lapuk ambruk diterpa hujan deras. Luas bangunan yang terdampak mencapai 84 meter persegi dengan kerugian ditaksir sekitar Rp67 juta.
Tak hanya itu, tanah longsor juga terjadi di Jalan Kebon Manggu, Kelurahan Padasuka. Material longsor menimpa sebuah rumah yang dihuni tiga keluarga dengan total 13 jiwa. Meski hanya menimbulkan kerusakan ringan, rumah tersebut mengalami kerugian hingga Rp15 juta.
“Tim kami langsung turun melakukan kajian cepat dan menyalurkan bantuan darurat. Kami juga terus berkoordinasi dengan aparat kelurahan, Tagana, relawan, dan masyarakat setempat,” tambah Fithriandy.
Ia menegaskan, warga yang tinggal di sekitar wilayah rawan bencana diimbau untuk bersiap melakukan evakuasi mandiri jika situasi memburuk. “Kewaspadaan masyarakat dan kesiapan unsur wilayah menjadi sangat penting, apalagi memasuki musim hujan dengan curah tinggi seperti ini.”
Menanggapi situasi tersebut, Wakil Wali Kota Cimahi, Adhitia Yudisthira, turun langsung meninjau beberapa lokasi terdampak pada Rabu (17/9/2025), termasuk rumah yang ambruk di Citeureup dan kawasan RW 28 Cipageran yang sempat dilanda banjir dan merusak sedikitnya 18 rumah warga.
“Kami mendapat banyak keluhan dari warga soal banjir. Ini bukan hanya soal cuaca, tapi soal infrastruktur yang harus segera kita perbaiki bersama,” kata Adhitia. Ia menyebut bahwa sedimentasi yang menutup saluran air menjadi penyebab utama banjir di Cipageran.
Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya sinergi antarwilayah, mengingat sebagian titik banjir berada di perbatasan Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat. “Tanpa kolaborasi lintas daerah, penanganan jangka panjang akan sulit dilakukan,” tegasnya.
Pemerintah Kota Cimahi juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi, terutama menjelang akhir tahun yang umumnya diwarnai cuaca ekstrem.
“Hujan diperkirakan akan terus meningkat. Kita tidak bisa lagi menunggu bencana terjadi baru bergerak. Antisipasi dan kesiapsiagaan harus menjadi budaya,” pungkas Adhitia. (Gani Abdul Rahman)





