Teropong Indonesia, KOTA SUKABUMI – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan siswa – siswi MAN I Kota Sukabumi, yang kali ini dipersembahkan oleh Tim “Pemburu Mimpi” yang berhasil menembus tahap Grand Final (Top 10) dalam ajang bergengsi Samsung Innovation Campus Batch 6.
Dalam Program nasional yang diselenggarakan oleh Samsung Indonesia bekerja sama dengan Hacktiv8 ini, dari lebih 10.000 pendaftar se-Indonesia, sekitar 7.000 peserta diantaranya lolos ke tahap awal.
MAN I Kota Sukabumi yang mengirimkan tiga tim dalam seleksi awal, ketiganya masih masuk dalam stage 3 dan 4, namun hanya 1 tim tersebut yang sukses melaju ke tahap Grand Final (Top 10), yakni Tim “Pemburu Mimpi” yang digawangi oleh empat siswa berbakat, antara lain, Maria Marliana, Putri Aulia, Allayda Zibrilly Lubis dan Siti Marwah.
Keempat siswa MAN I Kota Sukabumi ini menunjukkan dedikasi tinggi dalam mengembangkan solusi berbasis teknologi Internet of Things (IoT) dan Artificial Intelligence (AI) yang berdampak sosial.
Kepala MAN I Kota Sukabumi, Drs. Tatang Moh. Abdurahman, M.Ag., menyampaikan apresiasinya atas capaian tersebut.
“Kami sangat bangga atas pencapaian kedua tim ini. Ini membuktikan bahwa siswa madrasah mampu bersaing dan tampil unggul dalam bidang teknologi dan inovasi di tingkat nasional bahkan global,” ujar Abi Tatang, biasa disapa.
Ia menegaskan bahwa madrasah akan terus mendukung pengembangan potensi siswa, khususnya di bidang teknologi dan inovasi.
“Semoga keberhasilan ini menjadi pemantik semangat bagi siswa lainnya untuk terus bermimpi besar dan berinovasi,” tambahnya.
Sementara Diah Isneni Putri Alidi, S.T. sebagai guru pembimbing tim “Pemburu Mimpi” MAN 1 Kota Sukabumi, mengungkapkan, bahwa keikutsertaan timnya dalam Lomba Smart Innovation Challenge (SIC) Batch 6 merupakan perjalanan panjang yang penuh tantangan sekaligus pembelajaran.
“Sejak bulan Desember di tahap pre-eliminasi, kami—Tim Pemburu Mimpi—telah berusaha dengan sungguh-sungguh merancang dan mengembangkan sebuah karya inovatif yang kami beri nama Dreamsync, yaitu solusi pembelajaran berbasis IoT dan AI yang menggabungkan catatan otomatis, cek fakta cerdas, serta akses belajar tanpa batas,” ungkapnya.
Dikatakan, Inovasi ini hadir bukan untuk menggantikan pena dan buku, melainkan sebagai alternatif inklusif bagi siapa saja yang ingin belajar dengan cara yang lebih adaptif, fleksibel, dan efisien.
“Yang paling membanggakan adalah kedisiplinan dan konsistensi yang ditunjukkan oleh tim sepanjang perjalanan ini. Mulai dari riset, pengembangan, hingga persiapan presentasi, anak-anak menunjukkan semangat belajar yang tinggi dan kesediaan untuk terus berkembang,” tambahnya.
Menurutnya, anggota tim tidak hanya bekerja keras, tetapi juga belajar bekerja cerdas, berkolaborasi, dan bertanggung jawab terhadap tugas masing-masing.
“Kami bangga karena Dreamsync berhasil membawa kami lolos hingga ke grand final, sebuah pencapaian yang tidak lepas dari kedisiplinan dan konsistensi tim dalam bekerja, berinovasi, dan belajar bersama. Motivasi utama kami bukan semata kemenangan, tetapi membuktikan bahwa ide besar bisa lahir dari kerja keras yang konsisten,” ujarnya.
Ia berharap Dreamsync bisa menjadi kontribusi nyata untuk pendidikan Indonesia yang lebih merata, modern, dan memberdayakan.
“Semoga pengalaman ini menjadi batu loncatan menuju karya-karya berikutnya yang lebih besar dan berdampak”, tambah Diah.
Salah satu anggota tim “Pemburu Mimpi”, Maria Marliana, turut membagikan pengalamannya selama mengikuti program.
“Alhamdulillah, program ini sangat membuka wawasan. Kami belajar pemrograman dan teknologi terkini, sekaligus mengasah kemampuan kerja sama dan komunikasi dalam tim,” ungkapnya.
Maria menyatakan rasa terima kasihnya kepada semua pihak yang telah mendukung mereka.
“Alhamdulillah kehendak Allah kami masuk Grand Final (Top 10) ini, tentu kami sangat senang karena mendapatkan pengalaman dan berterima kasih kepada guru pembimbing kami, yang telah mendampingi kami selama kompetisi, juga kepada seluruh staf dan guru dari MAN 1 Kota Sukabumi yang telah mendukung dan membantu kami selama kompetisi,” ungkap Maria.
Ia berharap do’a dan dukungannya dapat menjadi inspirasi bagi siswa-siswa lain untuk terus berusaha menjadi yang terbaik.
“Rasanya senang banget, bener-bener nggak nyangka bisa sampai di Grand Final Samsung Innovation Campus 2025! Dari awal, perjalanan ini tuh nggak gampang, kami ngerasain sendiri gimana susahnya nyatuin ide, bagi tugas, belajar hal-hal baru kayak ngoding, bikin sistem, dan nyiapin alat yang bisa jalan dengan baik,” tuturnya.
Di balik itu semua, lanjut dia, ada banyak diskusi panjang, saling bantu saat ada yang kesulitan, dan rasa tanggung jawab yang bikin kami tetap solid sebagai tim. Tapi justru karena semua proses itu, hasilnya jadi terasa jauh lebih bermakna.
“Motivasi kami simpel tapi kuat : kami pengen nunjukin kalau anak madrasah juga bisa berinovasi, bikin solusi nyata, dan bersaing di tingkat nasional. Lewat Dreamsync, kami pengen bantu dunia pendidikan jadi lebih baik, dan semoga apa yang kami buat ini bisa jadi penyemangat buat teman-teman lain buat terus bermimpi, belajar, dan percaya sama prosesnya,” pungkasnya. (Rifal)





