Oleh: Asep Tapip Yani
(Dosen Pascasarjana UMIBA Jakarta)
Dunia ini penuh keanehan. Salah satu yang paling mencolok adalah betapa seringnya manusia mengabaikan fakta yang jelas-jelas terbukti, tetapi dengan sepenuh hati mempercayai sesuatu yang bahkan belum pasti terjadi. Fenomena ini merajalela dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari politik, ekonomi, sosial, hingga spiritualitas. Apakah ini kesalahan sistem berpikir manusia, atau ada tangan-tangan tak terlihat yang memainkan persepsi kita?
Kepastian yang Diragukan, Ketidakpastian yang Dipuja
Contoh paling sederhana: Matahari terbit setiap pagi. Sudah pasti. Tidak perlu diragukan. Namun, masih ada orang yang ragu dengan fakta ilmiah tentang rotasi bumi. Sebaliknya, ramalan zodiak tentang cinta dan karier; yang bahkan tidak berbasis data ilmiah; bisa dipercaya habis-habisan. Bagaimana bisa sesuatu yang hanya berbasis dugaan lebih diyakini daripada sesuatu yang sudah berulang kali terbukti benar?
Dalam dunia politik, ini lebih parah. Seorang pemimpin yang jelas-jelas melakukan korupsi dan tertangkap basah masih bisa didukung oleh sebagian pengikutnya, sementara seorang kandidat yang rekam jejaknya bersih justru dicurigai sebagai boneka pihak tertentu. Bukankah ini paradoks yang menggelikan?
Ekonomi: Investasi Pasti vs. Janji Kosong
Dalam dunia ekonomi, kita sering mendengar orang takut berinvestasi di sesuatu yang sudah terbukti menguntungkan karena “terlalu berisiko.” Namun, ketika muncul skema investasi yang menjanjikan keuntungan berlipat ganda dalam waktu singkat tanpa risiko, justru banyak yang percaya dan rela menggelontorkan uang mereka. Apakah akal sehat benar-benar sudah punah?
Kita ragu menabung di bank karena takut inflasi menggerogoti nilai uang, tetapi dengan mudah percaya pada aplikasi yang menjanjikan keuntungan 100% dalam sebulan. Ketika akhirnya uang hilang dibawa lari, kita menyalahkan keadaan. Padahal, sejak awal sudah jelas mana yang pasti dan mana yang hanya kemungkinan.
Sains vs. Teori Konspirasi
Bukti ilmiah tentang vaksin sudah ada bertahun-tahun, tetapi tetap saja ada yang lebih percaya pada teori konspirasi bahwa vaksin adalah alat untuk mengendalikan populasi. Sebaliknya, ketika seseorang di internet tanpa latar belakang medis mengatakan bahwa air rebusan daun tertentu bisa menyembuhkan segala penyakit, ribuan orang langsung mencoba tanpa berpikir panjang.
Mengapa kita begitu mudah menyangkal sesuatu yang sudah jelas kebenarannya, tetapi begitu cepat mempercayai sesuatu yang bahkan tidak memiliki dasar kuat?
Ketidakpastian yang Menggoda
Sebenarnya, ada alasan psikologis di balik semua ini. Otak manusia cenderung lebih tertarik pada sesuatu yang misterius dan belum pasti. Ketidakpastian memberi ruang bagi harapan, impian, dan fantasi. Sesuatu yang sudah pasti terasa membosankan, sementara yang masih mungkin terasa lebih menggairahkan.
Coba saja lihat dunia hiburan. Sebuah teori liar tentang keberadaan alien atau dunia bawah tanah di dalam bumi bisa menarik jutaan penonton di YouTube. Tapi dokumenter ilmiah yang menjelaskan bagaimana alam semesta bekerja? Hanya segelintir orang yang tertarik menontonnya.
Teknologi dan Digital: Informasi Valid vs. Hoaks Sensasional
Di era digital, kita semakin sering menemukan fenomena ini. Berita dari media kredibel yang berbasis fakta dan riset bisa diabaikan begitu saja karena dianggap “dibayar oleh pihak tertentu.” Sementara itu, sebuah unggahan viral dari akun anonim yang tidak jelas asal-usulnya bisa langsung dipercaya dan dibagikan ribuan kali.
Kita lebih percaya pada screenshot chat yang beredar di grup WhatsApp daripada laporan resmi dari lembaga penelitian. Padahal, teknologi justru memberi kita akses ke informasi yang lebih akurat jika kita mau mencarinya. Tapi, entah kenapa, kita lebih memilih percaya pada sesuatu yang terdengar lebih “menarik” meskipun tidak masuk akal.
Spiritualitas dan Takdir: Keyakinan Buta vs. Kebijaksanaan Sejati
Dalam hal spiritualitas, fenomena ini juga banyak terjadi. Ada orang yang lebih percaya bahwa hidup mereka akan berubah hanya dengan menggantung jimat tertentu atau mengikuti ritual tertentu yang tidak memiliki dasar jelas. Namun, mereka justru meragukan efektivitas usaha dan kerja keras yang sudah pasti terbukti sebagai faktor keberhasilan.
Takdir memang misteri, tetapi mengabaikan kenyataan bahwa tindakan nyata lebih berdampak daripada sekadar percaya pada sesuatu yang belum tentu benar, hanya akan membuat kita terjebak dalam ilusi yang tidak produktif.
Waktunya Menerima Kepastian
Jika manusia ingin hidup lebih rasional, kita harus belajar menerima fakta, seberapa pun membosankannya. Kita tidak bisa terus-menerus menolak kepastian hanya karena ingin sesuatu yang lebih menarik. Dunia ini sudah cukup rumit tanpa perlu ditambah dengan kepercayaan yang tidak berdasar.
Jadi, mulai sekarang, mari kita ubah cara berpikir kita. Jangan mudah tertipu oleh janji-janji kosong hanya karena terdengar lebih menarik dibanding fakta yang membosankan. Percayalah pada yang sudah pasti, dan berhati-hatilah terhadap yang masih mungkin. Karena sering kali, yang pasti adalah yang benar, dan yang mungkin hanyalah angan-angan belaka.





