Cimahi Selatan Terancam Krisis Air Bersih, Pemkot Hentikan Pembangunan Sumur Artesis Baru

Teropong Indonesia, KOTA CIMAHI – Ancaman kekeringan kembali membayangi Kota Cimahi seiring prediksi musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih panjang hingga akhir 2026. Pemerintah Kota Cimahi mewaspadai potensi krisis air bersih, terutama di wilayah Cimahi Selatan yang selama ini menjadi daerah paling rentan terdampak kekeringan.

Sejumlah kawasan seperti Kelurahan Utama, Melong, dan Leuwigajah hampir setiap tahun mengalami kesulitan memperoleh air bersih ketika musim kemarau tiba. Kondisi tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh minimnya curah hujan, tetapi juga menurunnya cadangan air tanah akibat eksploitasi yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Berdasarkan kajian Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan (PATGL) Badan Geologi, muka air tanah di kawasan Bandung Raya mengalami penurunan antara 60 hingga 100 meter. Penurunan tersebut dinilai menjadi salah satu penyebab utama semakin sulitnya masyarakat memperoleh sumber air, terutama di wilayah padat penduduk dan kawasan industri.

Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) Kota Cimahi, Amy Pringgo Mardani, mengatakan pemerintah mengambil langkah tegas dengan menghentikan pembangunan sumur artesis baru sebagai upaya mengurangi eksploitasi air tanah yang terus meningkat.

Menurut Amy, hasil kajian menunjukkan bahwa pemanfaatan air tanah dalam skala besar, terutama oleh sektor industri, menjadi faktor dominan yang mempercepat penurunan muka air tanah di wilayah Bandung Raya.

“Kalau soal eksploitasi air tanah itu memang berdasarkan kajian beberapa tahun terakhir. Yang paling besar dampaknya berasal dari sektor industri. Karena itu pemerintah sudah tidak melakukan pengeboran sumur artesis baru,” ujarnya saat ditemui, Selasa (30/6/2026).

Sebagai alternatif, Pemerintah Kota Cimahi kini mengarahkan pemenuhan kebutuhan air bersih melalui pemanfaatan air permukaan yang diolah menjadi air minum dan didistribusikan melalui jaringan perpipaan. Strategi tersebut dinilai lebih berkelanjutan dibandingkan terus mengeksploitasi cadangan air tanah.

Amy menjelaskan, pemerintah hanya memiliki kurang dari sepuluh titik sumur artesis yang difungsikan sebagai sumber pasokan air darurat ketika masyarakat mengalami kesulitan memperoleh air bersih.

“Jumlahnya tidak sampai 10 titik. Kebanyakan sumur artesis justru dimiliki sektor industri. Makanya kami lebih mengoptimalkan pemanfaatan air permukaan atau air sungai melalui sistem pipanisasi,” katanya.

Selain menghentikan pembangunan sumur artesis, Pemkot Cimahi juga memperkuat upaya konservasi sumber daya air melalui pembangunan sumur resapan, biopori, serta sumur imbuhan atau sumur injeksi. Langkah tersebut bertujuan meningkatkan daya serap air hujan ke dalam tanah sehingga cadangan air tanah dapat pulih secara bertahap.

Pemerintah berharap berbagai upaya tersebut mampu mengurangi risiko krisis air bersih yang berulang setiap musim kemarau. Di sisi lain, masyarakat juga diimbau menggunakan air secara bijak dan mendukung upaya pelestarian lingkungan agar ketersediaan air bersih tetap terjaga di tengah meningkatnya tekanan terhadap sumber daya air.

Dengan perubahan pola iklim yang semakin tidak menentu dan tekanan terhadap cadangan air tanah yang terus meningkat, pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan menjadi tantangan besar yang harus dihadapi bersama demi menjaga ketahanan air Kota Cimahi di masa mendatang. (Gani Abdul Rahman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *