Ragam  

Soulmate Bukan Tentang Kesempurnaan Pasangan, Tetapi Tentang Belajar Bersama

Penulis: Nur Fadilah (Putri Inspirasi Banyumas Tahun 2020)

Dalam kehidupan rumah tangga, cinta sering kali berubah bentuk. Sebelum menikah seseorang merasa sangat mencintai dan dicintai. Lalu di awal pernikahan, cinta terasa hangat dan menggebu. Namun seiring berjalannya waktu, hadir tanggung jawab, kelelahan, perbedaan kebiasaan, hingga tekanan ekonomi, dan pengasuhan anak. Lama-lama merasa tidak cocok, merasa salah pilih pasangan, merasa tidak dicintai, merasa kewalahan, dan lelah menghadapi pasangannya karena wataknya berbeda. Karena belum belajar dan memahami ilmunya sejak sebelum menikah dan belum sepenuhnya memahami diri sendiri dan pasangannya.

Buku berjudul “Soulmate” karya dr. Aisyah Dahlan ini dapat menyadarkan kita akan betapa indahnya sebuah pernikahan, ada begitu banyak kebaikan dalam pernikahan, membuat semakin cinta pada pasangan, membuat merasa bahagia dalam menjalani rumah tangga, mencintai pasangan karena Allah, dan semakin merasa dekat dengan Allah melalui sebuah pernikahan.

Dalam bukunya ia menjelaskan bahwa memang sejatinya suami istri dipertemukan Allah wataknya cenderung bertolak belakang agar saling melengkapi dan saling mendukung. Ada quotes mengatakan bahwa, “Mitra yang terbaik adalah mitra yang terbalik”.

Contohnya: Suami ekstrovert dipertemukan dengan istri yang introvert. Karena orang ekstrovert merasa nyaman, tentram, dan tenang di dekat orang introvert. Sedangkan orang introvert merasa orang ekstrovert asyik, meyenangkan, dan dapat menghiburnya. Suami sanguinis yang (ceria, spontan hidupnya tanpa aturan), dipertemukan dengan istri melankolis yang (suka murung, overtinking, rapi, terstruktur, berpikiran luas, perfeksionis).

Di titik itulah seseorang mulai memahami bahwa pasangannya merupakan yang dapat melengkapi hidupnya. Soulmate sejati bukan pasangan yang selalu membuat hidup mudah, tetapi pasangan yang tetap bertahan dan saling menguatkan di tengah sulitnya kehidupan. Karena sejatinya pernikahan itu adalah sesuatu yang benar-benar indah, sangat menyenangkan asal mau belajar.

Sejatinya pernikahan itu banyak sekali kebaikannya.

Pertama mengajarkan kita akan kesetiaan. Salah satu faedah mengapa Allah perintahkan kita menikah, karena dengan seseorang yang sudah disahkan, dihalalkan, kita bisa jatuh cinta berulang-ulang dengan orang tersebut. Berulang-ulang artinya tidak selalu seterusnya. Misal saat suami pulang istri tersenyum, tetapi tidak direspon baik, maka selesai. Sebab getaran cinta di otak itu juga bisa padam. Getaran ini mempengaruhi zat-zat kimia dalam otak. Saat seseorang tengah jatuh cinta ia mengeluarkan hormon bahagia (dopamin) sehingga merasa bahagia dan sejahtera. Kemudian di ujung otak limbik bernama cingulate, ini tempat yang membuat mabuk kepayang. Itu yang dirasakan orang sedang jatuh cinta. Ada rasa bahagia, rindu menggebu, selalu mencarinya (seeking bahavior), dan ingin selalu bertemu.

Kedua yaitu kesabaran. Sabar artinya selalu berusaha, ikhtiar, dan selalu bergerak. Ketiga toleransi yaitu saling memahami dan mengerti pasangannya. Keempat penguasaan diri artinya mengendalikan diri dan menenangkan diri saat marah untuk beristighfar. Banyak orang membayangkan soulmate sebagai seseorang yang hadir dengan sempurna, selalu memahami tanpa perlu dijelaskan, dan mampu membuat hidup terasa bahagia setiap waktu. Padahal dalam kenyataannya, hubungan tidak selalu berjalan manis seperti yang dibayangkan. Ada hari-hari penuh tawa, tetapi ada juga hari ketika dua orang sama-sama lelah, diam, bahkan saling mengecewakan.

Dalam berbagai pemaparan dr. Aisyah Dahlan mengenai hubungan dan pernikahan, soulmate bukan hanya soal rasa jatuh cinta, melainkan tentang dua manusia yang mau belajar bertumbuh bersama. Hubungan yang sehat bukan dibangun dari kesempurnaan, tetapi dari kesediaan untuk memahami dan terus belajar bertumbuh.

Dr. Aisyah Dahlan juga banyak menekankan bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan dengan cara berpikir yang berbeda. Dalam banyak kajiannya, beliau sering mengingatkan bahwa pasangan bukan untuk saling mengubah menjadi sama, tetapi untuk saling memahami perbedaan yang Allah ciptakan. Perbedaan ini bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk saling melengkapi. Ketika pasangan memahami perbedaan cara kerja otak, emosi, dan kebutuhan masing-masing, konflik dapat lebih mudah disikapi dengan bijak. Banyak pertengkaran sebenarnya bukan karena tidak cinta, melainkan karena tidak memahami. Soulmate atau belahan jiwa adalah seseorang yang dapat melengkapi dan membuat pasangan menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Menjalani rumah tangga itu bagaikan permainan puzzles yaitu merangkai kepingan-kepingan yang tidak sama sisi-sisinya agar saling mengisi dan terangkai dengan indah dan kuat. Tentunya tidak mudah dengan ukurannya yang luas, maka perlu petunjuk, cara, kesabaran, dan ilmu pengetahuan untuk dapat merangkainya.

Selain merangkainya, kita pun perlu merapikan puzzle rumah tangga dengan mengingat dan sadar kembali apa yang telah dipelajari. Petunjuk ini perlu disepakati dari awal sebelum menikah. Dalam Islam petunjuk itu adalah Al Qur’an, hadits, dan ijma’ (kesepakatan) jumhur ulama mengenai pendapat para ulama maupun penemuan para ilmuwan yang meneliti tentang manusia. Selain itu temuan-temuan ilmuwan yang meneliti tentang sunnatullah yang kemudian kita perlu lihat kembali dan kaji dalam Al Qur’an.

Contohnya dengan membaca sirah Rasulullah SAWsebagai uswatun hasanah. Membaca hadits-haditsnya dan mencontohnya bagaimana beliau bersikap sebagai seorang suami, juga para ummahat bersikap sebagai istri.”Subhanallah, Allah telah memberikan perbedaan-perbedaan laki-laki dan perempuan mengerti tugasnya masing-masing untuk saling mensupport agar rumah tangga menjadi sakinah (tentang, tentram,dan bahagia) serta harmonis”

Menurut dr. Aisyah Dahlan, di tahun 2000-an terungkap ilmu neurosains yang membahas mengenai otak laki-laki dan perempuan, walaupun sejatinya Allah sudah menyampaikan jauh sebelum ilmu ini terungkap yaitu, “… Laki-laki tidak sama dengan perempuan” QS. Ali Imran:36.

Ketika melahirkannya, dia berkata, “Wahai Tuhanku, aku telah melahirkan anak perempuan.” Padahal, Allah lebih tahu apa yang dia (istri Imran) lahirkan. “Laki-laki tidak sama dengan perempuan. Aku memberinya nama Maryam serta memohon perlindungan-Mu untuknya dan anak cucunya dari setan yang terkutuk.”

Ada sebuah organ di dalam otak manusia bernama hipotalamus berbentuk segitiga yang fungsi utamanya pada laki-laki adalah menjaga keamanan. Pada laki-laki dua setengah kali lebih lebar daripada perempuan, maka pada perempuan tidak ada setengahnya dari laki-laki. “Laki-laki (suami) adalah pelindung atas para perempuan (istri) karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari hartanya.”

Quran Surat An Nisa:34 menjelaskan bahwa laki-laki (suami) adalah penanggung jawab atas para perempuan (istri) karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari hartanya. Perempuan-perempuan saleh adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz (tindakan pembangkangan atau ketidakpatuhan istri terhadap suami dalam hal kewajiban rumah tangga). Berilah mereka nasihat, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu,) pukullah mereka (dengan cara yang tidak menyakitkan). Akan tetapi, jika mereka menaatimu, janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka. Sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.

 Sebagai kepala keluarga, suami bertanggung jawab untuk melindungi, mengayomi, mengurusi, dan mengupayakan kemaslahatan keluarga. “Kewajiban ayah menanggung makan dan pakaian mereka dengan cara yang patut”

Quran Surat Al Baqarah: 233 mengarahkan agar Ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Kewajiban ayah menanggung makan dan pakaian mereka dengan cara yang patut. Seseorang tidak dibebani, kecuali sesuai dengan kemampuannya. Janganlah seorang ibu dibuat menderita karena anaknya dan jangan pula ayahnya dibuat menderita karena anaknya. Ahli waris pun seperti itu pula. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) berdasarkan persetujuan dan musyawarah antara keduanya, tidak ada dosa atas keduanya. Apabila kamu ingin menyusukan anakmu (kepada orang lain), tidak ada dosa bagimu jika kamu memberikan pembayaran dengan cara yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Yang kedua fungsi hipotalamus pada laki-laki adalah pusat makan dan minum. Maka istri perlu memperhatikannya. Walau ada istri yang tidak pandai memasak, tetapi harus tahu persis apa yang disukai suaminya maupun anak laki-lakinya. Sediakan saja di meja makan. Pantang memberikan nasihat kepada mereka saat lapar. Karena mereka tidak akan mendengarkan. Sebab hipotalamus mereka lebar.

Ketiga, fungsi hipotalamus adalah pusat tidur. Jangan heran kalau istri sedang ngajak ngobrol, suami malah tidur dan ketika ditanya tidak nyambung, karena memang suami tidak bisa mendengar ketika sedang mengantuk.

Menurut penelitian Prof. Ruben Gur. Ph.D., dari universitas Pennsylvania (ahli neuropsikologi) bahwa otak laki-laki 70% aktivitas elektriknya mati saat tidur, namun pada perempuan 90% tetap hidup. Maka perempuan saat tidur ia terusmenerus menerima informasi dari sekitarnya. Allah memberikan otak seperti itu agar terjagajaga jika anaknya sakit atau menangis di tengah malam. Sedangkan suami tidak akan bangun, agar ia bisa beristirahat dengan baik dan esok pagi dia bisa menjemput nafkah untuk keluarganya. Begitulah keistimewaan Allah menciptakan.

Keempat adalah pusat syahwat. Hal tersebut lebih besar daripada perempuan, bersamaan dengan pusat menjemput rezeki. Maka seorang istri harus paham dan menjaganya dengan baik agar suami semakin baik dalam menjaga keluarganya. Keadaan ini di luar jika ada masalah pada hipotalamus laki-laki. Ada yang syahwatnya menurun sebab usia maupun penyakit.

Berdosa jika menolak ajakan suami kecuali istri mempunyai halangan syar’i: haid, nifas, dan sakit. Namun dapat dilakukan dengan cara lain tanpa melanggar ketentuan Allah.

“Istrimu adalah ladang bagimu. Maka, datangilah ladangmu itu (bercampurlah dengan benar dan wajar) kapan dan bagaimana yang kamu sukai. Utamakanlah (hal yang terbaik) untuk dirimu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu (kelak) akan menghadap kepada-Nya. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang mukmin.” Surat Al-Baqarah ayat 223.

Sedangkan perempuan memiliki corpus callosum yang lebih tebal dibanding laki-laki. Maka perempuan mampu mengerjakan berbagai pekerjaan dalam satu waktu. Sehingga mampu mengurus anak, rumah, memasak, bekerja/berkarir maupun mengurus suami dalam satu waktu. Maka perbedaan yang memiliki fungsnya masing-masing inilah untuk saling mensupport agar rumah tangga menjadi sakinah serta harmonis. Luruskan niat mencintai pasangan karena Allah agar rasa cinta dan kasih sayang semakin bertumbuh bertambah sepanjang masa.

Ucapkan setiap waktu, “Ya Allah, aku semakin mencintai suamiku/istriku karenaMu”. Sambil menyebut namanya atau saat memandangnya. Maka kalimat tersebut masuk dan jalan di badan kita, seluruh sel akan mendapatkn pesan ini. Kecepatan neuron sensorik dalam diri kita adalah 240 km/jam, sedangkan kecepatan neuron motorik 320 km/jam. Sehingga membuat perilaku kita menjadi romantis.

Tersenyum pada pasangan dan berkata lembut. Begitupun sebaliknya ketika kita terlalu sering mengatakan hal-hal buruk, maka yang terjadi dalam tubuh kita menjadi buruk pula seperti marah, kesal, dan berkata kasar membuat konflik dengan pasangan.

Maka Islam mengajarkan kalimat-kalimat dzikrullah, kalimat thayyibah yang mampu menghapus kalimatkalimat keluhan kita. Harmonis artinya komunikasi yang efektif yaitu apabila pesan yang diterima diipahami dan membuat nyaman. Walau komunikasi dalam rumah tangga tidak selalunya nyaman, namun setidaknya setiap hari/seminggu/sebulan ada lebih banyak komunikasi yang membuat paham dan nyaman. Kendalanya karena ada banyak perbedaan, namun harus disadari dan jangan dibesar-besarkan.

Dalam pernikahan ada banyak perbedaan. Perbedaan pertama yaitu tadi, otak laki-laki dan perempuan berbeda maka perlu sama-sama belajar. Kedua perbedaan usia. Sebenarnya tidak masalah, asal mau sama-sama belajar.

Sebab Rasulullah SAW pun menikah dengan istri yang berbeda usia. Kita bisa mencontoh sikapnya. Ketiga perbedaan watak. Padahal sejak awal memangdipertemukan oleh Allah karena perbedaan tersebut tanpa disadari. Keempat perbedaan bakat. Misal istri memiliki bakat kecerdasan naturalis yang lebih senang bertanam dirumah, sedangkan suami memiliki bakat kecerdasan kinestetik yang selalu mau bergerak, jalan, dan olahraga. Kelima, perbedaan budaya. Misal istri orang Bugis, maka suaranya tidak bisa kecil. Sedangkan suami orang Jawa yang nada bicaranya halus sekali. Maka istrinya perlu beradaptasi belajar melembutkan suara ketika berbicara dengan suami dan mertuanya. Keenam perbedaan pengungkapan bahasa kasih sayang. Misal istri mengungkapkannya dengan selalu menggandeng tangan suaminya (physical touch), sedangkan suaminya mengungkapkan dengan memberikan hadiah. Tapi karena tidak belajar ilmunya, maka kita bisa menganggap pasangan kita tidak mencintai dan merasa tidak dicintai, padahal sudah ia ungkapkan.

Maka jangan bandingkan pasangan kita dengan pasangan orang lain yang terlihat romantis, sedangkan hal tersebut tidak dilakukan oleh pasangan kita. Perbanyak bersyukur dengan apa yang dilakukan pasangan kita, bisa jadi hal tersebut pun yang diinginkan oleh orang lain. Ketika kita sudah mengetahui bahasa kasih kita sendiri, yang dapat dilakukan kita yang meminta sendiri, terbuka saja, memberitahu pada pasangan atas keinginan kita agar ia paham dan memberikan sesuai yang kita inginkan.

Dan kita pun bisa bertanya secara langsung pada pasangan apa yang ia inginkan. Dengan demikian kita dapat membangun hubungan yang romantis sesuai yang diharapkan. Romantis itu berbeda-beda. Karena romantis itu berdasarkan watak yang dimiliki pasangan dan bahasa pengungkapan kasih sayang yang dia miliki. Berbicara kepada suami ada caranya, walaupun istri sedang jengkel. Laki-laki memang makhluk ego tinggi sehingga ia sulit mengatakan maaf, sebab hipotalamusnya lebar.

Dalam ilmu neurolinguistik program, atau ilmu tentang pembicaraan atau ilmu otak, kadang-kadang apa yang laki-laki katakan bukan itu maksudnya. Tapi dia cetuskan perkataan itu. Maka itulah yang membuat istri sedih. Jika suami ekstrovert terkadang ia tidak tahu bahwa perkataannya membuat istrinya tersinggung.

Tetap mohonkan pada Allah untuk memaafkan suami ketika ada hal-hal yang kurang baik terhadapnya. Tetap harus memakai adab musyawarah, berbicara lembut padanya, buat kesepakatan (negosiasi) waktu bicara. Kemudian ketika berbicara kepada suami sebentar saja, karena laki-laki tidak suka lama-lama. Hindari kontak mata, karena laki-laki kurang menyukainya, maka ia yang akan melihat wajah istrinya yang cantik. Dengan begitu suami akan mengerti. Ketika suami pulang bekerja jangan langsung ajak bicara. Sambut saja dengan baik dengan senyum ceria, sediakan air hangat untuk mandi, sediakan minum dan makanan saja di meja. Biarkan ia mendekat setelah ia melepas penat. Istri jangan banyak bicara dan perlu mengatur nada bicara, terutama pada suami yang temperamen. Ajak bicara lembut saat waktu yang tepat. Utarakan bahwa istri merasa sangat sedih kepadanya, maka suami akan mengerti.

Kemudian banyak berdoa agar hati suami dilembutkan. 95% suami cenderung tidak mengatakan “I love you”, survei membuktikan hanya sedikit suami yang mengatakannya. Itu suami yang telah belajar cara Rasullullah, ketika ia seorang muslim. Sebab banyak suami yang tidak belajar, maka istri tidak perlu sedih dan tidak perlu merasa tidak dicintai. Karena suami rata-rata minim bicara, sebab memang program bahasa bicaranya hanyadi otak sebelah kiri belakang. Dengan rata-rata jumlah komunikasi 7000 kata/hari. Tetapi suami yang watak pembicara 9000 kata/hari. Namun sudah habis saat ia bekerja, sehingga di rumah ia minim bicara.

Sedangkan pada perempuan ada di otak kiri dan kanan belakang 20.000 kata/hari, kalau istri pendiam 16.000 kata/hari. Tetapi istri yang banyak bicara 24.000 kata/hari. Jika komunikasinya kurang, maka tidurnya bisa tidak nyenyak. Dalam mata perempuan ada retina bernama sel kerucut lebih banyak dibanding laki-laki. Sudut mata perempuan luas, maka walau ia menghadap ke depan ia mampu melihat kanan kiri. Maka lebih cocok untuk pekerjaan indoor atau bisa dikatakan baik sekali dalam menjaga sarang (rumah). Namun laki-laki memiliki pandangan panjang ke depan atau mata pemburu (mata hunter) sehingga di luar rumah matanya amat awas. Saat menyetir walau tempat tujuan masih jauh ia akan berkata bahwa sudah kelihatan, sedangkan istri tidak bisa melihatnya.

Namun ia sering bermasalah dalam rumah, misal saat mencari barang walau ada di sampingnya ia takkan bisa melihat, sehingga istri yang harus mencarikannya. Karena pandangan laki-laki lurus ke depan. Saat anak sakit, istri merasa sedih, sejatinya suami pun merasakan sedih. Istri sering kali mengatakan bahwa suaminya tidak peka, tidak ada perasaannya, tidak kaget, tidak panik, dan tidak terlihat ekspresinya.

Padahal laki-laki sebenarnya lebih cepat merespon daripada perempuan. Tetapi yang membuat ekspresinya tidak terlihat adalah otot wajah laki-laki lebih tebal dari perempuan karena hormon testosteron, ekspresinya datar saja.

Berbeda dengan perempuan yang ekspresi wajahnya selalu berubah setiap saat, itulah yang membuat perempuan terlihat, cantik, menarik, dan asyik bagi laki-laki. Sering puji dan berterima kasih bentuk menghargai apapun yang telah suami berikan. Sebab desakan biologis suami adalah mencukupi kebutuhan biologis istrinya. Dan penghargaan yang diberikan istri adalah merupakan keberhasilan bagi suami.

Suami yang kodratnya ingin mencukupi kebutuhan istri. Ketika ia mencukupi, sudah berusaha mencukupi, maka istri harus memberikan penghargaan. Cukup berkata terima kasih. Jika istri merasa bahagia, suami merasa sempurna. Namun saat istrinya merasa tidak bahagia, suami akan merasa gagal. Sedangkan seorang istri meninggalkan suaminya, karena merasa tidak dicukupi kebutuhan emosinya (cinta, romansa, komunikasi).

Romantis bagi seorang istri adalah cukup didengar, tanpa harus diberi solusi. Seorang perempuan sering kali ingin didengar dengan penuh perhatian ketika bercerita. Contohnya, ketika seorang istri mengeluh lelah mengurus anak seharian, ia sering kali hanya ingin dipeluk dan didengarkan. Namun suami kadang langsung memberi solusi atau justru memilih diam, karena merasa bingung harus menjawab apa. Ia tidak selalu membutuhkan solusi. Sebaliknya, laki-laki cenderung berpikir praktis dan fokus mencari jalan keluar.

Ketika dua cara berpikir ini bertemu tanpa saling memahami, kesalahpahaman mudah muncul. Karena itu, komunikasi menjadi jembatan penting dalam hubungan. Hubungan yang hangat ternyata tidak dibangun oleh hadiah besar atau kata-kata romantis semata. Kadang kebahagiaan rumah tangga hadir dari hal sederhana: suami membantu mencuci piring saat istrinya kelelahan, istri menyiapkan teh hangat ketika suami pulang bekerja, atau keduanya saling bertanya, “Hari ini capek ya?” dengan tulus.

Hal kecil seperti mendengarkan pasangan, menghargai lelahnya, menyapa dengan lembut, atau membantu pekerjaan sederhana dapat menjadi bentuk cinta yang sangat berarti. Kadang yang membuat rumah tangga bertahan bukan hal luar biasa, tetapi perhatian kecil yang dilakukan terusmenerus.

Dr. Aisyah Dahlan juga sering mengingatkan bahwa pasangan suami istri seharusnya menjadi tempat pulang paling nyaman. Dunia luar mungkin penuh tekanan, tetapi rumah hendaknya menjadi ruang untuk saling menenangkan. Kalimat sederhana seperti “terima kasih”, “maaf”, atau “aku mengerti lelahmu” bisa menjadi penguat yang luar biasa bagi pasangan.

Soulmate bukan tentang menemukan manusia tanpa kekurangan. Tidak ada pasangan yang sempurna. Setiap orang membawa luka, kelemahan, dan kekurangannya masing-masing. Namunketika dua orang memilih untuk saling menerima dan memperbaiki diri bersama, hubungan dapat menjadi lebih kuat dari waktu ke waktu.

Menjadi seorang istri perlu banyak belajar. Biar istri saja yang belajar, agar rumah tangga kokoh karena kekuatan, ketentraman, dan keutuhan rumah tangga ada pada seorang istri.

Kini telah banyak ta’lim baik offline maupun online, jadi kita bisa belajar setiap hari. Inilah yang dapat menambah cinta pada pasangan. Kurangi menonton sinetron ataupun drakor, karena akan mempengaruhi otak dan overtinking pada suami.

Hal penting lainnya ialah perbanyak baca kembali kisah kehidupan Rasulullah SAW, para sahabat, dan sahabiyat. Senantiasa berdoa memohon agar rumah tangganya di jaga dan samawa.

Melalui berbagai pesan tentang soulmate, dr. Aisyah Dahlan mengajarkan bahwa hubungan yang baik dibangun dengan ilmu, empati, komunikasi, kesabaran, dan kedekatan spiritual. Cinta saja tidak cukup jika tidak diiringi kemampuan memahami pasangan. Karena itu, pernikahanbukan hanya perjalanan perasaan, tetapi juga perjalanan belajar seumur hidup.

Soulmate sejati bukan sekadar seseorang yang membuat hati berbunga-bunga, tetapi seseorang yang mau berjalan bersama dalam proses panjang kehidupan, saling menguatkan hingga akhir. Sebab pada akhirnya, hubungan yang bertahan, bukan milik dua manusia yang sempurna. Melainkan milik dua manusia yang tetap memilih bersama meski sama-sama memiliki kekurangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *