Teropong Indonesia, KOTA SUKABUMI – Gelaran festival musik di Stadion Suryakencana Kota Sukabumi menyisakan pemandangan memprihatinkan. Stadion kebanggaan warga Sukabumi tersebut viral di media sosial setelah kondisi lapangannya tampak rusak, berlumpur, dan dipenuhi sampah pasca-konser yang digelar di tengah guyuran hujan.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Sukabumi, Rahmat Sukandar, angkat bicara. Ia mengakui kondisi lapangan saat ini memang jauh dari kata ideal akibat faktor cuaca dan beban kegiatan.
Evaluasi Tanpa Uang Jaminan
Rahmat menyatakan bahwa pihaknya akan segera melakukan langkah tindak lanjut. Namun, ia menekankan bahwa proses tersebut harus melalui tahap evaluasi mendalam terlebih dahulu, mengingat kegiatan baru saja berakhir semalam.
“Memang kegiatan kemarin konser sambil hujan, jadi belok (berlumpur) dan bala (berantakan). Itulah mengapa kita akan lakukan evaluasi terlebih dahulu. Sesuai kewenangan, saya akan tindak lanjuti,” katanya saat di konfirmasi Senin (20/4/2026).
Menariknya, Rahmat mengungkapkan bahwa kerja sama dengan penyelenggara konser bersifat sewa menyewa biasa, tanpa adanya uang jaminan kerusakan di awal. Hal ini memicu pertanyaan publik mengenai proteksi aset daerah. Meski demikian, ia menegaskan akan melakukan kajian berdasarkan aturan yang berlaku untuk menentukan langkah perbaikan.
Dilema Kota Kecil: Antara Kreativitas dan Kerusakan Fasilitas
Di balik polemik kerusakan rumput stadion, Rahmat memaparkan alasan mendasar mengapa izin konser di fasilitas olahraga tetap diberikan. Menurutnya, Kota Sukabumi berada dalam posisi dilematis karena keterbatasan sumber daya alam (SDA) sebagai daya tarik wisata.
“Kita itu kan kota kecil yang tidak punya apa-apa dari sektor kepariwisataan berbasis SDA. Maka, satu-satunya harapan kita adalah dari kreativitas, salah satunya melalui event-event yang bisa mendatangkan kunjungan ke Kota Sukabumi,” jelasnya.
Mimpi “Lapdek Jilid Dua” sebagai Solusi
Sadar bahwa menggunakan stadion olahraga untuk konser musik memiliki risiko besar, pemerintah daerah mengaku tengah memikirkan solusi jangka panjang. Rahmat menyebutkan adanya keinginan dari Wali Kota Sukabumi untuk melakukan renovasi fasilitas dan membangun ruang publik baru.
“Ke depan, ada keinginan membangun ‘Lapdek Jilid Dua’. Jadi nanti banyak pilihan untuk Event Organizer (EO) melakukan kegiatan yang menjadi magnet kunjungan tanpa harus mengorbankan fungsi utama stadion,” bebernya.
Saat ini, warga Kota Sukabumi menanti sejauh mana proses evaluasi tersebut berjalan. Apakah biaya perbaikan lapangan akan memakan anggaran daerah yang lebih besar daripada nilai sewa yang diterima, ataukah ada tanggung jawab nyata dari pihak penyelenggara? (fal)





