Publish or Perish; Saat Riset Kampus Tergelincir dari Makna ke Indexing

Oleh: Asep Tapip Yani

Dosen UMIBA Jakarta

Diskusi ilmiah, beradu argumentasi, dan hangatnya obrolan tentang topik-topik krusial atau masalah dan isu-isu sosial yang muncul dalam kehidupan masyarakat adalah budayanya orang-orang kampus dari jaman ke jaman.  Diskusi dan obrolan penuh makna dengan semangat menemukan solusi yang dilandasi referensi-referensi yang teruji dan berbobot. Itu dulu ya. Sekarang, fenomena/gejala apa yang terjadi dalam obrolan di kampus-kampus? Di banyak kampus ( tidak di semua kampus, tapi banyak sekali), obrolan dosen kian mirip ruang bursa: “Sudah accepted di Scopus Q2?” “APC-nya berapa?” “Target Sinta berapa tahun ini?”

Pertanyaan tentang temuan dan manfaat riset bagi masyarakat ironisnya sering jadi catatan kaki, tak jadi hasil temuan yang hakiki, mengawang di awan setinggi langit tak menapak di bumi. Yang penting banyak sitasi, kurang peduli apakah temuannya teraplikasi dan terimplementasi. Kita menyaksikan gejala ketika tujuan mencipta pengetahuan dan kemaslahatan pelan-pelan digantikan sarana terindeks dan berbayar yang semakin tinggi levelnya semakin besar bayarannya. Faktanya, sudah ribuan hasil penelitian yang terindex dengan berbagai level, dari yang tidak bergengsi sampai yang sangat bergengsi (baca: dari yang tidak murah sampai yang termahal), hanya sekedar memenuhi tuntutan BKD dan melancarkan pangkat individual sang penulis atau penelitinya saja. Tidak banyak yang terinformasikan bahwa hasil penelitian tersebut dapat diaplikasikan atau diimplementasikan di kehidupan masyarakat secara nyata, bahkan sangat sedikit informasi yang menyajikan bahwa ada sekelompok masyarakat yang mendapat manfaat dengan mengimplementasikan hasil penelitian yang terindeks baik tersebut.

Gejala: Publish or Perish versi Lokal

Publish or perish merujuk pada dua konsep: pertama adalah frasa yang menggambarkan tekanan bagi akademisi untuk terus menerus mempublikasikan karya ilmiah demi kemajuan karier mereka, jika pejuang kemerdekaan dahulu jargonnya ‘merdeka atau mati’, maka para dosen sekarang jargonnya ‘publikasi atau tamat’ riwayat dosennya; kedua adalah Publish or Perish (PoP), sebuah perangkat lunak gratis yang digunakan akademisi untuk mencari, mengelola, dan menganalisis sitasi serta metrik dampak penelitian mereka dari berbagai sumber seperti Google Scholar dan Microsoft Academic Search. Yang kita bahas di sini adalah konsep publish or perish yang pertama, bukan yang kedua pastinya ya.

Tekanan dan Dorongan atau bahkan bisa juga ancaman publish or perish memang klasik, tetapi hari-hari ini perish bergeser ke purchase, menjelma menjadi “publish or purchase”: publikasi berbayar (APC=Article Processing Charge/Article Publication Charge), perburuan venue terindeks (Scopus, Sinta), dan paket seminar-jurnal satu pintu. Di ruang dosen, “apa yang ditemukan?” kerap kalah dengan “diindeks di mana?”

Kualitas riset lantas diukur lewat lokus terbit bukan daya ubahnya pada pengetahuan, kebijakan, industri, atau kehidupan warga. Dosen pun terdorong menjadi “manajer naskah” ketimbang “penjelajah gagasan”.

Membedah Akar: Mengapa Kita Sampai di Sini?

Metode evaluasi yang menyederhanakan kompleksitas; Indikator numerik (kuartil, sitasi, skor Sinta) memudahkan penilaian kinerja, tetapi menyempitkan makna mutu. Seperti mengukur kualitas musik hanya dari jumlah stream.

Insentif yang misaligned; BKD, tunjangan, promosi, dan reputasi institusi, semuanya sering dikunci oleh venue publikasi. Ketika insentif mendikte perilaku, dosen rasional memilih langkah dan strategi paling scorable.

Ekonomi publikasi; Gelombang APC menormalisasi “biaya terbit”. Di sisi lain, muncul jurnal/konferensi predatory yang memonetisasi kecemasan karier akademik.

Kurangnya ekosistem hilirisasi; Kanal untuk menerjemahkan riset ke kebijakan, bisnis, teknologi, dan komunitas belum mapan. Tanpa pathway dampak, indexing menjadi satu-satunya panggung yang menjanjikan.

Tekanan global & ranking mania; Universitas mengejar peringkat internasional; proxy paling cepat: kuantitas publikasi terindeks. Padahal reputasi ilmiah sejati tumbuh dari keaslian, kolaborasi, dan kegunaan.

Dampak: Dari Laboratorium ke Lorong Buntu

Fragmentasi dan “salami publishing”: satu studi diiris menjadi beberapa naskah tipis.

Topik aman dan low-risk: eksplorasi berani (yang berpeluang temuan besar) dihindari karena tidak “cepat accepted”.

Waktu tersedot ke formatting dan korespondensi, bukan penyempurnaan metodologi atau replication.

Masyarakat menunggu: desa mitra, UMKM, sekolah, puskesmas, birokrasi kerap tak merasakan jejak riset.

Lensa Teoritis & Sosial Ilmu

Norma Merton (CUDOS) Communalism, Universalism, Disinterestedness, Organized Skepticism menyiratkan ilmu itu milik bersama, obyektif, tak berpamrih, dan selalu kritis. Kultur “kejar indeks” berisiko mengikis disinterestedness: riset jadi sarana poin kinerja.

Manifesto Leiden & DORA mengingatkan: metrik jurnal tidak boleh menjadi penentu tunggal mutu riset. Evaluasi harus kontekstual pada kontribusi substansial.

Sosiologi pengetahuan melihat metrik sebagai “teknologi kekuasaan”: yang memegang indikator, menentukan makna “bermutu”.

Apa yang Bisa Diubah?

Redesain evaluasi dosen; Tambahkan kategori impact portfolio: policy brief, prototipe, open dataset/software, standar teknis, model pembelajaran, layanan klinis, karya desain, hingga bukti dampak komunitas.

Bobotkan substance over venue; Di BKD/kenaikan pangkat, beri nilai tinggi pada kebaruan metodologis, replicability, negative results yang berguna, dan registered reports di mana pun terbitnya.

Dana transformasi dampak; Sisihkan skema kecil-gesit untuk translasi: pilot di puskesmas, sandbox regulasi, living lab desa/kota, edtech di sekolah.

Repositori terbuka kampus; Wajib unggah data, kode, preprint, dan materials; ukur unduhan/pemakaian sebagai altmetrics yang sah.

Kebijakan APC yang sehat; Negosiasi read-and-publish; waiver untuk dosen muda; due diligence anti-predatory; whitelist berbasis praktik editorial, bukan sekadar indeks.

Kemitraan lintas sector; Kolaborasi dengan pemerintah daerah, BUMN/UMKM, dan komunitas; jadikan problem statement nyata sebagai titik mula riset.

Insentif replikasi & open methods; Hadiah internal untuk studi replikasi dan open notebook science pilar mutu yang lama terabaikan.

Percepatan science communication; Latih dosen menulis op-ed, policy memo, visual abstract, dan briefing deck untuk pemangku kepentingan non-akademik.

Penguatan etika & research integrity; Audit acak plagiarism, image manipulation, kepengarangan; dorong author contribution statement yang transparan.

Gunakan AI secara bertanggung jawab; AI untuk literatur, coding, dan visualisasi boleh—tetapi catat penggunaan, hindari fabrication/hallucination, dan tetap pusatkan orisinalitas ilmiah manusia.

Perspektif Multi-Pemangku Kepentingan

Dosen: butuh “ruang bernapas” metodologis, bukan sekadar target venue.

Mahasiswa: belajar riset sebagai proses memecahkan masalah, bukan lomba format.

Kampus: reputasi bertahan panjang bila karya memecahkan isu strategis daerah-bangsa.

Pemerintah: indikator nasional yang menilai outcome (kebijakan, produktivitas, kesejahteraan) akan mengubah perilaku ekosistem.

Industri & Komunitas: co-creation sejak hulu mencegah riset berakhir hanya sebagai PDF.

Mengembalikan Riset ke Rumah Asalnya

Carl Sagan pernah mengingatkan, “Science is a way of thinking much more than it is a body of knowledge.Sains lebih merupakan cara berpikir daripada kumpulan pengetahuan, demikian katanya. Jika berpikir ilmiah kita direduksi menjadi memilih template, risiko terbesarnya bukan sekadar APC yang mahal melainkan hilangnya alasan mengapa universitas ada, hilanglah akal sehat.

Robert K. Merton mengajarkan organized skepticism: ilmu maju karena berani bertanya “mengapa harus begini?”. Hari ini, pertanyaan itu layak diarahkan pada sistem kita sendiri. Norma CUDOS ilmu itu milik bersama, universal, tak berpamrih, dan kritis terorganisir. Norma CUDOS adalah singkatan dari Comunism Universalism Disinterstedness Organized Skepticism yang menjadi prinsip etika bagi komunitas ilmiah untuk mendorong kolaborasi, keterbukaan, dan objektivitas dalam penelitian ilmiah.

BJ Habibie mengingatkan, “Tanpa cinta, kecerdasan berbahaya; tanpa kecerdasan, cinta tidak cukup.” Cinta pada masyarakat mestinya menuntun kecerdasan akademik kita: riset yang kembali menyala di puskesmas, sawah, bengkel UMKM, kelas-kelas sekolah, ruang rapat birokrasi, dan startup teknologi bukan hanya di bilik submission system.

Karl Popper (ruh pemikiran): ilmu tumbuh melalui conjectures and refutations bukan melalui angka-angka semata.

John Tukey (semangat metodologis): Lebih baik jawaban yang kira-kira benar untuk pertanyaan penting, daripada jawaban yang tepat untuk pertanyaan yang salah.

Ilmu yang baik tak takut diukur tetapi menolak dipersempit. Saatnya mengubah dari “berapa Q dan berapa APC” menjadi “seberapa besar hidup yang kita perbaiki.” Seberapa banyak masyarakat tercerahkan dan menerima manfaat nyata dari hasil penelitian.

Jika universitas adalah menara, ia haruslah menara suar, bukan menara gading. Riset yang baik menerangi jalan pulang masyarakat, bukan sekadar menerangi halaman CV. Setuju? Yang tidak setuju, jangan menjawab dengan argumen kata-kata tapi buktikan dengan karya nyata yang terindeks dalam kehidupan masyarakat. Berkarya atau perlaya, Publikasi atau mati!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *