Tak Hanya Makanan Pokok, Warga Kampung Adat Cireundeu Olah Rasi jadi Berbagai Penganan Nikmat

TEROPONG INDONESIA – Sejak tahun 2010, rasi atau beras singkong yang tak lain merupakan makanan pokok khas warga Kampung Adat Cireundeu terus berkembang.

Rasi yang semula hanya nasi singkong yang ditemani lauk pauk, kini diolah menjadi beragam penganan ringan dengan cita rasa tak kalah dengan makanan lainnya.

Tokoh masyarakat Kampung Adat Cireundeu, Jajat mengatakan, hadirnya inovasi berbagai macam makanan berbahan dasar rasi tidak terlepas dari kerjasama masyarakat dengan mahasiswa Teknologi Pangan Universitas Padjajaran (Unpad).

“Jadi masyarakat Cirendeu berhasil menciptakan lebih dari 10 produk turunan dari rasi. Kita buat kue semprong, kue kering, dan sekarang sudah ada mie dari tepung rasi,” sebutnya.

Jajat menuturkan, produk-produk ini dikembangkan melalui UMKM lokal dan mulai dikenalkan ke pasar lebih luas, termasuk secara online oleh generasi muda Cireundeu. Meski sempat mencoba menjual produk rasi di luar Cirendeu, seperti di Dago dan Bandung Zoo penjualan kurang diminati.

“Akhirnya kami fokus jualan di sini saja. Pengunjung ke Cireundeu bisa mencapai 1000 hingga 1500 orang setiap bulannya. Dan ini cukup untuk menopang penjualan,” ujarnya.

Harga rasi sendiri, sambung Jajat, dijual di kisaran Rp10.000–Rp12.000 per kilogram. Namun, masyarakat adat tetap mengedepankan etika dalam distribusinya.

“Kami tidak dilarang menjual, tapi dibatasi. Jangan sampai karena kejar untung, warga sendiri malah tidak kebagian RASI. Yang utama, kebutuhan warga harus terpenuhi dulu,” tegasnya.

Rasi, sebut Jajat, telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kemudian, pada tahun 2023, rasi juga mendapat Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) dari Kementerian Hukum dan HAM.

“Ini bentuk dukungan yang jauh lebih penting daripada sekadar bantuan modal. Legalitas dan perlindungan budaya seperti ini sangat berarti bagi kami,” ujarnya.

Jajat menegaskan pentingnya generasi muda, baik di Cirendeu maupun di luar, untuk mulai berpikir ulang tentang ketergantungan terhadap beras.

“Kami ingin generasi muda sadar bahwa sumber pangan kita sangat melimpah. Tidak harus selalu nasi beras. Singkong, jagung, sagu, talas, semuanya bisa menjadi kekuatan pangan,” ujarnya.

Jajat berpesan agar anak-anak muda Cireundeu tidak larut dalam pujian atas ketahanan pangan kampung mereka.

“Jangan sampai pujian membuat kita lengah. Yang terpenting adalah menjaga amanat leluhur, bukan mencari pengakuan,” tandasnya. (Gani Abdul Rahman)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *