Oleh: Asep Tapip Yani
(Dosen Pascasarjana UMIBA Jakarta)
Bayangkan sebuah negeri yang sedang berlari mengejar mimpinya, macan Asia yang sedang melompat-lompat, tiba-tiba diadang tembok raksasa dari negara adidaya. Tarif masuk 42% dijatuhkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk berbagai produk Indonesia. Dunia dagang bergetar. Apakah ini pertanda kita memasuki masa gelap?
Ketika Trump Bicara “Keadilan Dagang”
Donald Trump berdalih bahwa Indonesia mengenakan tarif tinggi untuk produk-produk AS, sementara AS memberi tarif rendah ke Indonesia. “Ini tidak adil,” katanya. Lalu lahirlah kebijakan baru: tarif dasar 10% untuk semua negara dan tambahan 32% untuk negara yang dianggap “eksploitatif”—termasuk Indonesia.
Tapi adil itu definisinya siapa? Bukankah dalam dagang selalu ada negosiasi? Atau, ini sekadar strategi kampanye yang berkedok nasionalisme ekonomi?
Indonesia dan Globalisasi yang Bikin Ketagihan
Kita sudah terlalu lama nyaman mengekspor barang ke luar negeri. Bangga bisa tembus pasar Amerika. Tapi, ketika pasar itu tiba-tiba ditutup dengan tarif tinggi, kita panik. Berarti kita ketergantungan. Dan, ketergantungan itu… berbahaya.
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang berdiri di atas kaki sendiri.” –Ir. Soekarno.
Sayangnya, kita lebih sering berdiri di atas kaki orang lain.
Yang Kena Imbas Bukan Menteri, Tapi Rakyat Kecil
Tarif itu mungkin dibaca di kantor-kantor pemerintahan. Tapi dampaknya dirasakan di lapangan:
- Petani kopi Gayo yang ekspornya terhambat
- Penjahit di Majalaya yang order-nya berhenti
- Buruh pabrik sepatu di Brebes yang terancam PHK
“Keadilan bukan soal angka. Tapi soal siapa yang paling dulu dan paling dalam merasakan dampaknya.”—Amartya Sen, ekonom Nobel.
Dan seperti biasa, yang paling dulu dan paling dalam merasakannya adalah rakyat kecil.
Kita pernah punya narasi besar bernama berdikari. Bung Karno memimpikan ekonomi yang tidak disetir pasar luar. Di negeri jiran, Mahathir Mohamad pernah mengingatkan, “Kita harus belajar berdagang bukan untuk tergantung, tapi untuk berdaulat.”
Kenapa sekarang kita malah seperti “kaget” saat tarif dijegal? Karena kita belum punya fondasi kuat di dalam. Kita masih terlalu bangga jadi eksportir bahan mentah, bukan pemilik nilai tambah.
Jadi, Gelap?
Belum tentu. Kalau gelap itu berarti kita kehilangan arah, maka ini justru titik untuk menyalakan cahaya baru. Apa yang bisa kita lakukan?
- Diversifikasi pasar ekspor. Jangan hanya andalkan AS dan Eropa. Lirik Timur Tengah, Afrika, dan Asia Selatan.
- Perkuat pasar dalam negeri. Dengan 270 juta penduduk, kita pasar potensial terbesar di Asia Tenggara.
- Bangun industri bernilai tambah. Jangan jualan bahan mentah terus.
- Diplomasi dagang aktif. Jangan cuma menerima, tapi ikut menyusun aturan mainnya.
Indonesia Bukan Gelap, Tapi Diuji
Gelap itu bukan ketika tarif dinaikkan. Gelap itu ketika kita tidak punya nyali untuk berubah. Tarif 42% dari AS itu tamparan, tapi juga kesempatan.
“Kita harus menjadi bangsa yang tidak hanya pandai menjual, tapi pandai membangun.”— BJ Habibie
Kita bisa marah pada Trump, tapi lebih penting dari itu: kita harus bangkit dari ketergantungan dan belajar berdiri tegak. Merdeka, Berdaulat, Berdikari, Mandiri, MAJU! Tetap semangat!
https://jurnalisindependenbersatu.com/2024/09/21/30-menit-weekend-bersama-jurnalis-salsabila-alkatiri-s-i-kom-bahas-karya-jurnalistik-yang-berkualitas-untuk-masyarakat/





