Mengelola Informasi & Publikasi Kepolisian Berbasis 5W +1H +2P

(Teropong Indonesia)-, Dede Farhan Aulawi hadir di Polda Jabar sebagai narasumber memberikan Bintek Kehumasan dengan judul “TERAMPIL MENGELOLA INFORMASI DAN PUBLIKASI MEDIA” untuk seluruh personil Bidhumas, PID seluruh satker, dan para kasi humas polres se-Polda Jawa Barat. Acara diselenggarakan di Mapolda Jawa Barat Jl. Sukarno Hatta kota Bandung. Dibuka langsung oleh Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol. Ibrahim Tompo S.I.K., M.Si. Pelatihan ini diselenggarakan dengan tujuan untuk meningkatkan kompetensi dalam rangka menyiapkan SDM Kehumasan yang profesional sesuai dengan tuntutan tugas dan dinamika zaman di era digital.

Tantangan profesi humas Polri ke depan semakin menantang dan semakin berat karena dinamika zaman sudah berubah, sehingga akses publik terhadap ketersediaan informasi harus dikelola secara lebih transparan, akuntabel, cepat dan akurat. Terlebih jika dikaitkan dengan tupoksi Polri dalam bidang harkamtibmas, gakkum dan linyomyanmas sebagaimana diamanah dalam UU No. 2 tahun 2002 tentang Polri, yang pada dasarnya banyak bersinggungan dengan tuntutan kemampuan diseminasi informasi yang persuasif. Jadi narasi – narasi dalam publikasi media tidak cukup hanya dengan informasi deskriptif 5W + 1H saja, tetapi juga harus disertai dengan desain konstruksi kalimat yang bersifat persuasif. Redesain tata kelola informasi dan publikasi medianya menjadi 5W + 1H + 2P. Jadi harus ada paragraf yang persuasif dan promotif dalam rangka ciptakan kamtibmas yang kondusif.

Terlebih jika dikaitkan dengan pelaksanaan UU Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik maupun UU No.25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik, yang memberikan ruang keleluasaan kepada masyarakat untuk mendapatkan informasi – informasi yang dibutuhkannya, terkecuali informasi tertentu yang bersifat rahasia sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Paparan dimulai dengan memberikan penjelasan mulai dari tantangan dan peran strategis humas di era revolusi industri 4.0. Mengingat karakter industri 4.0 Internet of things, 3D printing, AR (augmented reality), VR (virtual reality), cloud computing, big data, block chain, dan lain – lain, maka Humas Polri dipandang perlu untuk terus memperkuat SDM yang memahami dan menguasai Artificial Intelligence (AI). Infrastruktur, suprastruktur, dan tata kelolanya juga mesti mengalami penyesuaian agar sejalan dengan semangat Internet of Things. Juga dijelaskan model – model kampanye kehumasan seperti, Press Agentry / Publicity (Propaganda), Public Information (Diseminasi informasi), Two Way Asymetric (Persuasi ilmiah), dan Two Way Symetric (Mutual Understanding).

Baca Juga :  Pemkab Cilacap Jalin Kerjasama dengan 10 RS Swasta Cilacap dan JNE Cilacap Tentang Dokumen Kependudukan

Disamping itu dijelaskan juga penerapan Electronic Public Relations (E-PR) atau disebut juga Cyber Public Relations yang pada prinsipnya menjelaskan tentang menjalankan fungsi kehumasan dengan menggunakan media internet sebagai sarana publisitasnya. Instrumen tersebut bisa digunakan dalam strategi membangun citra organisasi yang konstruktif guna meningkatkan kepercayaan publik terhadap institusi Polri secara efektif. Baik melalui The mirror image, The current image, The wish image dan The multiple image.

Kemudian ditambahkan dengan uraian secara rinci terkait pentingnya optimalisasi pemanfaatan ruang dan teknologi media sosial dalam menjangkau publik secara lebih luas. Termasuk model penyusupan kekuatan visual berupa infografis, foto atau video guna menarik atensi publik terhadap substansi pesan yang ingin disampaikan.

Tidak lupa dilatihkan (praktek langsung) cara membuat press release yang berbasis pada gaya jurnalisitik yang memiliki nilai berita (news value ), signifikan (penting) dan berharga sebagai berita (news worthy). Praktek penulisan ini seperti halnya seorang wartawan yang menulis berita langsung (straight news) dengan gaya piramida terbalik (inverted pyramid). Dimulai dengan membuat lead / teras berita / kepala berita sebagai paragraf pertama yang mengandung unsur 5W +1H +2P.

Akhirnya di penghujung kegiatan, seperti pelatihan – pelatihan lainnya yang diberikan, maka pelatihan ini ditutup dengan ujian akhir (post test) setelah diawal ada pre test. Ujian dimaksudkan untuk mengetahui dan mengukur sejauh mana materi yang disampaikan bisa dimengerti atau tidak oleh peserta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *