Primasari Single Parent dari Banyumas, Perantau Yang Memilih Menjadi Seniwati & Bisnis Angkringan di Kabupaten Paser

(Kabupaten Paser)-, Kesuksesan dalam menjalani kehidupan di dunia bagi setiap manusia memiliki makna yang berbeda-beda. Sebagian orang menilai kesuksesan ketika berhasil berbakti atau membahagiakan orang tuanya. Namun ada juga yang meyakini kesuksesan saat menjadi orang yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Ada juga yang melihat kesuksesan seseorang dari karir, jabatan atau harta yang dimilikinya. Lalu seperti apa makna kesuksesan bagi perantau?…

Primasari, perempuan kelahiran Banyumas tahun 1984 saat ini memilih menetap di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Sebelumnya sempat berkuliah sambil menjadi guru TK di Subang Jawa Barat, namun tidak sampai wisuda dan menjadi Tenaga Kerja wanita di Hongkong dengan gaji Rp.8 juta / bulan.

Saat ini Primasari memilih berkarir dari panggung ke panggung hiburan di daerah tempat tinggalnya. “Dari berbagai pengalaman yang dijalani, lalu akhirnya memfokuskan karirnya menjadi seniman / penyanyi sambil berbisnis warung angkringan dinilai sebuah kesuskesan dalam perantauannya. Karena dengan kedua hal itu, dirinya dapat membiayai anak-anaknya untuk berkuliah di perguran tinggi terbaik di Bandung. Lalu adiknya dan orang tuanya. Selain itu kondisi ekonominya sekarang dirasa lebih baik, ketika memiliki kendaraan roda 4 untuk kegiatan sehari-harinya, walaupun dibeli dengan cicilan. Lumayan untuk oprasional belanja kebutuhan usaha angkringan dan kendaraan untuk menempuh lokasi undangan ke panggung hiburan. Jiwa perantau itu prinsipnya pantang pulang atau menyerah dan harus tetap survive, sebelum bisa membuktikan kalau kita sukses,” jelasnya kepada media cetak dan online Koran SINAR PAGI (17/5/2023)

Saat ini Primasari yang dikenal dengan nama panggungnya, Irma Dimitri juga aktif di organisasi Ikatan Paguyuban Keluarga Tanah Jawi Kabupaten Paser, Provinsi Kalimantan Timur.

“Honor manggung itu relatif, bayarannya ada yang sekitar Rp.500-600 ribu, kalau di kotanya. Tetapi tergantung yang mengundang, kalau semakin jauh bisa siang & malem itu Rp.800 ribu, tapi kadang banyak sawerannya. Baik jauh atau dekat, siang dan malam saat manggung, intinya harus dijalani, nikmati dan syukuri. Apalagi nyanyi ini bagian dari hobi,”ucapnya.

Baca Juga :  Sabet Penghargaan OPD Informatif, ini Harapan Kadisdik Jabar

Saat ditanya perihal omset usaha angkringannya?… Perimasari mengungkapkan untuk saat ini bisnis angkringanya beromset sekitar Rp.700 ribu setiap harinya, berberda dengan tahun–tahun sebelumnya bisa mencapai Rp.1.5 juta. Penurun omsetnya diprediksi karena semakin bertambahnya angkringan baru yang berjejer di wilayahnya.

Primasari mengaku saat ini single perent dan merasa beban hidupnya lebih berat jika dibandingkan ketika dahulu hidup bersama suaminya. “Sebelumnya pernah menikah 2 kali. Hidup mewah, namun itu tidak menjamin bahagia. Sehingga terpaksa harus berpisah. Walaupun hidup mewah, tapi sebagai seorang ibu tetap sadar diri dan memutuskan untuk tetap bekerja atau mencari pengasilan lain. Karena ada anak-anak yang dibawa dan adik yang harus dibiaya,”ucapnya Primasari menceritakan kisah asmara keluarganya yang keduanya di Jawa Timur.

Dari perjalanan panjangan dan berbagai pengalaman yang ditempuh untuk membangun keluarganya. Primasari berharap kelak anak-anaknya dapat meraih kehidupan yang lebih baik, tidak seperti ibunya sekarang. Mulai dari segi pendidikannya, karir dan kisah hidupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *