Membangun 5 Semangat Perubahan di Bulan Muharram

Penulis: Drs.H. Sukadi, M.I.L. (Guru SMA Negeri 1 Bandung, Jawa Barat)

Geliat memperingati 1 Muharram sebagai awal tahun baru Islam mulai nampak semarak di mana-mana. Ada yang menandai dengan kegiatan pawai obor, ada pula yang mengadakan kegiatan ceramah umum memperingati pergantian tahun hijriyah. Gerakan ini menunjukkan mulai adanya kesadaran umat Islam terhadap tahun hijriyah yang memiliki arti penting bagi keberlangsungan peribadatan, sebab peribadatan dalam ajaran Islam menggunakan kalender hijriyah.

Euforia memperingati pergantian tahun hijriyah juga ramai di grup-grup media sosial. Ucapan selamat tahun baru hijriyah bertebaran di mana-mana. Di satu sisi kita patut gembira dengan ramainya umat Islam memperingati pergantian tahun hijriyah. Namun, di sisi lain kita juga prihatin karena peringatan tahun baru hijriyah sering kali tidak diambil hikmat yang terkandung di dalamnya. Akibatnya, banyak orang menggelar peringatan 1 Muharram, tetapi perilku hidupnya tak kunjung berubah ke arah yang lebih baik.

Muharram sebagai Bulan Muhasabah

Dalam Al Quran surat Al Hasyr ayat 18 Allaah SWT berfirman:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌۭ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۢ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ ١٨

Artinya:

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.

Ayat ini mengingatkan kita untuk selalu bermuhasabah diri atas segala apa yang kita lakukan di masa lalu untuk menyambut hari esok yang lebih baik. Lalu, muhasabah tentang apakah yang hendaknya kita lakukan di bulan Muharram 1446H?

Pertama, kita dianjurkan untuk melihat dosa-dosa dan kekurangan kita untuk kita taubati dan perbaiki di masa depan. Sebab, manusia tidak ada yang bebas dari dosa/kesalahan. Besar atau kecil, setiap hari kita pasti pernah berbuat dosa/salah. Nah, kesalahan-kesalahan itu kita hentikan dan taubati. Jangan sekali-kali kita membiarkan kesalahan dan dosa kita berlalu begitu saja. Karena jika amal baik kita lebih berat dari amal buruk, maka kita menjadi penghuni syurga. Sebaliknya, jika amal buruk kita yang lebih berat, maka nerakalah tempat kembalinya. Na’uzubillaahi min dzaalik.

Kedua, sebagai orang beriman kita pun dianjurkan untuk mentafakuri nikmat yang Allah karuniakan kepada kita, baik nikmat iman dan Islam, nikmat hidup, nikmat sehat, nikmat panca indera dan nikmat-nikmat lainnya. Untuk apa kita mentafakuri nikmat Allah SWT? Untuk kita syukuri sehingga Allah SWT menambahkan lagi nikmat-Nya kepada kita. Sebaliknya, jika kita tak pandai mensyukuri nikmat Allah SWT, maka azab Allah SWT teramat pedih.

Ketiga, kita pun dianjurkan untuk bermuhasabah atas amalan-amalan yang kita perbuat selama ini. Sejauh mana amal kebaikan yang kita lakukan setiap waktu? Sejauh mana pula amal keburukan yang kita kerjakan? Sebagai orang beriman, kita hendaknya berusaha menekan agar amal buruk kita semakin sedikit atau bahkan hilang sama-sekali. Sebaliknya, kita dianjurkan untuk memperbanyak beribdah dan beramal kebajikan, serta menjauhi dan meninggalkan amal buruk.

Keempat, mari kita tinggalkan segala bentuk kebodohan kita selama ini. Banyak kebodohan-kebodohan yang kita perbuat, seperti sikap terlalu mencintai dunia ketimbang akhirat. Sikap terlalu mencintai dunia (hubbud dunya) merupakan salah satu bentuk kebodohan. Betapa tidak? Dunia akan kita tinggalkan, sementara akhirat akan kita tempati untuk jangka panjang (abadi). Namun, dalam praktik hidup, banyak manusia yang berjuang mati-matian untuk urusan dunia, sementara untuk urusan akhirat abai dan masa bodoh. Banyak pula orang yang silau dengan glamournya kehidupan dunia, padahal seindah-indahnya dunia akan ditinggalkan, semegah-megahnya dunia akan hancur, dan seenak-enaknya dunia ada batas akhirnya. Sementara akhirat? Dia abadi selama-lamanya. Pergantian tahun baru hijriyah hendaknya menjadi momen penting bagi kita untuk mengubah mindset kita dari mindset yang mengutamakan dunia menjadi mindset mengutamakan akhirat.

Kelima, dengan pergantian tahun hijriyah, mari tingkatkan ilmu kita agar setiap persoalan hidup dunia dan akhirat dapat dipecahkan dan disolusikan dengan baik. Hanya dengan ilmu yang tinggi kemuliaan hidup di dunia dan akhirat kita raih. Islam mengajarkan kita untuk selalu meningkatkan penguasaan dan pemahaman kita tentang ilmu pengetahuan, utamanya ilmu agama.  Kearifan, kebijaksanaan, dan kematangan pribadi akan diraih jika kita memiliki dan memahami ilmunya. Demikian pula kualitas hidup kita akan dapat kita raih jika kita memiliki ilmunya.

Demikianlah semoga tahun baru hijriyah dapat memberi manfaat bagi kita untuk bermuhasabah tentang apa yang terjadi pada diri kita di tahun lalu untuk menjadi bahan perbaikan di tahun mendatang. Hanya orang-orang yang pandai bermuhasabahlah yang akan mengalami progres kehidupan menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Jadilah orang-orang yang beruntung karena hari ini lebih baik dan hari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *