Teropong Indonesia, KOTA BANDUNG – Tidak semua musik diciptakan untuk terdengar manis. Ada yang lahir dari kegelisahan, kemarahan, lalu meledak melalui distorsi gitar dan gebukan drum. Di sisi itulah Listyu menemukan identitasnya. Band ini memilih jalur alternative rock yang keras tanpa harus mengikuti tren.
Karakter tersebut dibawa Listyu langsung ke panggung Come To Unplugged Vol. 4, Sabtu, 7 November 2026, di Come In Coffee, Jalan Gedebage Selatan No. 159, Cisaranten Kidul, Kota Bandung.
Mereka akan berbagi panggung dengan Clover Club, The Shame, Parmusik Nami, Pisstone, Ranu M, Bob Anwar, Klaperat, John Karwat x Yono Brothers, serta Toean Gembira.
Dalam gelaran Come To Unplugged Vol. 4, Listyu membawakan tiga lagu, yakni “Ibu”, “Buka Mata”, dan “Diapun Mati”. Ketiganya sukses menggebrak panggung lewat penampilan penuh energi, dengan stage act yang sarat semangat dan luapan emosi.
Bagi Moelder, vokalis Listyu, kesempatan tersebut menjadi ruang untuk bertemu pendengar baru dan membagikan energi musik mereka.
“Senang sekali bisa menjadi bagian dari Come To Unplugged Vol. 4. Buat kami, setiap panggung punya ceritanya sendiri. Mau panggung besar atau kecil, yang penting kami bisa bermain, bertemu orang-orang baru, dan membagikan energi musik Listyu kepada siapa pun yang datang,” tegasnya saat diwawancarai pada Minggu, 8 November 2026.
Moelder mengakui musik Listyu memiliki karakter keras dan berisik. Namun, distorsi serta permainan agresif justru menjadi medium untuk menumpahkan emosi dan kegelisahan.
“Musik Listyu memang punya karakter yang keras, berisik, dan mungkin nggak selalu nyaman didengar semua orang. Tapi memang itu cara kami berekspresi. Kami nggak mau terlalu banyak membatasi diri dalam bermusik. Ada energi, emosi, dan kegelisahan yang ingin kami keluarkan lewat suara, distorsi, dan permainan musik kami. Buat kami, musik bukan cuma soal terdengar bagus, tetapi juga soal punya sesuatu untuk disampaikan,” kata Moelder penuh semangat.
Mereka juga tidak ingin menjadi bayang-bayang band lain. Eksplorasi dan eksperimen menjadi jalan untuk membangun identitas musikal sendiri.
“Kami ingin Listyu punya identitas sendiri. Bukan sekadar mengikuti tren atau mencoba terdengar seperti band lain. Kami ingin tetap jujur dengan apa yang kami dengarkan, rasakan, dan mainkan. Prosesnya tentu nggak selalu mudah, tetapi justru di situ keseruannya. Kami masih terus mencari, bereksperimen, dan mengembangkan karakter musik Listyu,” cetusnya.
Perjalanan Listyu bermula pada awal 2024, ketika Moelder bertemu Mong di kantor. Keduanya memiliki selera musik grunge yang sama, terutama Pearl Jam dan Alice in Chains. Mereka kemudian rutin jamming membawakan lagu seperti “Jeremy”, “Alive”, “Daughter”, “Nutshell”, hingga “Rotten Apple”.
Dari kebiasaan tersebut, keduanya mulai memperkenalkan karya masing-masing.
“Gak lama dari situ, kita ternyata punya karya masing-masing. Seperti saya punya lagu, mong juga punya lagu, dan pada akhirnya kita sering bawain kalau sehabis kerja,” terang Moelder.
Nizar kemudian bergabung dan membawa kemampuan menulis lirik yang menjadi warna baru bagi band tersebut.
“Nizar hadir, disitu dia memang memiliki kemampuan menulis lirik lagu yang tajam, lugas, melankolis, juga liriknya memang keren,” kata Moelder.
Nama Listyu sendiri diambil dari kebiasaan mereka membuat listing lagu-lagu favorit yang sering dimainkan bersama. Setelah itu, Gilar, drummer Pisstone yang juga rekan sekantor mereka, bergabung untuk melengkapi formasi.
Formasi awal Listyu terdiri dari Moelder pada vokal dan gitar, Nizar pada vokal, Mong pada gitar, serta Gilar di drum.
Perjalanan Listyu mengalami perubahan formasi setelah Gilar dan Nizar memutuskan hengkang. Listyu pun sempat menyisakan dua personel, yakni Moelder dan Mong.
Namun, perjalanan mereka berlanjut dengan bergabungnya Aboya Aboy sebagai drummer dan Anyun pada bass. Kini, Listyu diperkuat empat personel, Moelder (vokal), Mong (gitar), Aboya Aboy (drum), dan Anyun (bass).
Secara musikal, gitaris Listyu, Mong menyebut Listyu banyak bergerak dalam jalur alternative rock era 90-an.
Hal itu terdengar dalam materi mereka, seperti “Origami”, “Pesawat Kertas”, dan “Ibu”. Ketiganya dalam format akustik mengangkat cerita kehidupan, kegelisahan anak muda, depresi, kematian, hingga penyesalan.
Lagu “Ibu” memiliki cerita tersendiri. Liriknya ditulis Nizar setelah Mong memainkan rangkaian chord saat mereka berkumpul.
“Lagu ibu liriknya yang bikin Nizar, jadi waktu itu kita lagi ngumpul biasa. Saya pegang gitar mainin chord lagu ibu itu, kemudian Nizar langsung nyanyiin verse awal lagu itu,” kata Mong.
Lagu tersebut menggambarkan anak muda yang tersesat dalam kerasnya kehidupan jalanan, kehilangan arah, dan membutuhkan kasih seorang ibu.
“Karena se nakal-nakalnya kita, tetap saja ujung-ujungnya balik lagi ke ibu, makannya jangan kurang ajar sama ibu,” ucapnya sambil sedikit tertawa.
Pengaruh musik Listyu juga datang dari nu metal, grunge, doom metal, hingga punk. Masing-masing membawa karakter groove berat, emosi mentah, atmosfer gelap, serta energi perlawanan.
“Kami banyak menyerap unsur nu metal, grunge, doom metal, dan punk. Nu metal dengan groove beratnya, grunge dengan emosi mentahnya, doom metal dengan atmosfer gelapnya, serta punk dengan energi liar dan semangat perlawanannya. Semua itu kami coba racik menjadi karakter Listyu,” tuturnya.
Meski begitu, alternative rock 90-an tetap menjadi fondasi utama mereka.
“Listyu lebih mengarah ke alternative rock era 90-an. Kami suka karakter musik yang raw, gelap, berat, dan penuh emosi. Nggak harus selalu terdengar rapi, karena justru spontanitas dan kekasaran itu menjadi bagian dari identitas kami,” jelas dia.
Bagi Listyu, musik juga menjadi ruang untuk menyampaikan konflik batin, kemarahan, kekecewaan, dan perasaan terasing.
“Lagu-lagu Listyu lebih banyak bercerita tentang keresahan diri, konflik batin, kemarahan, kekecewaan, dan perasaan terasing. Buat kami, musik adalah medium untuk meluapkan hal-hal yang terkadang sulit diungkapkan lewat kata-kata,” pungkas Mong. (Gani Abdul Rahman)





