Ragam  

Dari Dini Hari hingga Pagi: Begini Proses MBG di Dapur SPPG Cibeber Cimahi

Teropong Indonesia, KOTA CIMAHI – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu intervensi penting pemerintah dalam menjawab persoalan gizi peserta didik. Di Kota Cimahi, implementasi program ini dijalankan melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cibeber 1, yang berlokasi di Jalan Ibu Ganirah No. 63, Kelurahan Cibeber, Kecamatan Cimahi Selatan.

SPPG Cibeber 1 mulai beroperasi sejak 20 Oktober 2025 dan hingga awal Februari 2026 telah melayani pendistribusian makanan ke dua sekolah, yakni MTsN Cimahi dan SMPN 8 Cimahi.

Kepala Dapur SPPG Cibeber 1, Daffa Akbar menjelaskan jumlah penerima manfaat program MBG di dua sekolah tersebut mencapai ribuan siswa, termasuk tenaga pendidik.

“Kalau untuk MTSN itu jumlah penerima manfaat total beserta gurunya dan tenaga pendidiknya ada di 1.171. Kalau SMP 8 itu totalnya ada di 1.369,” kata Daffa saat ditemui di lokasi, Kamis (5/2/2026).

Dengan demikian, total penerima manfaat yang dilayani dapur SPPG Cibeber 1 dalam satu hari mencapai 2.540 orang.

“Jadi total kami distribusikan ke penerima manfaat ini di dapur ini totalnya untuk hari ini di 2.540,” ujarnya.

Di tengah besarnya skala distribusi, Daffa tidak menampik bahwa sempat muncul keluhan terkait makanan dari beberapa sekolah. Namun, ia menegaskan kondisi tersebut terjadi pada fase awal operasional dapur.

“Ada, adi pas awal-awal itu kami kan masih belum terbiasa ya, apalagi para relawan-relawan masih belum ngertilah alur masak dan pendistribusiannya dan sebagainya,” tuturnya.

Seiring berjalannya waktu, sistem kerja dan alur produksi terus diperbaiki, terutama dalam aspek higienitas dan keamanan pangan. Daffa menekankan bahwa setiap proses pengolahan makanan melibatkan ahli gizi untuk memastikan kualitas dan kelayakan konsumsi bagi siswa.

Menjawab pertanyaan terkait jumlah relawan dan standar kebersihan, Daffa menjelaskan bahwa dapur SPPG Cibeber 1 didukung oleh puluhan relawan dengan prosedur ketat sebelum memasuki area produksi.

“Iya betul ada. Jadi totalnya itu ada 50 ya. 50 relawan. Jadi awal-awal proses kayak persiapan, persiapan tuh ada sekitar 9 orang,” katanya.

Ia menambahkan, sebelum memulai aktivitas, seluruh relawan diwajibkan mengikuti prosedur kebersihan yang telah ditetapkan.

“Jadi sebelum memulai aktivitas mereka pertama di sini disediain loker ya. Jadi kita ini di sini nggak boleh memakai aksesoris apapun. Takut terjadinya nanti ada kontaminasi lah dengan makanan gitu kan,” imbuhnya.

Selain itu, penggunaan alat pelindung diri (APD) menjadi kewajiban mutlak di dapur.

“Kita juga menyiapkan APD-APD, kayak wajib kita tuh pakai apron. Kita tuh wajib juga memakai hairnet untuk melindungi kepala, misalnya takutnya ada rambut nanti jatuh ke makanan,” jelas Daffa.

“Kita juga wajib pakai masker, jadi pas mereka baru datang ke dapur, mereka naruh barang-barang mereka ke ompreng ya, para relawan,” lanjutnya.

Setelah itu, seluruh relawan diwajibkan mencuci tangan sebelum mengenakan APD yang telah disediakan.

“Habis gitu dimulai dengan cuci tangan terlebih dahulu. Nanti sudah disiapkan, sudah disediain gitu maksudnya tempat yang menyimpan APD-APD nya gitu. Ada maskernya, ada hairnet nya, ada sarung tangan, ada apronnya seperti itu, kang. Baru misalnya semua sudah memakai apa, memakai APD-nya sesuai dan sudah lengkap baru proses pengerjaan makanan tersebut gitu,” paparnya.

Tidak hanya pada proses memasak, pengawasan ketat juga diterapkan sejak bahan baku diterima dari pemasok. Daffa menyebut pihaknya bekerja sama dengan supplier berbentuk badan usaha.

“Jadi untuk awal-awal itu kita ini kerja sama dengan supplier dalam bentuk CV. Nah, untuk supplier itu datang bahan baku biasanya mulainya dari jam 12 siang, bisa sampai jam 5 sore biasanya bahan baku itu datang,” katanya.

Ia menegaskan bahwa urusan pengadaan supplier berada di luar kewenangannya sebagai kepala dapur.

“Jadi kalau untuk masalah supplier, saya enggak ada andil gitu. Setelah itu nanti bakal ada tim persiapan,” ujarnya.

Tim persiapan mulai bekerja pada sore hari untuk menyiapkan seluruh bahan sebelum proses pengolahan dimulai.

“Tim persiapan itu datangnya di jam 4 sore. Di jam 4 sore, tugasnya tim persiapan yaitu mempersiapkan segala sesuatu sebelum bahan itu dimasak,” jelas Daffa.

Proses ini mencakup pembersihan, pemotongan, penyortiran bahan makanan, hingga perhitungan jumlah porsi.

“Jadi kayak misalnya ada sayuran harus dipotong-potong dulu, ada ayam harus dibersihin dipotong-potong, terus misalnya ada buah juga harus dibersihkan terus sambil di apa disortirin mana yang baik mana yang jeleknya,” bebernya.

“Sambil dihitung juga jumlah per porsinya berapa,” sambungnya.

Menurut Daffa, durasi persiapan bergantung pada ritme kerja masing-masing divisi.

“Karena kalau misalnya kayak semakin banyak istirahatnya bakalan semakin lama gitu. Biasanya dari jam 4 bisa beresnya mungkin di jam 10 malam,” katanya.

Tahap pengolahan makanan dimulai pada dini hari.

“Nah, untuk pengolahan itu mulainya bisa mulai dari jam 12 malam. Mulai dari jam 12 malam, nah itu tuh mereka tuh ya kayak nyiapin bikin bumbulah bikin bumbu-bumbu sausnya, terus ya kayak ngegoreng-gorengnya kayak gitu-gitu, numis-numis sayur,” tutur Daffa.

Proses tersebut biasanya selesai sekitar pukul 06.00 pagi, bersamaan dengan kegiatan pemorsian.

“Setelah itu ada divisi pemorsian. Pemorsian itu mulai dari jam, dari jam 2 pagi,” katanya.

Pemorsian dilakukan sesuai takaran yang telah ditetapkan dan diawasi langsung oleh ahli gizi.

“Dari jam 2 pagi. Ya tugasnya pemorsian yaitu memorsi makanan sesuai takarannya gitu dibantu dengan ahli gizi. Jadi ahli gizi juga memantau proses pemorsian tersebut. Jadi harus sesuai dengan takarannya gitu,” jelasnya.

Secara keseluruhan, dapur SPPG Cibeber 1 memiliki enam divisi utama.

“Ada persiapan, ada pengolahan, ada pemorsian, ada distribusi, ada cuci ompreng sama kebersihan,” kata Daffa.

Selain relawan, struktur dapur juga diperkuat oleh unsur pengawasan lapangan.

“Dan ada ahli gizi. Ada ahli gizi. Jadi untuk staf itu ada KSPPG atau yang biasa disebut dengan kepala dapur, saya sendiri kepala dapurnya, terus di sini tuh ada dua asisten lapangan,” ujarnya.

“Tugas asisten lapangan yaitu ya mengawasilah bagian lapangan entah itu dalam dapur atau enggak luar dapur kayak gitu,” tutup Daffa. (Gani Abdul Rahman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *