Cisarua Dinyatakan Zona Berbahaya, Dedi Mulyadi Perintahkan Relokasi Permanen Warga

Teropong Indonesia, KAB, BANDUNG BARAT – Kawasan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, resmi dinyatakan tidak aman untuk permukiman.

Bencana longsor yang terjadi di Desa Pasir Langu pada Sabtu dini hari menjadi bukti nyata tingginya risiko bencana di wilayah tersebut.

Menyikapi kondisi itu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memutuskan langkah tegas seluruh warga terdampak harus direlokasi.

Longsor terjadi setelah hujan lebat mengguyur kawasan perbukitan selama berjam-jam. Lereng gunung yang selama ini dialihfungsikan menjadi kebun sayuran runtuh dan menimbun permukiman warga yang berada tepat di bawahnya.

Peristiwa terjadi sekitar pukul 02.30 WIB saat sebagian besar warga masih tertidur.

Gubernur Dedi Mulyadi turun langsung ke lokasi bencana pada Sabtu, 24 Januari 2026. Di hadapan warga dan tim penanggulangan bencana, ia menegaskan bahwa kawasan tersebut tidak lagi layak dihuni.

Menurutnya, kerusakan lingkungan akibat alih fungsi lahan telah menghilangkan daya ikat tanah dan memperbesar potensi longsor.

“Ini bukan lagi soal bertahan atau tidak. Wilayah ini berbahaya dan harus dikosongkan. Kawasan ini seharusnya dikembalikan menjadi hutan, bukan permukiman,” tegas Dedi.

Sebagai langkah darurat, Pemerintah Provinsi Jawa Barat meminta warga mengontrak rumah sementara selama dua bulan.

Bantuan sebesar Rp10 juta per kepala keluarga disiapkan untuk kebutuhan tempat tinggal dan hidup sehari-hari. Sementara bagi keluarga korban meninggal dunia, pemerintah memberikan santunan Rp25 juta per kepala keluarga.

Data sementara mencatat delapan orang meninggal dunia, sementara 82 warga masih dinyatakan hilang.

Proses pencarian terus dilakukan oleh tim gabungan yang terdiri dari BPBD Jawa Barat, BPBD Kabupaten Bandung Barat, TNI, Basarnas, dan relawan.

Kepala BPBD Kabupaten Bandung Barat, Asep Sehabudin, menegaskan bahwa permukiman warga berada di zona yang sangat rawan.

Hujan berintensitas tinggi sejak Jumat siang mempercepat pergerakan tanah di lereng gunung yang sudah tidak stabil. “Permukiman berada tepat di tebing. Risiko longsor sangat tinggi,” ujarnya.

Bencana ini berdampak pada sedikitnya 334 kepala keluarga. Ratusan warga terdampak dan jumlah rumah rusak masih dalam pendataan petugas.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyatakan penanganan bencana tidak berhenti pada evakuasi dan bantuan darurat. .

Pemulihan lingkungan dan penataan ulang kawasan akan menjadi prioritas utama agar tragedi serupa tidak kembali terjadi di masa mendatang. (Gani Abdul Rahman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *