Teropong Indonesia, KOTA CIMAHI– Wali Kota Cimahi, Ngatiyana, menegaskan pentingnya pelestarian budaya dan naskah kuno sebagai fondasi pembangunan karakter masyarakat. Hal itu disampaikannya dalam kegiatan pembahasan Ngararat Naskah Wangsakerta Pustaka I Nusantara, yang menjadi ruang dialog lintas generasi tentang sejarah, budaya, dan nilai kebangsaan.
Ngatiyana membuka sambutannya dengan gaya khas yang cair. Ia mengaku memilih menggunakan bahasa Indonesia terlebih dahulu sebelum beralih ke bahasa Sunda agar pesan yang disampaikan dapat dipahami dengan utuh.
“Saya pakai bahasa Indonesia dulu lah, nanti setelah membaca saya mau pakai bahasa Sunda. Misalnya kalau ini oke banget, kalau suruh baca gini di Sunda kan susah. Jadi saya baca dulu, setelah itu baru kita ngobrol,” ujarnya.
Dalam pemaparannya, Ngatiyana menjelaskan bahwa Naskah Wangsakerta bukan sekadar catatan sejarah masa lalu, melainkan menyimpan pesan moral, politik, dan kebudayaan yang relevan dengan tantangan masa kini. Ia menilai, dalam alur ceritanya, Nusantara telah digambarkan sebagai wilayah yang memiliki tata nilai, struktur pemerintahan, serta kesadaran geopolitik yang kuat sejak awal.
Menurutnya, pesan utama dari naskah tersebut menegaskan bahwa Nusantara dibangun di atas kesepakatan, kearifan lokal, dan persatuan, bukan semata-mata oleh kekuatan senjata. Perbedaan suku, bahasa, dan wilayah justru menjadi kekuatan yang dirajut melalui musyawarah, hukum adat, dan etika kepemimpinan.
Namun demikian, Ngatiyana juga menyadari bahwa Naskah Wangsakerta hingga kini masih menuai perdebatan. Ada pihak yang menilai isinya memiliki kemiripan dengan catatan sejarawan Belanda, sementara yang lain mempertanyakan keaslian serta metodologi penulisannya.
“Sikap kita sebagai bangsa yang dewasa bukan menutup mata terhadap perdebatan dunia, tetapi juga tidak tergesa-gesa menampik nilai yang terkandung di dalamnya,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa sejarah bukan hanya soal siapa yang menulis lebih dulu, melainkan pesan apa yang dapat dipetik untuk hari ini dan masa depan. Dari naskah Wangsakerta, Ngatiyana menilai terdapat pelajaran penting tentang kepemimpinan yang berlandaskan moral, negara yang kuat karena persatuan, serta kesejahteraan rakyat yang lahir dari pemimpin yang adil dan bijaksana.
Nilai-nilai tersebut, lanjutnya, sangat relevan dalam konteks pemerintahan daerah. Ia menilai, tata kelola pemerintahan harus berkeadilan, kebijakan mesti berpihak pada rakyat, dan pemimpin wajib mau mendengarkan, bukan sekadar memerintah.
“Persoalan bangsa hari ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan teknologi dan anggaran. Yang dibutuhkan adalah karakter, etika, dan kesadaran sejarah,” tegasnya.
Ngatiyana juga mengapresiasi kegiatan dialog budaya yang digelar BSA dan Gentra Pamitan ini, karena menurutnya ini menjadi ruang dialektika yang sehat. Sejarah tidak diposisikan sebagai dogma, melainkan sebagai sumber hikmah yang dapat dikontekstualisasikan dengan kondisi kekinian.
Ia menegaskan, Pemerintah Kota Cimahi menempatkan pelestarian budaya dan naskah kuno sebagai bagian dari pembangunan manusia seutuhnya. Baginya, kota yang kuat adalah kota yang memahami asal-usulnya, menghormati leluhurnya, dan berani menatap masa depan.
“Jangan jadikan Naskah Wangsakerta hanya sebagai arsip atau kontroversi, tetapi sebagai warisan budaya yang kaya informasi dengan pendekatan ilmiah yang sehat,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Ngatiyana juga menyinggung pentingnya peran tokoh budaya dan kasepuhan, seperti Abah Ujang dan Abah Alam, sebagai aset daerah yang harus dijaga dan diwariskan ilmunya kepada generasi muda. Ia menilai, tanpa upaya serius, budaya Sunda dan budaya daerah berisiko terkikis oleh zaman.
Sebagai bentuk konkret pelestarian budaya, Ngatiyana menyebut Pemkot Cimahi telah mulai menuliskan aksara Sunda di sejumlah ruas jalan dan fasilitas publik, serta berencana memperluasnya keseluruh wilayah.
“Kalau sudah kita tuliskan pakai aksara Sunda, nanti tahun ini juga kita akan tulis lagi. Setiap jalan harus ada aksara Sunda. Ini salah satunya cara kita melestarikan budaya,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa bangsa yang kuat adalah bangsa yang menjaga budayanya. Tanpa pelestarian, nilai etika dan kesantunan sebagai bangsa timur dikhawatirkan akan luntur, terutama di kalangan generasi muda.
Menutup sambutannya, Ngatiyana berharap kegiatan budaya semacam ini terus berlanjut dan diwariskan kepada anak cucu, agar nilai-nilai leluhur tetap hidup dan menjadi pedoman dalam kehidupan bermasyarakat. (Gani Abdul Rahman)





