Menjaga Denyut Tradisi di Jantung Kota Bandung, Peran Ibu dan Sanggar Genta Studio

Teropong Indonesia, KOTA ClMAHI – Di tengah hiruk-pikuk Kota Bandung yang kian modern, sebuah irama kendang terdengar konsisten dari balik dinding Genta Studio.

Fitri, pimpinan sanggar, sedang berupaya melawan arus zaman. Baginya, melestarikan tari tradisional di era gempuran budaya pop bukan sekadar hobi, melainkan misi penyelamatan identitas bangsa.

Fitri tidak menampik tantangan besar yang dihadapi generasi masa kini. Media sosial seringkali menjadi kiblat utama anak-anak, yang sayangnya lebih banyak mempromosikan tarian modern daripada tradisi.

“Anak-anak zaman sekarang sering merasa malu atau menganggap tari tradisional itu kuno karena pengaruh kuat media sosial,” ujar Fitri.

Padahal, ia menekankan bahwa sanggar harus menjadi jembatan pertama bagi anak untuk mengenal seni, bukan algoritma internet yang seringkali tanpa filter.

Dalam pandangannya, eksistensi tari tradisional sangat erat kaitannya dengan sosok perempuan atau Ibu. Bukan hanya karena banyak tarian yang terinspirasi dari figur ibu seperti drama tari Wayang yang mengangkat legenda Tangkuban Perahu tetapi juga karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Ibu Fitri menjelaskan bahwa pola pengasuhan tecermin dalam gerakan tari, Ritual & Komunal Melambangkan siklus kehidupan dan kesuburan, Ketahanan & Kekuatan Gerakan presisi yang membutuhkan stamina tinggi, Kesabaran Ritme yang berulang melatih keteguhan hati, sebuah karakter khas seorang ibu.

“Menjadi ibu itu bukan pilihan, tapi kewajiban bagi perempuan yang memiliki anak. Mengenalkan mereka pada tari tradisional sejak dini adalah jalan kita melestarikan budaya ini,” tegasnya.

Berlatih tari di Genta Studio bukan hanya soal kelenturan tubuh. Ibu Fitri menjelaskan bahwa ada proses mental yang terjadi saat seorang anak belajar step-by-step:

* Kesabaran: Proses belajar yang bertahap membentuk pribadi yang tidak instan.

* Daya Ingat: Menghafal ragam gerak yang kompleks mempertajam kecerdasan kognitif.

* Kecerdasan Emosional: Melalui tarian kelompok, anak diajarkan kekompakan. Kepekaan telinga terhadap musik dan hati terhadap rasa dapat meredam emosi negatif.

Bakat tanpa dukungan adalah sia-sia. Ibu Fitri menitikberatkan pentingnya support system internal. Orang tua wajib mendukung sepenuhnya, baik dari segi waktu, tenaga, hingga materi jika anak menunjukkan minat pada seni tradisi.

Ia juga menyarankan agar orang tua aktif mengajak anak berapresiasi langsung ke gedung-gedung pertunjukan. “Boleh lewat YouTube atau media sosial, tapi harus dengan pendampingan yang tepat agar anak memahami maknanya, bukan hanya menonton gerakannya,” tambahnya.

Sejarah mencatat bahwa banyak tokoh penari tradisional yang mendunia adalah perempuan. Ibu Fitri berharap, melalui Genta Studio di Bandung, akan lahir generasi baru yang bangga mengenakan sampur dan menghentakkan kaki di atas panggung, membawa identitas lokal ke kancah global.

Fitri berpesan bahwa setiap gerak tari adalah doa dan pelajaran hidup. Di era modern ini, menjaga tari tradisional berarti menjaga harmoni dan keseimbangan jati diri manusia itu sendiri. (Gani Abdul Rahman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *