TEROPONG INDONESIA- Kabupaten Bandung-, Penyakit atau kondisi sakit suatu saat akan menimpa siapa pun makhluk hidup. Jika ia tidak menjaga kesehatannya dengan baik atau sebagai pertanda mendekatnya diri kepada kematian. Oleh karena itu, kita dianjurkan untuk menjaga pola hidup sehat dan selalu berdo’a agar selalu diberi kesehatan. Jika pun nanti sakit, sebagai hamba Alloh dianjurkan untuk membaca do’a agar lebih berlapang dada atau ridho untuk menerima keadaannya.
Drs.H. Saepul Bahri M.Si Ketua Penasihat Dewan Kemakmuran Masjid / DKM Masjid Al Ikhwan Cingcin Permata Indah Soreang menjelaskan sakit merupakan ciri-ciri orang menjelang kematian.
“Namun jangan sampai karena kondisi sakit menjadi alasan untuk tidak ibadah sholat di masjid atau tidak bersemangat beribadah” jelasnya kepada jama’ah ngaji subuh di hari jum’at (22/8/2025)
Nabi sempat menjenguk orang Baduy yang sakit dan memberi nasihat bahwa sakit merupakan persyaratan untuk menggugurkan dosa, meraih pahala atau bagian dari ibadah jika dihadapi dengan kesabaran.
Perlu diyakini juga, apabila kita sakit bahwa yang menyembuhkan itu Alloh Subhanahu Wa Ta’ala, bukan obat, dokter apalagi dukun. Sebab kalau meyakini yang menyembuhkan itu dokter, jika sakit lalu ke dokter tidak sembuh akan berprasangka buruk. Bahwa dokternya tidak benar, justru itu akan menambah dosa dan penyakit hati.
Setelah menceritakan berbagai kisah Nabi Muhammad Shallallahu `alaihi Wa Sallam dan Nabi Ayyub Alaihissallam, Drs.H. Saepul Bahri M.Si mengungkapkan berbagai kisah nabi atau orang sholeh yang sakit diceritakan itu harapannya kita lebih siap menghadapi berbagai kondisi ketika sedang sakit.
Diakhir ceramah subuhnya, Drs.H. Saepul Bahri M.Si membahas riwayat Imam Tirdmidzi, dari Sahabat Nabi Abu Said al-Khudri pernah mendengar pesan Rasulullah Shallallahu `alaihi Wa Sallam mengenai bacaan zikir atau doa yang apabila dibaca saat sakit. Kemudian orang yang sakit itu meninggal, maka ia tidak akan terkena api neraka.
Abu Said al-Khudrī (ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻢ) bersaksi bahwa mendengar Nabi (ﷺ) bersabda:
Jika seseorang mengatakan:
لا إلهَ إلاّ اللهُ وَ اللهُ أكْبَرُ
Tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah, dan Allah Maha Besar.
Allah menjawab, “Hamba-Ku telah berkata benar, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Aku, dan Akulah Yang Maha Besar.”
Jika seseorang mengatakan:
لا إلهَ إلاّ اللهُ وَحْدَهُ
Tidak ada yang berhak disembah selain Allah semata.
Allah menjawab, “Hamba-Ku telah berkata benar, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Aku saja.”
Jika dia mengatakan:
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ
Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya.
Allah menjawab, “Hamba-Ku telah berkata benar, bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Aku, tidak ada sekutu bagi-Ku.”
Jika dia mengatakan:
لا إلهَ إلاّ اللهُ لَهُ الْمُلْكُ وَ لَهُ الْحَمْدُ
Tidak ada yang berhak disembah selain Allah, milik-Nyalah segala kerajaan dan bagi-Nya segala pujian.
Allah menjawab, “Hamba-Ku telah berkata benar, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Aku, segala kerajaan adalah milik-Ku dan segala pujian adalah milik-Ku.”
Jika dia mengatakan:
لا إلهَ إلاّ اللهُ وَ لا حَوْلَ وَ لا قُوَّةَ إلاّ بِاللهِ
Tidak ada sesembahan yang berhak disembah dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.
Allah menjawab, “Hamba-Ku telah berkata benar, bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Aku, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Ku.”
Fadilah dari mengamalkan hadist tersebut ialah Barangsiapa yang dikaruniai (kemampuan untuk mengucapkan) kalimat-kalimat ini pada saat ajalnya, maka neraka tidak akan menyentuhnya.





