Teropong Indonesia, KOTA SUKABUMI – Pondok Pesantren Modern Dzikir Al-Fath menggelar workshop dan pameran ekonomi kreatif yang dirangkaikan dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Senin (27/4/2026).
Perwakilan BRIN, Sri Wahyono, dalam sambutannya menyoroti kondisi darurat persampahan yang saat ini terjadi di hampir seluruh kota dan kabupaten di Indonesia. Menurutnya, volume sampah yang terus meningkat setiap hari tidak sebanding dengan kapasitas Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yang kian terbatas.
“Nyaris di setiap daerah saat ini mengalami darurat sampah. Volume sampah sangat besar, sementara TPA sudah over kapasitas dan mencari lahan baru juga tidak mudah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, berdasarkan regulasi yang ada, setiap sumber penghasil sampah seharusnya mulai melakukan pengelolaan secara mandiri, dimulai dari pemilahan hingga pengolahan. Prinsip yang digunakan adalah konsep 3R, yaitu reduce (mengurangi), reuse (menggunakan kembali), dan recycle (mendaur ulang).
Sri Wahyono mengapresiasi inisiatif Pondok Pesantren Dzikir Al-Fath yang mulai menerapkan pengelolaan sampah secara mandiri dan terintegrasi. Menurutnya, langkah tersebut merupakan contoh nyata penerapan ekonomi sirkular dan konsep zero waste (nirlimbah).
“Program ini sangat baik karena mengintegrasikan seluruh potensi yang ada di lingkungan pesantren. Sampah organik dari dapur, seperti sisa makanan dan sayuran, dapat diolah menjadi kompos, pupuk cair, eco-enzyme, bahkan biogas,” jelasnya.
Ia menambahkan, limbah dari peternakan seperti kotoran sapi, kambing, dan ayam juga dapat dimanfaatkan menjadi kompos yang digunakan untuk pertanian di lingkungan pesantren. Hasil pertanian tersebut kemudian kembali dikonsumsi oleh para santri, sehingga tercipta siklus yang berkelanjutan.
“Ini yang disebut sistem terintegrasi berbasis ekonomi sirkular, di mana semua sumber daya dimanfaatkan dan berputar di dalam lingkungan itu sendiri,” tambahnya.
Selain itu, untuk limbah non-organik seperti plastik, dapat diolah menjadi bahan bakar alternatif seperti briket atau Refuse Derived Fuel (RDF).
Sri Wahyono menegaskan, program seperti ini membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, akademisi, dan masyarakat. Ia juga menyebutkan bahwa konsep serupa mulai dikembangkan di beberapa pesantren melalui program pesantren hijau, meskipun yang benar-benar terintegrasi masih tergolong jarang.
“Konsep yang dijalankan di Ponpes Dzikir Al-Fath ini sangat potensial untuk dijadikan percontohan. Mudah-mudahan bisa berkembang dan menjadi inspirasi bagi daerah lain, khususnya di Sukabumi,” pungkasnya. (fal)





