Budaya  

Polisi di Cimahi Lestarikan Kawih Sunda Lewat Sanggar Seni

Teropong Indonesia, KOTA CIMAHI – Di tengah kesibukannya menjalankan tugas menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, Aipda Mepi Pritama Agudarisman menunjukkan dedikasi yang luar biasa terhadap pelestarian budaya.

Polisi yang menjabat sebagai Kasi Humas Polsek Cipatat, Polres Cimahi ini aktif melestarikan seni kawih Sunda melalui sebuah sanggar seni yang ia dirikan.

Sanggar seni tersebut bernama Wirahma Sekar Sari, dan didirikan dengan tujuan menjadi wadah bagi generasi muda untuk belajar dan mencintai seni tradisional Sunda.

Di sanggar ini, para peserta bisa mempelajari kawih Sunda, memainkan alat musik tradisional, hingga memahami filosofi budaya lokal yang kian terkikis zaman.

“Sejak kecil saya sudah akrab dengan seni Sunda. Almarhumah ibu saya adalah seorang guru kawih. Dari beliaulah saya belajar dasar-dasarnya,” ujar Mepi saat ditemui di rumahnya di Kelurahan Padasuka, Kota Cimahi, Minggu (3/8/2025).

Tak hanya piawai bernyanyi, Mepi juga mahir memainkan kecapi, alat musik khas Sunda yang telah lama menjadi sahabatnya. Ia belajar langsung dari para maestro seni tradisi di Cimahi.

Di sela waktu dinasnya, ia sering berkumpul bersama komunitas seniman untuk memainkan kawih Sunda yang sarat nilai dan makna.

Mepi mengaku mendirikan sanggar seni ini sebagai bentuk keprihatinannya terhadap minimnya minat generasi muda terhadap budaya tradisional.

Ia berharap sanggarnya bisa menjadi pusat regenerasi dan pelatihan seni budaya Sunda.

“Saya ingin ada tempat bagi anak-anak muda untuk mengenal seni kawih dan musik tradisional lainnya. Semoga ke depan lahir generasi penerus yang bangga pada budayanya,” harapnya.

Menurutnya, budaya adalah identitas yang harus dijaga dan dirawat bersama. “Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?” tegasnya.

Saat ini, Mepi juga sedang menjajaki kerja sama dengan beberapa sekolah agar sanggarnya dapat menjadi bagian dari kegiatan ekstrakurikuler budaya.

Ia ingin sanggar Wirahma Sekar Sari tidak sekadar menjadi tempat berkumpul, tapi juga ruang hidup untuk pelatihan dan apresiasi seni.

“Menjadi polisi bukan berarti harus meninggalkan seni. Justru dari seni, saya belajar tentang ketenangan, kedisiplinan, dan rasa hormat,” pungkasnya sambil memetik kecapi, menghadirkan harmoni di tengah tugas negara. (Gani Abdul Rahman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *