Ragam  

Puncak Hari Anak dan Hari Keluarga Nasional, Pemkot Cimahi Soroti Disiplin Anak dan Pencegahan Kekerasan Seksual

Teropong Indonesia, KOTA CIMAHI – Peringatan puncak Hari Anak Nasional dan Hari Keluarga Nasional di Kota Cimahi berlangsung meriah, Selasa (29/7), dengan dihadiri lebih dari 500 siswa-siswi dari berbagai sekolah. Acara ini diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Cimahi melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) bersama seluruh perangkat daerah (OPD) terkait.

Dalam sambutannya, Wali Kota Cimahi, Ngatiyana, menekankan pentingnya kedisiplinan dan perlindungan anak dari bahaya kekerasan, terutama kekerasan seksual dan dampak negatif media sosial.

“Anak-anak, terutama remaja dan pelajar, harus mulai belajar disiplin—baik dalam belajar, mengatur waktu, dan menjaga jam pulang malam. Jam 9 malam harus sudah di rumah, tidak boleh ke mana-mana lagi, waktunya belajar,” tegas Ngatiyana di Lapangan Techno Park.

Ia juga mengingatkan para orang tua dan guru untuk mengawasi penggunaan gawai dan media sosial oleh anak-anak. “Penggunaan handphone hingga larut malam harus diwaspadai. Ini bisa berdampak pada kesehatan dan mental anak,” ujarnya.

Kepala DP3AP2KB Kota Cimahi, Fitriani Manan, menyoroti bahwa kekerasan seksual masih mendominasi kasus kekerasan terhadap anak di Cimahi. Ia menegaskan pentingnya pendampingan psikologis bagi korban.

“Kekerasan seksual bisa berdampak berat pada psikologis anak. Jika tidak ditangani, bisa menimbulkan trauma mendalam, rasa minder, bahkan sebaliknya, menjadi agresif karena menanggung beban sendiri,” jelas Fitriani.

Menurutnya, kekerasan tidak hanya dialami anak perempuan, tetapi juga anak laki-laki, dan bisa terjadi di lingkungan keluarga maupun sekolah. Untuk mencegahnya, Pemkot Cimahi telah membentuk tim pengawasan di setiap satuan pendidikan dan bekerja sama dengan Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA).

“Korban yang sudah mengalami kekerasan bisa dirujuk ke P2TP2A, sementara kasus perundungan atau bullying bisa ditangani oleh PUSPAGA,” tambahnya.

Fitriani juga menekankan bahwa banyak korban kekerasan enggan berbicara karena pelaku berasal dari lingkungan terdekat. Oleh karena itu, selain pemulihan psikologis dan sosial, pihaknya siap mendampingi proses hukum bagi korban yang ingin melapor. (Gani Abdul Rahman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *