Ragam  

Kolaborasi Lintas Sektor, Kunci Sukses Karaton Sumedang Larang Lestarikan Adat Budaya dan Perkuat SDM Berbasis Kearifan Lokal

Pewarta : Steven Gervan

(Teropong Indonesia)-, Rangkaian panjang pelaksanaan Kirab Panji dan Mahkota Kemaharajaan Sunda telah selesai dilaksanakan dengan puncak acara pada tanggal 27 April 2025. Suasana sederhana penuh suka cita mengiringi sakralnya proses akhir dari perjalanan Kirab tersebut. Dari perjalanan kirab tersebut, berbagai pihak mengambil makna dan pelajaran mendalam sebagai fondasi dalam langkah kedepannya, termasuk Karaton Sumedang Larang (KSL) sendiri.

Rd. Artdeansyah Utama Dilaga menyampaikan bahwa perjalanan yang dimulai pada tanggal 19 April 2025 memberikan pelajaran berharga terhadap seluruh pihak, baik secara personal maupun profesional. ”dapat kita rasakan dan saksikan di berbagai media, bagaimana Kabupaten Ciamis mengawali kegiatan kirab secara sakral dan penuh khidmat, selanjutnya Kabupaten Bogor menyambut dengan penuh kehangatan dengan suka cita dan kemeriahan, dan Kabupaten Sumedang meneruskan kirab dengan penuh keyakinan sebagaimana Prabu Geusan Ulun yang merupakan Raja Sumedang Larang menerima mahkota 447 tahun yang lalu” jelasnya saat dijumpai dalam acara Kirab Panji dan Mahkota di Sumedang 27/04/2025.

Menurutnya kesuksesan rangkaian kirab menjadi bukti bahwa Masyarakat dan adat budaya adalah dua kekuatan yang saling terikat “kita perlu lihat bagaimana pelaksanaan Kirab di daerah sebelumnya yaitu Kabupaten Bogor, sepanjang kurang lebih 18 km ribuan masyarakat hadir turun ke Jalan untuk menyaksikan Mahkota Binokasih. Mengutip yang disampaikan Radya Anom Rd. Luky Djohari Soemawilaga bahwa ini adalah bukti Mahkota Binokasih menyatukan” tegasnya.

Disamping itu, peran serta berbagai pihak menjadi kunci lancarnya kegiatan ini “suksesnya pelaksanaan kegiatan ini tentunya merupakan buah dari kerjasama multipihak yang diimplementasikan oleh KSL. Keluarga Besar Karaton Sumedang Larang dan pelaku usaha yang mendukung melalui pendanaan, media yang turut memberitakan, Institusi adat/budaya yang turut serta dalam kirab, akademisi yang memberikan pandangan dalam pelaksanaannya, dan Komunitas yang antusias berpartisipasi, sebagai contoh komunitas fotografi yaitu Komunitas Semut Foto (KSF) asal Bandung yang menyampaikan komitmennya untuk mendukung pelestarian adat budaya” paparnya.

Lebih jauh dijelaskan bahwa kegiatan ini memiliki dampak yang tidak hanya dirasakan secara lokal oleh Kabupaten Sumedang, namun juga secara nasional “kita dihadapkan dengan perkembangan zaman yang lajunya sangat cepat dengan berbagai peluang dan tantangannya. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka menjaga tradisi, pengingat sejarah, dan penguatan nilai adat budaya dari globalisasi yang secara tidak langsung mengikis nilai luhur dan karakter generasi selanjutnya. KSL menyadari pentingnya nilai luhur yang terkandung di dalam adat budaya, kearifan lokal, dan sejarah akan berdampak terhadap penguatan nilai kebangsaan dalam mendukung tercapainya pembangunan nasional yang berkelanjutan”.

Dirinyapun berharap kerjasama multipihak yang sudah dilakukan ini dapat dikuatkan lagi kedepannya “hari ini kita membuktikan bahwa kolaborasi dan sinergi berhasil membawa adat budaya tidak hanya sekedar permukaannya saja, namun juga nilai dan makna yang terkandung di dalamnya yang selanjutnya menjadi bahan bakar dalam membangun/menguatkan SDM berbasis adat budaya, sehingga peran pemerintah daerah dalam mendukung kegiatan ini menjadi hal penting.”

Menurutnya pemerintah daerah perlu hadir secara komprehensif dan kolaboratif dalam mendukung pelestarian tradisi adat budaya. “dukungan pemerintah daerah yang menyeluruh mulai dari perizinan s.d dukungan anggaran akan menjadi booster dalam mencapai tujuan diselenggarakannya kegiatan ini, mengingat outcome dari kegiatan ini selanjutnya akan bermanfaat bagi pertumbuhan Kabupaten Sumedang sendiri mulai dari potensi meningkatnya sektor pariwisata, ekonomi kreatif, s.d pembangunan SDM yang berkarakterkan nilai luhur adat budaya. Mungkin tradisi Karaton ini dapat dimuat dalam rencana pemerintah jangka menengah Kabupaten Sumedang yang selanjutnya dijabarkan dalam rencana kerja tahunannya sehingga tradisi dan nilai luhur adat budaya ini terjaga secara kolaboratif dengan sinergi yang kuat antara pemerintah daerah dan Karaton Sumedang Larang” terangnya.

Menutup wawancara, Rd. Artdeansyah menyampaikan salah satu makna dalam Tilu Tangtu “sebagai insan yang dilengkapi dengan akal, budi dan pikiran marilah kita dalam berfikir dibantu naluri, bergerak didorong nurani, dan bertindak dijaga nalar” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *