FOMO: Ketakutan yang Takut Ketinggalan Sebuah Otopsi Psikososial Generasi Z yang Terperangkap Ilusi

Oleh: Asep Tapip Yani

(Dosen Pascasarjana UMIBA Jakarta)

“Aku scroll bukan karena ingin, tapi karena takut yang lain sudah tahu lebih dulu.”

Bayangkan dunia di mana hidup harus selalu up-to-date, di mana ketidakhadiran berarti ketertinggalan, dan offline terasa seperti mati sosial. Selamat datang di era FOMO Fear of Missing Out sebuah wabah psikologis yang menyelinap ke dalam kehidupan Gen-Z lewat layar ponsel dan notifikasi digital.

Apa Itu FOMO?

FOMO bukan sekadar kekhawatiran biasa. Ia adalah kecemasan patologis yang muncul karena merasa diri sedang tertinggal dari tren, informasi, percakapan, pengalaman, bahkan kebahagiaan orang lain. Di balik foto senyum di Instagram, terselip kegelisahan eksistensial: “Kenapa aku tidak di sana? Kenapa hidupku tak seindah mereka?” FOMO mendorong seseorang untuk terus mengecek, membandingkan, memburu kebaruan, dan berlari dari rasa kurang. Namun semakin dikejar, kebahagiaan semakin menjauh.

Akar FOMO: Kombinasi Teknologi dan Trauma Kolektif

Gen-Z lahir di tengah badai digital: sosial media, budaya viral, dan kecepatan informasi. Mereka juga tumbuh dalam dunia penuh krisis: pandemi global, perubahan iklim, dan ketidakpastian ekonomi. Teknologi menyediakan panggung sempurna untuk FOMO. Setiap notifikasi jadi panggilan untuk ikut serta. Setiap unggahan jadi perbandingan hidup. Setiap absen dari tren jadi ancaman kehilangan identitas sosial. “Di era algoritma, perhatian adalah mata uang. Dan Gen-Z adalah generasi yang berutang banyak.”

Dampak FOMO: Dari Cemas Ringan hingga Kelelahan Sosial

FOMO tidak hanya menyebabkan stres, tetapi juga:

  • Kecemasan sosial kronis
  • Ketergantungan digital
  • Sulit tidur (scrolling sebelum tidur)
  • Kesepian akut meski tampak terhubung
  • Impulsif dalam mengambil keputusan

Studi dari University of Essex (2022) menunjukkan bahwa FOMO memperparah perasaan tidak puas, meningkatkan depresi, dan merusak konsentrasi akademik maupun produktivitas kerja.

Budaya FOMO: Semua Orang Berlomba Jadi Viral

FOMO juga menjadi komoditas. Influencer menggunakannya untuk membangun keterikatan. Brand mengeksploitasinya dengan iklan seperti “Jangan Sampai Ketinggalan!”, “Hanya Hari Ini!” atau “Flash Sale Terakhir!” Kita hidup dalam pasar ilusi, di mana kebahagiaan ditentukan oleh seberapa cepat kita bereaksi, bukan seberapa dalam kita merasakan. FOMO menjadikan orang tampil demi tampil. Merayakan hidup yang belum tentu nyata. Berburu validasi dari like, comment, dan follower.

FOMO vs JOMO: Menemukan Jalan Pulang

Sebagai antidotum, hadir konsep JOMO Joy of Missing Out. Yakni menikmati ketidakhadiran. Bahagia dalam keterbatasan. Sadar bahwa tidak ikut serta adalah pilihan, bukan kekalahan.

  • JOMO adalah ketika kamu mematikan notifikasi dan membaca buku.
  • JOMO adalah saat kamu menolak undangan karena ingin istirahat.
  • JOMO adalah berani bilang: “Aku tidak perlu tahu semua hal.”

Apa yang Bisa Dilakukan?

  1. Detoks Digital: Istirahat rutin dari sosial media. Kembalikan otoritas atas waktumu.
  2. Kurangi Perbandingan: Ingat bahwa media sosial adalah highlight, bukan realita.
  3. Fokus pada Kehadiran Nyata: Hadiri yang di depan mata, bukan yang lewat layar.
  4. Tanyakan: Apakah ini perlu? Sebelum ikut tren, pastikan itu bagian dari nilai, bukan sekadar takut ketinggalan.

FOMO tidak bisa dibunuh. Tapi bisa dijinakkan.

Kembali Jadi Manusia

FOMO adalah panggilan untuk kembali ke dalam diri. Menyadari bahwa keutuhan bukan terletak pada informasi terbaru, tapi pada kesadaran diri. Karena dunia digital tak akan pernah berhenti. Tapi kita bisa. Jadilah manusia yang hadir, bukan sekadar akun yang aktif. Karena yang sesungguhnya ketinggalan adalah mereka yang sibuk mengejar segalanya, tapi kehilangan dirinya.

Dalam diam aku absen dari layar

Menepi dari gemuruh dunia maya

Bukan karena tertinggal, tapi memilih sadar

Bahwa hadir bukan soal muncul di feed orang lain,

tapi pulang ke diriku yang tenang.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *