Media Cetak Meningkatkan Kefokusan Berpikir, Media Sosial Menurunkan Daya Pikir

Penulis: Dwi Arifin (Duta Baca Dispusipda Jabar 2017)

Membaca media cetak (kitab, buku atau media massa) dapat membantu meningkatkan fokus dan konsentrasi, karena melatih otak untuk berkonsentrasi pada apa yang dibaca. Membaca media cetak juga dapat membantu meningkatkan kemampuan berpikir mendalam, memperkaya kosakata dan mengembangkan empati. Setelah menghubungkan antara apa yang dibaca dengan kenyataan yang ada.

Sehingga pengaruh dari bahan bacaan sangat berbeda dengan pengaruhnya dari media sosial. Berbagai ragam tontonan atau tulisan yang beredar di media sosial cenderung menurunkan kefokusan berpikir. Karena kebanyakaan isinya saat ini cenderung menghibur, bukan mengajak tafakur. Merendahkan diri, bukan mengembangkan diri atau membuat suasana lebih nyaman untuk berlama-lama rebahan atau bermalas-malasan.

Dalam beberapa dekade terakhir, kemajuan teknologi dan digitalisasi telah membawa perubahan besar pada kehidupan manusia. Namun, di balik manfaatnya, era digital juga menghadirkan tantangan baru, salah satunya adalah fenomena brain rot. Istilah ini merujuk pada degradasi kemampuan kognitif manusia akibat konsumsi informasi digital yang tidak terkendali, terutama dari konten instan dan superfisial yang sering ditemukan di media sosial, video pendek, atau aplikasi hiburan lainnya.

Fenomena brain rot semakin relevan untuk dibahas dalam konteks digitalisasi dan globalisasi. Di era informasi ini, manusia dihadapkan pada information overload, yaitu keadaan di mana seseorang menerima informasi dalam jumlah besar secara terus-menerus tanpa waktu yang memadai untuk mencerna, memahami, dan mengevaluasi. Akibatnya, terjadi penurunan kemampuan fokus, berpikir mendalam, dan kreativitas. Selain itu, brain rot juga berdampak pada kesehatan mental, seperti meningkatnya kecemasan, stres, dan isolasi sosial, terutama di kalangan generasi muda yang paling terpapar teknologi.

Konsumsi media cetak terbukti sejak dulu dapat meningkatkan fefokusan berpikir. Karena sumber informasi di media cetak telah melalui berbagai proses verifikasi untuk menghasilkan informasi terbaiknya. Berbeda dengan media sosial yang cenderung informasinya tanpa proses verifikasi yang lebih ketat, sehingga sering menimbulkan polemik bahkan konflik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *