TEROPONG INDONESIA,KBB – Kemarau berkepanjangan mulai menekan peternak ruminansia di Kabupaten Bandung Barat (KBB). Ketersediaan hijauan pakan semakin terbatas, sementara harga sejumlah jenis pakan mengalami kenaikan.
Kondisi tersebut mulai terasa sejak Juni-Juli 2026 dan memasuki puncaknya pada Agustus-September. Sebagian peternak bahkan harus mencari rumput hingga ke luar daerah, seperti Subang, Purwakarta dan Sumedang. Dalam kondisi tertentu, pemberian hijauan pada ternak juga dapat berkurang hingga sekitar 50 persen.
Kenaikan harga turut menambah beban peternak. Harga tebon jagung yang sebelumnya sekitar Rp800 per kilogram kini mencapai Rp900 per kilogram. Sementara rumput odot naik dari sekitar Rp750 menjadi Rp900 per kilogram. Ironisnya, kenaikan harga tersebut belum menjamin ketersediaan pakan karena stok di tingkat produsen juga terbatas.
Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan KBB, drh. Wiwin Aprianti, M.Si., mengatakan kondisi kemarau harus diantisipasi dengan pengelolaan pakan yang lebih terencana.“Ketika ketersediaan hijauan menurun, peternak tidak hanya menghadapi persoalan jumlah pakan, tetapi juga kualitasnya,” kata Wiwin.
Ia meminta peternak tidak menunggu sampai stok rumput benar-benar kritis. Cadangan pakan perlu disiapkan sejak awal dengan memanfaatkan sumber pakan lokal dan mengolahnya menjadi pakan awetan seperti silase atau hay.
Dinas Perikanan dan Peternakan KBB juga akan memperkuat pemantauan kondisi pakan dan air melalui UPTD, BPP dan penyuluh. Upaya tersebut dilakukan agar kekurangan pakan dapat diketahui dan ditangani lebih awal.
Berdasarkan data sementara 2026, populasi ternak ruminansia di KBB mencapai 5.960 ekor sapi potong, 26.717 ekor sapi perah, 14.744 ekor kambing dan 184.123 ekor domba.
Wiwin menegaskan, ketahanan pakan perlu dibangun sebelum musim kemarau tiba. Selain cadangan pakan, peternak juga diminta memastikan ketersediaan air minum yang cukup serta memantau kondisi tubuh dan produktivitas ternak





