Teropong Indonesia, KOTA BANDUNG – Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, memberikan seruan keras kepada generasi muda untuk tidak sekadar menjadi penonton dalam proses pembangunan.
Ia menegaskan bahwa pemerintah membutuhkan “gangguan” produktif berupa kritik tajam yang didukung oleh data dan riset mendalam.
Hal tersebut disampaikan Farhan dalam sharing session bertajuk “Peran Gen Z dalam Memberikan Saran dan Kritik kepada Wakil Rakyat” yang digelar di Kantor DPW PKS Jawa Barat, beberapa waktu lalu.
Kritik Bukan Sekadar Opini, Tapi Solusi Ilmiah
Farhan menggarisbawahi bahwa di era digital, Gen Z memiliki akses tak terbatas terhadap teknologi dan informasi.
Keunggulan ini seharusnya dimanfaatkan mahasiswa untuk membedah kebijakan publik secara akademis sebelum melontarkan protes.
“Mahasiswa harus melakukan riset. Manfaatkan teknologi yang ada. Hasil riset itulah yang harus dijadikan peluru untuk mengkritik pemerintah,” tegas Farhan.
Ia mengakui bahwa bagi pembuat kebijakan, kritik seringkali terasa pahit.
Namun, ia memandang “ketidaknyamanan” tersebut sebagai obat esensial agar pemerintah tidak terjebak dalam ruang gema (echo chamber) yang menutup mata dari realita lapangan.
Menjaga Demokrasi Tetap Waras Secara eksplisit, Farhan memperingatkan bahaya jika sebuah kekuasaan berjalan tanpa kontrol publik.
Menurutnya, keterlibatan aktif anak muda adalah benteng terakhir dalam menjaga kualitas kebijakan.
“Pemerintah jangan dibiarkan asyik sendiri. Kami harus dikritik. Melalui kritik, kita dipaksa berpikir ulang dan mencari jalan keluar yang lebih baik. Dari sanalah solusi baru sering muncul,” tambahnya.
Senada dengan Wali Kota, Anggota DPRD Jawa Barat, Tedy Rusmawan, menilai posisi strategis kampus sebagai lumbung kajian ilmiah sangat krusial bagi parlemen.
Ia berharap dialog semacam ini menjadi pemantik bagi anak muda untuk berani menyuarakan gagasan pembangunan, terutama di sektor infrastruktur dan pendidikan yang tengah menjadi prioritas provinsi.
Sementara itu, Muhammad Akmal Arfat selaku Ketua Panitia, menjelaskan bahwa forum ini sengaja dirancang untuk memutus jarak antara rakyat dan wakilnya.
Ia ingin Gen Z Bandung Raya menyadari bahwa mereka memiliki kursi di meja pengambilan kebijakan.
Poin Utama Seruan Wali Kota:
Aktivisme Berbasis Data: Kritik harus berlandaskan riset, bukan sekadar sentimen.
Pengawasan Publik: Pemerintah dilarang berjalan tanpa pengawasan ketat dari generasi muda.
Demokrasi Sehat: Perbaikan kebijakan hanya bisa terjadi jika ada dialektika antara pemerintah dan masyarakat. (Gani Abdul Rahman)





