Kemenag Cimahi Perkuat Peran Guru Honorer sebagai Garda Depan Kerukunan Beragama

Teropong Indonesia, KOTA ClMAHI – Kementerian Agama (Kemenag) Kota Cimahi menegaskan komitmennya dalam memperkuat nilai kerukunan umat beragama melalui dunia pendidikan. Komitmen tersebut diwujudkan lewat kegiatan Penguatan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Madrasah Tahun 2026 yang digelar di Aula Kemenag Kota Cimahi, Rabu (4/1/2026).

Mengusung tema Internalisasi Nilai Kerukunan Umat Beragama dalam Pembelajaran, kegiatan ini diikuti 100 guru honorer madrasah swasta se-Kota Cimahi. Mereka merupakan pendidik yang telah mengabdi lebih dari satu dekade namun belum memperoleh sertifikasi. Para peserta dipilih dari sekitar 500 guru honorer yang memenuhi kriteria di wilayah tersebut.

Kegiatan berlangsung dalam dua sesi, pagi dan siang, dengan fokus pada penguatan wawasan moderasi beragama sekaligus peningkatan kapasitas guru dalam mengintegrasikan nilai toleransi ke dalam proses belajar mengajar.

Kepala Kantor Kemenag Kota Cimahi, Baiq Raehanun Ratnasari, menekankan bahwa guru memiliki posisi strategis dalam membentuk karakter generasi muda, terutama dalam menanamkan sikap saling menghargai di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.

“Guru bukan hanya pengajar, tetapi juga teladan. Karena itu, mereka perlu memiliki pemahaman yang kuat tentang moderasi beragama agar nilai-nilai tersebut dapat ditransfer kepada peserta didik sejak dini,” ujarnya.

Ia berharap para guru honorer dapat menjadi agen kerukunan, yang mampu menumbuhkan sikap terbuka dan inklusif di lingkungan madrasah maupun masyarakat sekitar.

Sementara itu, Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kemenag Kota Cimahi, Evi Soviawati, menjelaskan bahwa konsep moderasi beragama sering kali disalahpahami. Menurutnya, moderasi beragama tidak mengubah ajaran agama, melainkan menata cara beragama agar selaras dengan realitas sosial yang majemuk.

“Yang dimoderasi bukan agamanya, tapi cara kita menyikapi perbedaan. Anak-anak madrasah hidup di tengah masyarakat yang beragam, sehingga guru harus mampu menginsersikan nilai tersebut dalam setiap mata pelajaran,” jelasnya.

Evi menambahkan, nilai-nilai moderasi sejatinya telah lama hidup di lingkungan madrasah melalui pengamalan Pancasila dan semangat Bhinneka Tunggal Ika. Namun, tantangan generasi saat ini menuntut penguatan yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.

Sebagai contoh praktik baik, ia menyebut Madrasah Tsanawiyah Negeri Cimahi yang mengenalkan keberagaman budaya Nusantara melalui penamaan kelas berdasarkan daerah di Indonesia, seperti Papua dan Nusa Tenggara Barat.

“Dari hal sederhana itu, siswa belajar mengenal budaya, sejarah, dan identitas daerah lain. Ini menjadi cara efektif untuk menanamkan rasa hormat terhadap perbedaan sekaligus memperkuat kecintaan pada NKRI,” tuturnya.

Selain penguatan materi, Kemenag Kota Cimahi juga memberikan bantuan paket sembako kepada seluruh peserta sebagai bentuk apresiasi dan perhatian terhadap dedikasi guru honorer yang selama ini menjadi tulang punggung pendidikan madrasah.

Melalui kegiatan ini, Kemenag berharap madrasah tidak hanya menjadi pusat pendidikan keagamaan, tetapi juga ruang tumbuhnya nilai toleransi, kebangsaan, dan persatuan di tengah keberagaman Indonesia. (Gani Abdul Rahman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *