Teropong Indonesia, KOTA CIMAHI — Meningkatnya usia harapan hidup penduduk Indonesia membawa konsekuensi baru bagi pemerintah daerah, termasuk Kota Cimahi.
Bertambahnya jumlah warga lanjut usia (lansia) menuntut kebijakan yang tidak hanya berfokus pada kesehatan, tetapi juga pada kemandirian dan produktivitas agar lansia tetap memiliki kualitas hidup yang baik.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Cimahi, Fitriani Manan, menyatakan bahwa peningkatan populasi lansia berpotensi meningkatkan angka ketergantungan jika tidak diimbangi dengan program pemberdayaan yang tepat.
“Usia harapan hidup meningkat, otomatis jumlah lansia juga bertambah. Tantangannya adalah bagaimana agar lansia tetap mandiri dan tidak menjadi kelompok dengan ketergantungan tinggi,” ujarnya saat dikonfirmasi Senin, 02/02/2026.
Sebagai respons atas kondisi tersebut, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) melalui OPD KB meluncurkan program Sekolah Lansia Tangguh (Selantang).
Program ini merupakan pendidikan nonformal sepanjang hayat yang dirancang untuk membentuk lansia berkualitas dengan prinsip SMART — Sehat, Mandiri, Aktif, dan Produktif.
Menurut Fitriani, Selantang tidak hanya menitikberatkan pada aspek kesehatan fisik, tetapi juga mental dan sosial. Lansia diajak untuk tetap bersosialisasi, beraktivitas, serta mengembangkan keterampilan yang dapat menunjang kemandirian ekonomi.
“Lansia yang aktif bersosialisasi cenderung lebih sehat secara mental. Ini juga diyakini dapat memperlambat kepikunan dibandingkan lansia yang hanya berdiam diri di rumah,” jelasnya.
Program ini menyasar lansia yang masih tinggal bersama keluarga dan tergabung dalam kelompok Bina Keluarga Lansia (BKL). Melalui berbagai kegiatan, peserta mendapatkan pelatihan keterampilan yang hasilnya memiliki nilai ekonomi.
“Contohnya di Budi Luhur, para lansia membuat syal. Hasilnya bisa dipasarkan dan memberikan nilai tambah,” kata Fitriani.
Saat ini, Sekolah Lansia Tangguh di Kota Cimahi masih bersifat pilot project dengan keterbatasan sumber daya manusia. Tercatat, baru ada empat sekolah lansia yang aktif, yakni di Budi Luhur, Pasirkaliki, Cigugur (Mawar Merah), dan Cimahi Utara (KTM Ceria).
Pelaksanaan program dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor, seperti Puskesmas untuk layanan kesehatan, penyuluhan gizi, serta kegiatan olahraga, dan PUSPAGA untuk pendampingan psikologis.
Fitriani menegaskan bahwa Sekolah Lansia Tangguh bukanlah panti jompo. Lansia tidak menginap, melainkan mengikuti kegiatan lalu kembali ke rumah masing-masing.
“Ini murni program pemberdayaan berbasis masyarakat. Tujuannya agar lansia tetap bahagia, produktif, dan berdaya di lingkungan keluarga maupun sosialnya,” pungkasnya. (Gani Abdul Rahman)





