Penulis: Dr. Ny. Umnia Labibah S.Th.i, M.Si (Sekertaris Komisi Perempuan, Remaja dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Banyumas)
Kasus bullying dari hari ke hari menunjukan keprihatinan yang mendalam, tak sedikit berakhir dengan kematian. Locus-nya hanpir di semua jenjang, baik di tingkat dasar, bahkan pula di perguruan tinggi. Kisah siswa SD di Banyuwangi, kisah siswa SMP di Grobogan dan Badung Bali hingga kisah Timothy, mahasiswa Unud Bali yang kasusnya masih diperdebatkan.
Sedemikian parahkah bullying, hingga korban-korbannya sampai memilih memilih mengakhiri hidupnya? Mengapa bullying seolah menjadi hantu bagi kesehatan mental?
Tidak bisa dielakkan, dunia hari ini telah berubah dengan adanya revolusi digital yang telah menempatkan media sosial sebagai kekuatan mutakhir yang merubah wajah relasi sosial manusia.
Smarthphone telah merubah cara kita bersosialisasi. Di era printhing, kita dibebtuk menjadi manusia pro aktif. Bergerak dan bersosialisasi. Tapi di era kini manusia justru sangat reaktif akibat informasi online yang tidak memiliki batasan ruang dan waktu.
Sebut saja, dahulu orang bersosialisasi dan berkomunikasi dengan fisik. Sehingga tafsir-tafsir perilaku didapatkan dari adanya kontak sosial. Tapi hari ini, kita memiliki ruang sosialisasi yang tak berbatas. Di sekolah anak-anak kita bertemu, mungkin bermain atau berkonflik. Dan ini berlanjut di media sosial, yang bahkan menembus waktu istirahat.
Kegaduhan di dunia nyata, di jaman dahulu bisa diredam ketika kita kembali ke rumah. Mendapatkan ruang aman dan nyaman. Tapi media sosial dan smarthphone telah mengusiknya, bullying di sekolah bisa berlanjut bahkan satu detik sebelum anak tidur malam. Pada kasus timothy, bahkan setelah kematianbya, bullying masih betlanjut dan di produksi di dunia maya, di media sosial.
Inilah tantangan mentalnya, dimana bullying masuk ke dalam ruang-ruang privat, bahkan ruang aman. Media sosial menjadi produsen kebencian, sentimen kelompok, produsen reakstifikasi yang berulang. Parahnya, media sosial ampuh mensosialisasikan “sesuatu” secara cepat dan masif. Katakanlah, ujaran kebencian dari si A, bisa beruntun terinformasi pada yang lain dan menjadi “representasi digital” tentang suatu hal. Ini kemudian memunculkan echo chambers, ruang gema yang seolah memunculkan hal itu lagi dan lagi. Sehingga bullying yang di dera seseorang bisa seolah kebenaran.
Keadaan ini adalah ancaman serius. Belum lama saya merasakan pada anak saya misalnya, yang karena beberapa hari tidak masuk sekolah, saat akan masuk sdh mendapatkan bullying dari grup Whatssapp teman-temannya. Seandainya tidak ada media sosial ini, anak akan masuk sekolah dengan nyaman, tapi media sosial bahkan telah mengancam sedemikian rupa, tanpa anak-anak harus bertemu. Efeknya luar biasa, si anak mengatakan kakinya genetar dan tidak bisa berdiri untuk berangkat sekolah.
Ini hanya contoh kasus bagaimana hari ini kita dihadapkan pada situasi yang diluar kontrol kita. Media sosial telah mengambil begitu banyak ruang aman dan nyaman anak-anak, sehingga bullying tereproduksi semakin intens. Bukan hanya di dunia nyata tapi terus pula di dunia maya.
Tentu ini adalah tantangan dan tugas bersama kita, menjaga keluarga dari ancaman ganasnya media sosial. Mengapa?
Karena fenomena bullying sebenarnya bukan hal baru. Fenomena ini sudah ada sejak masa nabi dan al-Quran mengcapturenya dengan apik dalam QS.al-Hujurat:11, al-Quran mengingatkan umat beriman agar tidak jatuh dalam perbuatan yang jika diidentifikasi masuk dalam kategori bullying, diantaranya : merendahkan (la yaskhor), mengejek orang lain (la talmizu), melaqobi orang lain dengan laqob yang buruk (wala tanabazu).
Serta di QS al-Hujurat ayat 12, ada perilaku yang diingatkan pula yaitu tidak berprasangka buruk (dzon), mencari-cari kesalahan orang (Tajasasu), dan menggunjing (la yaghtab).
Fenomena bullying memang persoalan sosial yang nyata, tapi hari ini makin meranggas dan berevolusi seiring revolusi sosial kita.
Kita perlu peduli. Karena bullying kini ancaman nyata. Al-Quran dengan keras menyebut perilaku bullying sebagai perilaku dzalim, dan mengingatkan para pelakunya untuk bertaubat, menguatkan takwa. Serta memperbaiki perilakunya sebagai wujud takwa di antaranya dengan berkata yang baik (al ahzab:30).
Al Quran juga merekam bahwa perilaku ini punya dampak besar pada korban, maka bahkan al-Quran selain menasihati para korban untuk bersabar juga memberikan pilihan untuk keluar dari cyrcle di mana ia mejadi korban bulying (QS al Muzammil:10)
Mari jaga orang-orang tercinta kita, baik dari korban maupun sebagai bagian prilaku buruk ini.





