TEROPONG INDONESIA, Bandung – Di balik dinding modern Gedung PLN Unit Induk Distribusi Jawa Barat di Jalan Cikapundung Timur, tersembunyi sebuah peninggalan sejarah yang tak lekang oleh zaman.
Dikelilingi lantai keramik dan penutup berwarna emas, Sumur Bandung berdiri sunyi namun sarat makna, menjadi saksi bisu perjalanan kota sejak abad ke-19.
Bukan sumur biasa, Sumur Bandung dikenal sebagai “sumur karahayuan” sumur pembawa keselamatan bagi Kota Bandung dan warganya. Airnya konon tak pernah kering sejak pertama kali memancar dari tanah pada tahun 1811.
Hingga hari ini, air di dalamnya tetap jernih, seolah tak terpengaruh oleh waktu dan hiruk-pikuk kota di sekelilingnya.
Legenda Sumur Bandung tak bisa dilepaskan dari sosok Raden Adipati Wiranatakusumah II, Bupati Bandung ke-6 yang dikenal sebagai Dalem Kaum I.
Pada awal abad ke-19, Raden Adipati Wiranatakusumah II memindahkan ibu kota Kabupaten Bandung dari daerah Karapyak di selatan ke lokasi yang kini menjadi pusat Kota Bandung.
Dalam salah satu kisah yang berkembang, saat tengah mencari lokasi baru untuk pusat pemerintahan, sang adipati menancapkan tongkatnya di sebuah tanah kosong untuk beristirahat.
Saat tongkat itu dicabut, dari bekas tancapannya memancar air jernih air yang kemudian digali menjadi sebuah sumur. Tempat itulah yang kini menjadi lokasi Sumur Bandung.
Konon, sang adipati menyebut bahwa air itu akan membawa “karahayuan” atau keselamatan bagi masyarakat Bandung. Keyakinan itu masih diyakini hingga hari ini oleh sebagian warga, terutama mereka yang percaya akan kekuatan spiritual dan sejarah tempat-tempat tua di Bandung.
Catatan sejarah menyebutkan, pendirian Kabupaten Bandung bermula dari kebijakan Kesultanan Mataram pada tahun 1641, yang memberikan wilayah Priangan kepada tokoh-tokoh lokal sebagai penghargaan atas keberhasilan mereka menumpas pemberontakan Dipati Ukur.
Tiga kabupaten dibentuk saat itu: Bandung, Parakanmuncang (sekarang bagian dari Sumedang), dan Sukapura (kini Tasikmalaya).
Raden Adipati Wiranatakusumah II adalah keturunan dari garis bupati pertama Bandung, Tumenggung Wiraangunangun. Di tangannyalah, ibu kota Bandung dipindahkan ke wilayah Cikapundung yang kelak menjadi pusat pemerintahan dan cikal bakal Kota Bandung modern.
Versi lain menyebutkan, peristiwa keluarnya mata air bukan terjadi saat pencarian lahan, melainkan sepulangnya Wiranatakusumah II dari perjalanan jauh, tepatnya dari Subang.
Ia beristirahat sejenak, menancapkan tongkatnya, lalu ketika mencabutnya, muncullah air yang hingga kini tidak pernah berhenti mengalir.
Meski tersembunyi di dalam kantor PLN, Sumur Bandung tidak pernah benar-benar dilupakan. Di bagian luar sumur, terdapat plakat berbahasa Sunda yang menjadi pengingat tujuan dari keberadaan mata air ini:
“Sumur Bandung méré karahayuan ka rahayat Bandung, Sumur Bandung rahayuning Dayeuh Bandung…”
Tertulis pula tanggal 25 Mei 1811—tanggal yang dipercaya sebagai hari ditemukannya sumur tersebut oleh sang adipati.
Kini, sumur ini bukan hanya bagian dari sejarah, tetapi juga simbol spiritual dan budaya masyarakat Bandung. PLN sebagai pengelola gedung bahkan merawat keberadaan sumur ini dengan serius.
Pengunjung yang datang, baik untuk sekadar melihat maupun mendoakan, tidak pernah sepi, terutama saat hari-hari tertentu yang dianggap sakral.
Sumur Bandung menjadi pengingat bahwa di balik modernitas Kota Kembang, tersimpan jejak-jejak masa lalu yang membentuk identitas kota ini.
Ia bukan hanya tempat, melainkan simbol tentang bagaimana sebuah kota tumbuh bukan hanya dari bangunan tinggi dan jalan lebar, tetapi juga dari doa, kepercayaan, dan nilai-nilai leluhur yang melekat kuat di setiap jengkal tanahnya.
Dalam derap langkah Bandung menuju masa depan, Sumur Bandung berdiri sebagai saksi bahwa sejarah dan spiritualitas tetap memiliki tempat penting. Airnya terus mengalir, sebagaimana harapan dan doa untuk Bandung yang tak pernah surut. (Gani Abdul Rahman)





