Oleh: Asep Tapip Yani
Dosen UMIBA Jakarta
Di layar kecil itu kita tertawa,
bukan karena lucu, tapi karena lelah.
Kata-kata aneh bertebaran,
logika jungkir-balik,
realitas dikocok seperti gacha.
Mungkin ini candaan,
mungkin ini peringatan,
tentang betapa otak kita
tak lagi punya jeda untuk bernapas.
Fenomena brainrot istilah yang awalnya sekadar menggambarkan kebosanan otak akibat terpapar konten receh dan absurd kini telah bermetamorfosis menjadi sebuah anomali budaya. Di Indonesia, tren ini merajalela lewat TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts, memicu banjir istilah nyeleneh seperti skibidi, sigma, atau rizz yang hanya dimengerti oleh komunitasnya sendiri.
“Skibidi rizz sigma” adalah gabungan istilah gaul yang populer di kalangan Gen Alpha. Skibidi merujuk pada serial YouTube “Skibidi Toilet” yang sering dikaitkan dengan hal-hal buruk atau aneh. Rizz adalah singkatan dari “charisma” yang berarti kemampuan untuk menarik atau memikat orang lain. Sigma merujuk pada seseorang yang dianggap mandiri, dominan, dan memiliki aura kepemimpinan. Jadi, “skibidi rizz sigma” bisa diartikan sebagai seseorang yang punya daya tarik (rizz) tapi dengan cara yang aneh atau mungkin dianggap kurang baik (skibidi), dan cenderung memiliki sifat sigma (mandiri dan dominan). Contoh penggunaan: “Dia itu skibidi rizz sigma, gayanya aneh tapi banyak cewek yang suka.” (Dia punya daya tarik aneh yang membuatnya menarik di mata wanita, tapi gayanya terkesan aneh atau tidak biasa).
Penting untuk dicatat: Istilah-istilah ini seringkali digunakan dalam konteks informal dan bercanda, terutama di media sosial. Pemahaman tentang istilah-istilah ini bisa membantu memahami bahasa gaul yang digunakan oleh Gen Alpha.
Bagi generasi Z dan Alpha, brainrot bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah bahasa identitas. Meme absurd menjadi sandi rahasia yang mengikat pertemanan, membentuk inside joke lintas provinsi, bahkan lintas negara. Tidak jarang, potongan humor ini digunakan sebagai kritik sosial terselubung sindiran terhadap politik, gaya hidup, dan ketimpangan.
Namun, di balik tawa, ada pertanyaan serius: apakah ini sekadar fase humor atau gejala overload kognitif? Psikolog memperingatkan bahwa banjir konten cepat dan serba instan dapat mengikis rentang perhatian, memicu doomscrolling, dan melemahkan kemampuan kita untuk menikmati narasi panjang. Meski begitu, riset juga menunjukkan hubungan antara “screen time” dan kesehatan mental tidak sesederhana sebab-akibat. Ada konteks, ada faktor lain.
Dari perspektif sosiologi, brainrot adalah bentuk cultural resistance perlawanan halus terhadap tuntutan hidup yang kian menekan. Saat realitas terlalu serius, generasi muda memilih membungkus keresahan mereka dalam absurditas. Dari perspektif ekonomi kreatif, ini adalah ladang emas: konten absurd yang relatable mampu mencetak jutaan penonton dalam hitungan jam. Brand, influencer, bahkan politisi mulai memanfaatkan format ini untuk meraih perhatian publik.
Tapi di sinilah letak bahayanya. Humor absurd yang dimonetisasi tanpa memahami konteks mudah terjerumus jadi “SLANG-washing” sekadar numpang tren demi eksposur. Dampaknya? Audiens muda cepat mengendus kepalsuan, dan kepercayaan pun runtuh.
Dalam ruang pendidikan, brainrot bisa menjadi alat sekaligus ancaman. Dipakai dengan cerdas, meme dan konten absurd dapat menjadi hook untuk menarik minat belajar. Dipakai tanpa arah, ia hanya akan menambah kebisingan digital yang membungkam konsentrasi. Orang tua dan guru perlu mengubah pendekatan: bukan melarang mentah-mentah, tapi mengajak dialog meminta siswa menjelaskan “apa lucunya” untuk melatih analisis kritis dan literasi media.
Fenomena brainrot adalah potret zaman kita: cepat, dangkal, tapi juga kreatif dan cair. Ia bisa menjadi kanal ekspresi yang sehat, atau menjadi kabut yang mengaburkan kejernihan berpikir. Pilihan ada di kita, apakah membiarkan otak busuk pelan-pelan, atau menjadikannya pupuk untuk menumbuhkan imajinasi dan kesadaran baru.
“Humor adalah senjata orang kecil. Tapi seperti semua senjata, ia bisa melukai tangan yang memegangnya.” – Howard Zinn





