Tim ‘Kecebong’, Garda Terdepan Pemeliharaan Drainase Kota Cimahi di Tengah Tantangan Penataan Utilitas

Teropong Indonesia, KOTA CIMAHI – Pemerintah Kota Cimahi melalui Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) terus berupaya menjaga keberlangsungan sistem drainase kota melalui pendekatan sistematis. Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah membentuk tim khusus bernama ‘Kecebong’, yang merupakan singkatan dari Kelompok Pengecekan dan Pembersihan Gorong-gorong.

Tim ini menjadi garda terdepan dalam memastikan saluran air tetap berfungsi optimal. Dengan pembagian kerja yang jelas, Kecebong terdiri atas dua unit: tim inspeksi harian yang dikenal dengan sebutan mantri kamarir, serta tim pembersih yang bertugas mengangkat sampah dan endapan yang menyumbat saluran.

“Tim kami bekerja setiap hari memantau kondisi saluran. Jika ditemukan penyumbatan atau kerusakan tanggul, mereka segera melaporkan untuk ditindaklanjuti,” ungkap Sambas Subagja, Kepala Bidang Perumahan dan Permukiman DPKP Kota Cimahi, dalam keterangannya baru-baru ini.

Sambas mengungkapkan bahwa mayoritas kendala di lapangan bersumber dari perilaku membuang sampah sembarangan, khususnya di wilayah hulu dan sepanjang jalan kota. Sebagai contoh, di kawasan RW 28 Melong, saluran drainase kerap dipenuhi sampah kiriman dari berbagai arah.

“Yang membuang sampah di saluran itu tidak hanya warga sekitar. Jalan di sana dilintasi banyak orang dari luar kawasan, dan mereka seenaknya membuang sampah ke saluran,” jelasnya.

Selain masalah sampah, tantangan signifikan lainnya datang dari keberadaan jaringan utilitas seperti kabel listrik, pipa, dan fiber optik yang melintang di dalam saluran. Keberadaan utilitas ini sering kali menghambat proses pembersihan dan perawatan saluran.

“Kita sudah sering berkoordinasi dengan pihak terkait seperti PLN dan pemilik jaringan fiber optik. Tapi tidak mudah, karena ada kendala teknis seperti elevasi dan identifikasi pemilik jaringan,” kata Sambas.

Namun, Sambas juga menyebutkan bahwa ada momen sukses kolaborasi lintas instansi saat penataan saluran di Jalan Amir Mahmud. “Ketika saluran ditingkatkan kapasitasnya oleh BBPJN, kabel-kabel juga ikut ditata. Ini menjadi contoh penataan drainase yang terintegrasi,” tambahnya.

Untuk mengatasi permasalahan jangka panjang, Pemkot Cimahi melalui Dinas Pekerjaan Umum merencanakan pemasangan ducting jalur khusus untuk utilitas di beberapa ruas jalan utama. “Informasinya, pemasangan akan dimulai dari Jalan Gandawijaya dan kawasan Alun-Alun,” ujar Sambas.

Terkait dampak tim Kecebong terhadap pengurangan kawasan kumuh, Sambas mengakui kontribusi tersebut bersifat tidak langsung dan sulit diukur secara kuantitatif. Pasalnya, indikator pengentasan kawasan kumuh mencakup tujuh aspek infrastruktur dasar, dan pemeliharaan drainase hanya salah satunya.

“Penurunan kawasan kumuh biasanya dihitung berdasarkan pembangunan, bukan pemeliharaan. Jadi walau peran tim Kecebong penting, datanya tidak bisa langsung dikaitkan secara angka,” jelasnya.

Meski begitu, keberadaan tim Kecebong tetap menjadi bagian penting dari ekosistem perkotaan Cimahi, terutama dalam upaya menjaga kebersihan lingkungan, mencegah banjir, dan mempertahankan infrastruktur drainase agar tetap berfungsi optimal. (Gani Abdul Rahman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *