Istilah Arab Tentang Tangan Putih, Hitam dan Hijau Khusus Para Dermawan

Pernahkan anda mendengar orang tua mengungkit-ngungkit kebaikan kepada anaknya? Ia berkata : “Apa kau lupa bahwa bapak telah membiayai pendidikanmu lantas mana balasanmu?”, Atau seseorang kepada orang yang telah dibantunya? Ia berkata : “Dahulu ketika ia susah maka aku membantunya namun sekarang ketika giliran aku yang susah maka ia tidak mau membantuku? Orang macam apa dia itu?”.

Ibnu Sirin suatu ketika mendengar orang yang mengungkit-ngungkit pemberian kepada orang lainnya maka Ibnu Sirin berkata :
اُسْكُتْ فَلَا خَيْرَ فِي الْمَعْرُوفِ إذَا أُحْصِيَ
Diamlah kamu, tidak ada baiknya kebaikan jika ia dihitung-hitung. [Adabud Dunya Wad Din]

Imam Al-Qurtubi mengutip statement mayoritas ulama : “Sedekah yang diketahui oleh Allah bahwa orang yang memberikannya itu akan mengungkit-ngungkitnya atau menyakiti orang yang diberi, maka sedekah tersebut tidak akan diterima oleh Allah”. Dan ada yang berpendapat, “bahkan Allah menaruh tanda khusus pada pemberian tersebut kepada malaikat pencatat amal sehingga mereka tidak mencatat sedekah itu dalam catatan amal kebaikan”.

Orang Arab memberikan istilah kepada orang yang suka mengungkit-ngungkit pemberian sebagai “tangan hitam”, dan untuk orang yang memberi tanpa dimintai sebagai “tangan putih”, dan untuk orang yang memberi setelah dimintai sebagai “tangan hijau”. Dan ulama berkata
مَنْ مَنَّ بِمَعْرُوفِهِ سَقَطَ شُكْرُهُ ، وَمَنْ أُعْجِبَ بِعَمَلِهِ حُبِطَ أَجْرُهُ
“Barang siapa yang mengungkit-ngungkit kebaikannya, maka gugurlah syukurnya dan barang siapa yang ujub (bangga) dengan amalnya sendiri maka leburlah pahalanya”. [Al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an]

Mengungkit pemberian dalam bahasa Arab disebut dengan istilah “Al-Mannu” yang di dalam kamus sebutkan :
مَنَّ الشَّيْءُ نَقَصَ وَمَنَّ الأَمْرُ فُلَانًا أَضْعَفَهُ وَأَعْيَاهُ
Manna As-Sya’u artinya sesuatu berkurang, Manna Al-Amru Fulanan artinya satu urusan melemahkan dan memayahkan Fulan. [almaany com]

Baca Juga :  Hukum Menggunakan Wifi Tetangga Tanpa Izin

Dan selaras dengan artinya, mengungkit-ngungkit pemberian itu akan dapat mengurangi pahala sedekah bahkan hal itu bisa membuat orangnya mendapat susah payah karena amalnya sia-sia. Allah SWT berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian batalkan (pahala) sedekah kalian dengan mengungkit-ungkit pemberian dan menyakiti (yang diberi)…” [QS Al-Baqarah : 264]

Dalam lanjutan ayat tersebut, Allah menyamakannya dengan perbuatan orang yang menafkahkan hartanya karena riya (pamer) kepada manusia. Amal yang demikian diumpakan seperti debu yang berada di atas batu yang licin lalu terkena hujan deras, tentu tidak akan tersisa debunya. Allah SWT berfirman :
كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا
… (Maka perumpamaan orang itu) seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (dari tanah). [QS Al-Baqarah : 264]

Dalam hadits, diriwayatkan dari sahabat Abu Dzarr RA, Nabi SAW bersabda :
ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Ada tiga golongan manusia yang Allah tidak akan mengajak mereka bicara pada hari kiamat, tidak sudi memandang mereka, tidak mensucikan dosanya dan mereka akan mendapatkan siksa yang pedih.”

Abu Dzar bertanya : “Sungguh merugi mereka, siapakah mereka wahai Rasulullah?” Beliau menjawab :
الْمُسْبِلُ وَالْمَنَّانُ وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ
“Orang lelaki yang melakukan isbal (memanjangkan kain pakaiannya sampai melebihi mata kaki karena sombong), orang yang suka mengungkit-ungkit pemberian, dan orang yang (berusaha) melariskan barang dagangan dengan sumpah palsu.” [HR Muslim]
Bahkan dalam hadits lain disebutkan :
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنَّانٌ
orang yang suka mengungkit-ungkit pemberian itu tidak akan masuk surga. [HR Ahmad]

Baca Juga :  Tingkatan Berzina, Dosa & Hukumannya

Disebutkan dalam satu kisah dengan judul “Al-Karim Al-Mannan” bahwa di satu kota terdapat seorang lelaki yang kaya nan dermawan terlebih kepada fakir miskin namun demikian ia memiliki sikap buruk yaitu ia membanggakan dirinya di hadapan fakir miskin ketika memberikan sedekah. Jika ada orang fakir meminta sedekah satu dirham maka ia berkata dengan suara keras di hadapan banyak orang :
دِرْهَمٌ وَاحِدٌ ؟ أَنَا لَا أُعْطِي أَحَداً دِرْهَماً وَاحِداً فَقَطْ خُذْ هَذِهِ عَشْرَةَ دَرَاهِمَ
“Apa? Satu dirham saja? Tidak, aku tidak pernah memberi orang dengan hanya satu dirham saja. Ambil ini 10 dirham”.
Dan jika ia bertemu dengan orang fakir yang telah ia beri sedekah, maka ia berkata di depan orang banyak : ”Kau gunakan untuk apa uang yang aku beri kemaren?… Apa masalahmu sudah teratasi dengan sedekahku itu?”. Karena sifat buruknya ini, ia tidak disukai banyak orang.

Suatu ketika, ada seorang pemuda ingin memberikan pelajar berharga untuk menyadarkannya. Pemuda itu duduk di pinggiran jalan yang biasa dilalui oleh orang kaya itu dengan mengenakan pakaia yang lusuh layaknya pengemis. Ia menaruh mangkok kecil yang kosong yang sudah ia rancang. Ketika orang kaya itu lewat maka pengemis itu berkata : “wahai tuan, sudikah kiranya engkau menaruh satu dirham saja ke dalam mangkokku ini”. Mendengar permintaan ini, orang kaya tersebut tertawa dan dengan bangga ia berkata seperti biasanya : “Satu dirham? Oh tidak, aku akan memenuhi mangkokmu dengan beberapa dirham.” Ia lanta memanggil salah satu pengawalnya untuk mengisi mangkok dengan uang dirham hingga penuh. Satu demi satu dirham ditaruh di mangkok itu hingga ada 100 dirham namun tidak juga bisa memenuhi mangkok tersebut.Iapun menghabiskan semua dirham yang ada di kantong uang namun tidak juga bisa memenuhinya. Pengawalnya melapor “ Tuan, mangkok tidak juga terisi penuh padahal sudah aku habiskan uang dirham dalam kantong. Orang kaya itu menjadi panik, karena uang yang dibawanya habis. Ditengah keheranannya, pengemis berkata : “Tahukah tuan, kenapa uangmu tidak bisa memenuhi mangkok ini?”. Ia lantas mengangkat mangkok yang ternyata berlubang di bagian bawahnya dan tanah dibawahnya juga berlubang sehingga semua uang dirham tadi masuk kedalam lubang di dalam tanah.
“Tanah ini telah melahap semua uangmu dan seperti itulah kesombonganmu dan mengungkit-ngungkit pemberian akan menenyapkan semua pahala sedekahmu”. Lantas pengemis itu mengembalikan semua dirham kepada orang kaya tersebut.

Baca Juga :  Kafa'ah Ikhtiar Menemukan Pasangan ideal

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk gemar bersedekah tanpa mengungkit-ngungkitnya dan menyakiti perasaan penerima.

Penulis: Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

Pondok Pesantren Wisata
AN-NUR 2 Malang Jatim
Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata
Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *