Hardiknas 2023 Bersama Dr. Ida Rohayani, S.Pd, M.Pd, Awal Kisah Kuliah Doktoral Dari Sakit Hati Menjadi Prestasi

(Kota Bandung)-, Bagi seorang perempuan, pendidikan sangat penting sebagai bekal dirinya dalam mendidik anak, mengurus rumah tangga, berkarir dan bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya.

Hari Pendidikan Nasional atau Hardiknas diperingati setiap 2 Mei. Tema Hardiknas 2023 adalah “Bergerak Bersama Semarakkan Merdeka Belajar”. Sebagai upaya memperingati hari nasional tersebut, Koran SINAR PAGI menayangkan publikasi hasil wawancara langsung bersama Dr. Ida Rohayani, S.Pd, M.Pd, tentang sejauh mana pentingnya pendidikan khususnya bagi kaum wanita.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMAN 3 Kota Bandung, Dr. Ida Rohayani, S.Pd, M.Pd, menjelaskan motivasi untuk melanjutkan pendidikan doktoral atau S3, itu karena sakit hati oleh ucapan anggota Dewan yang menyebutkan sertifikasi guru atau Tunjangan Profesi Guru hanya dipakai untuk kebutuhan pribadi seorang guru. “Maka saya ingin membuktikan bahwa sertifikasi atau tunjangan guru dipakai untuk mencerdaskan anak didik. Di antaranya melalui uang itu oleh para guru difungsikan untuk pembiayaan melanjutkan atau meningkatkan kualifikasi pendidikan. Apalagi di SMAN 3 Kota Bandung, pelajarnya pintar atau pandai-pandai. Sehingga gurunya harus lebih banyak belajar lagi untuk bekal mengajar di kelas. Selain itu tujuan melanjutkan kuliah ialah diniatkan untuk menghalalkan uang tunjangan yang diperolehnya dari pemerintah,” ucapnya saat mengawali wawancara khusus bersama media cetak dan online Koran SINAR PAGI di ruang kerjanya (27/4/2023)

Menurutnya dengan pendidikan yang ditempuhnya membuat dirinya memiliki relasi baru atau hubungan dengan orang-orang yang lebih hebat dan dewasa atau memiliki kematangan dalam berpikir & bersikap. Kalau kuliah di S3 itu kan harus menciptakan ilmu baru yang dirangkum dalam Disertasi, berbeda dengan saat S1 dengan Sekripsinya atau S2 dengan Tesisnya.

“Dulu itu sampai lulus doktoral diperkirakan menghabiskan biaya S3 mencapai Rp.100 Juta di Universitas Pendidikan Indonesia, namun ternyata ada biaya tambahan sehingga harus mengeluarkan biaya pendidikan sekitar Rp.150 juta. Di masa-masa itu perhiasan yang sering dipakai harus dikorbankan untuk membayar biaya kuliahnya,”ucapnya menceritakan prosesnya ketika berhasil menyelesaikan S3 PPKn UPI  dan menjadi guru pertama peraih gelar doktor.

Baca Juga :  Gebyar Pendidikan Non Formal Upaya Pengentasan Kemiskinan Ekstrem di Banyumas

Dari ilmu yang diraihnya, Dr. Ida Rohayani, S.Pd, M.Pd, mengungkapkan adanya keberkahan dan peluang yang lebih luas dalam karirnya. “Sempat mengikuti Sayembara atau kompetisi ide, gagasan, konsep yang dituangkan dalam bentuk rancangan, tulisan, desain atau bentuk lainnya yang diselenggarkan oleh Kementrian Pendidikan. Hasilnya sekarang berhasil menjadi tim untuk menulis buku utama PPKn / Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dan menulis buku. Sebelumnya sempat menjadi dosen di Telkom University Perguruan Tinggi yang didirikan BUMN dan menjadi Ketua Umum Perkumpulan Pendidik Pancasila dan Civics sekaligus Ketua MGMP PPKn SMA Kota Bandung. Selain itu juga dari ilmu, pengalaman atau prestasinya menjadikan sebagai guru yang terpilih untuk study banding ke luar negeri,” ungkapnya

“Pada dasarnya apa yang dijalani tidak lain hanya untuk memberikan layanan pendidikan yang terbaik bagi murid-murinya. Namun dengan gelar S3 ini banyak yang mendorong untuk menjadi dosen atau menjadi pemimpin di struktural sebagai kepala sekolah agar dapat memberikan manfaat yang lebih banyak,”ucapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *