Hari Santri Nasional 2026, Majalah Risalah NU Fokus Tumbuhkan Pojok Baca Baru di 5 Provinsi

Dwi Arifin, Staf Khusus Bidang Promosi dan Kerja Sama Majalah Risalah NU, terbitan Lajnah Ta'lif wan Nasyr, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama saat mempromosikan Majalahnya kepada Kepala SMAN 1 Padalarang, Lina S.Pd., M.T., Departemen Pengembangan Profesi Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia

TEROPONG INDONESIA-, Sebagai upaya mendekatkan bahan bacaan ke masyarakat, menumbuhkan kegemaran membaca media cetak atau menjadi tempat yang nyaman dan menyenangkan di ruang tunggu, sambil membuka berbagai khazanah. Majalah Risalah NU berupaya menumbuhkan Pojok Baca baru di berbagai ruangan yang belum dilengkapi bahan bacaan.

Dwi Arifin, Staf Khusus Bidang Promosi dan Kerja Sama Majalah Risalah NU, terbitan Lajnah Ta’lif wan Nasyr, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menjelaskan menumbuhkan Pojok Baca Majalah Risalah NU merupakan bagian dari upaya mengamalkan kaidah:

المُحَافَظَةُ عَلَى القَدِيمِ الصَّالِحِ وَالأَخْذُ بِالجَدِيدِ الأَصْلَحِ

“Memelihara nilai-nilai lama yang baik dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik.”

Jika dihubungkan dengan perkembangan cara manusia memperoleh informasi atau tambahan ilmu. Maka intinya dapat diartikan, tetap membaca media cetak, walaupun sudah ada media online atau media sosial. Dengan menggabungkan kedua sumber informasi tersebut merupakan upaya melengkapi referensi yang dibutuhkan.

“Pojok Baca baru yang rencananya mulai ditumbuhkan akan difokuskan di 5 Provinsi yaitu DKI Jakarta, Jabar, Jateng, Jatim dan DIY. Pojok Baca berbasis kolaborasi dengan pesantren, sekolah, perguruan tinggi, organisasi islam dan lokasi lainnya yang dijadikan pusat kegiatan masyarakat,” jelasnya setelah berkunjung ke SMAN 1 Padalarang mensosialisasikan Pojok Baca Majalah Risalah NU yang bertepatan dengan Hari Santri Nasional 22 Oktober 2026

Kepala Sekolah bersama muridnya saat menerima Majalah Risalah NU

Menurutnya khusus di sekolah, Pojok Baca dapat mendukung pelaksanaan kebijakan Catur Pusat Pendidikan dan Trigatra Bangun Bahasa dari Kemendikdasmen. Maka perlu ada Pojok Baca di lembaga pendidikan yang menyediakan bahan bacaan berbahasa daerah, bahasa asing dan bahasa Indonesia, berbasis kolaborasi lintas pengelola media cetak.

Dwi Arifin mengungkapkan Majalah Risalah NU ini memiliki keistimewaan kalau dibandingkan dengan media cetak lainnya. Misalnya jika ada lulusan MTs yang sekolah di SMK atau SMA. Maka dengan rutin membacanya dapat menjadi penghubung atau keberlanjutan ilmu yang dipelajari sebelumnya di Pesantren. Jika di pesantren, maka Majalah Risalah NU dapat menjadi sumber informasi untuk melihat berbagai program pesantren lainnya yang dinilai unggul atau terbaik.

“Selain itu, karena Majalah Risalah NU ini sering menampilkan kegiatan Ormas Islam di luar negeri dan Majalahnya tersebar ke luar negeri. Maka pembacanya dapat mengetahui perkembangan keagamaan di negara lain,”ungkapnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *