Teropong Indonesia, KOTA ClMAHI – Dinas Sosial (Dinsos) Kota Cimahi menyiapkan langkah penertiban terhadap gelandangan dan pengemis (gepeng) yang jumlahnya meningkat selama bulan Ramadan.
Upaya ini rencananya akan dilakukan setelah Hari Raya Idulfitri guna mengembalikan ketertiban ruang publik.
Kepala Bidang Rehabilitasi dan Pemberdayaan Sosial Dinsos Cimahi, Supijan Malik, mengatakan fenomena lonjakan gepeng bukan hanya terjadi di Cimahi, melainkan juga di sejumlah kota besar lainnya di Indonesia.
Menurut dia, meningkatnya aktivitas masyarakat dalam memberikan sedekah secara langsung di jalan menjadi salah satu faktor pendorong bertambahnya jumlah gepeng selama bulan suci.
“Ini menjadi dilema, karena di satu sisi ada nilai kemanusiaan, namun di sisi lain juga menyangkut ketertiban umum,” ujar Supijan, Kamis (19/3/2026).
Di sisi lain, keberadaan gepeng di sejumlah titik strategis kota dinilai menimbulkan persoalan ketertiban dan kenyamanan. Aktivitas mereka di trotoar hingga persimpangan jalan kerap mengganggu pengguna jalan sekaligus memengaruhi estetika kota.
Untuk mengatasi hal tersebut, Dinsos Cimahi terus melakukan pemantauan di lapangan serta berkoordinasi dengan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Penanganan dilakukan dengan pendekatan yang tetap mengedepankan aspek sosial.
Tak hanya penertiban, Dinsos juga akan melakukan pendataan terhadap para gepeng. Langkah ini bertujuan untuk mengidentifikasi kelompok rentan, seperti lanjut usia dan warga yang mengalami sakit.
“Mereka yang memenuhi kriteria akan diprioritaskan mendapatkan bantuan, termasuk pemulangan ke daerah asal,” jelas Supijan.
Berdasarkan hasil pemantauan sementara, para gepeng umumnya datang secara berkelompok dan hanya berada di Cimahi dalam waktu singkat sebelum kembali ke daerah masing-masing.
Sementara itu, tunawisma diketahui tidak memiliki tempat tinggal tetap dan cenderung berpindah-pindah. Mereka biasanya berkumpul pada malam hari di sejumlah titik, seperti kawasan pertokoan di Jalan Gandawijaya dan Jalan Amir Machmud.
Melalui langkah ini, pemerintah berharap dapat menjaga keseimbangan antara nilai kemanusiaan dan ketertiban kota, terutama setelah momentum Lebaran berakhir. (Gani Abdul Rahman)





